Siti Halimah
Murid MTs Sururon, Garut
Malam ini Sabtu satu Juli 2006.
Malam sangat bersejarah bagi kehidupan siswa-siswi kelas tiga.
Malam ini adalah hari kami harus berpisah meninggalkan Sururon yang sangat kami cintai. Tahun depan kami sudah tidak menikmati hari-hari penuh kebersamaan belajar di Sururon.
Tiga tahun yang silam masih teringat jelas
ketika kami anak-anak petani miskin yang lugu memasuki hari-hari belajar.
Guru-guru membimbing kami saat belajar,
belajar dengan penuh kasih sayang, tanggung jawab dan kesabaran.
Tak lama kemudian badai kekerasan menerpa desa Sarimukti:
Operasi Wanalaga Lodaya.
Separuh dari jumlah kami berhenti sekolah.
Mereka membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya.
Mereka banyak menjadi buruh,
mengais sesuap nasi orang.
Ada yang ke kota ada yang mengasuh adik kecilnya.
Mereka tidak menikmati bangku sekolah.
Suram benar masa depannya.
Kenyataan itu menggores hati kami.
Apalagi pemerintah tidak pernah peduli nasib masa depan mereka.
Menanyakan pun tidak.
Kami kelas tiga bersyukur mampu bertahan
hingga detik-detik perpisahan ini
di sekolah ini ..
Kami belajar dan mengenal diskusi.
Belajar bersikap terbuka dan demokratis.
Di sekolah ini kami mengenal evaluasi.
Ketika ada berbagai masalah kami pun belajar mencari solusi.
Sungguh berharga buat bekal kehidupan kami nanti.
Rentang waktu tiga tahun silam
masih terbayang jelas dalam ingatan .
Kami mengangkut pasir dan batu
bersama-sama guru-guru dari kali Cipandai untuk lapangan basket.
Dipikul di pundak beringinan sambil canda tawa.
Guru-guru mencarikan semen.
Dengan kerja sama akhirnya lapangan basket pun selesai.
Dalam rentang waktu itu
kami bersama masyarakat mengangkut pasir dan batu
dari sungai buat jalan.
Rentang waktu tiga tahun lalu
di sekolah ini kami melakukan pendataan masyarakat
yang terjangkit penyakit scabies.
Pernah juga diskusi dengan panitia sebelas,
panitia pemulihan kepala desa Sarimukti.
Pemulihan itu sampai sekarang belum terlaksana
dan perlu dipertanyakan.
Aksi-aksi bersama para petani:
menuntut hak-hak petani
di Jakarta dan Garut kami alami.
Di rentang waktu tiga tahun lalu.
Kami bangga ada yang mampu wawancara ke DPR kabupaten.
Ada juga yang mampu presentasi di universitas-universitas tersohor di Bandung dan Surakarta.
Kami bangga sekolah ini
pernah dijadikan contoh
badan pengembangan pendidikan berkelanjutan.
Katanya program dari perserikatan bangsa-bangsa.
Saat itu kami belajar berpartisipasi.
Terjun ke lapangan dan membuat peta observasi
dan banyak lagi kenangan lain di sekolah ini.
Kini ..
Berat rasanya berpisah meninggalkan
sekolah ini yang penuh kebersamaan,
meninggalkan guru-guru yang rela mengajar tanpa digaji
ketika pendidikan dijualbelikan
dan ketika pemerintah tidak adil
terhadap kami anak-anak miskin dalam bidang pendidikan.
Lebih berat lagi rasanya berpisah jika merenungkan
Nasib apa yang akan menimpa kami.
Tiga tahun lalu jika sekolah ini tidak ada
mungkin kami ada yang jadi buruh,
pergi ke kota atau sudah menikah.
Mungkin di antara kami tamatan SD
yang tidak bisa baca
sampai sekarang tidak bisa baca.
Kalau tidak ada sekolah ini
mungkin kami harus bayar mahal
ongkos pulang-pergi melanjutkan ke SMP terdekat.
Itu pun kalau mampu.
Kami dan orangtua serta masyarakat sangat terbantu.
Mengingat semua itu ..
Air mata pun tak sanggup kubendung lagi.
Di malam perpisahan ini ..
Guru-guruku, maafkanlah kami.
Selama tiga tahun membebanimu dan menjengkelkanmu.
Jasa-jasamu akan selalu kami ingat.
Kami tulis dengan tinta emas
dalam lembaran sejarah hidup kami.
Ya .. Kita memang harus berpisah.
Do’akanlah Siti dan kawan-kawan
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
buat bekal kembali pulang
membangun negeri tercinta ini
membangun tanah kelahiran kami.
Do’akanlah walau di perpisahan ini
tersisa pertanyaan.
Akankah ada di sekolah nanti
guru-guru yang betul-betul tanggung jawab terhadap pendidikan
seperti pak Boy yang rela seminggu tiga hari
dalam setahun seratus kali datang ke sini dari Jakarta.
Yang bertemu dengan istrinya cuma satu hari dalam satu minggu
Juga seperti pak Ince
yang rela jalan kaki ke sekolah ini
dari Panunjuk karena kehabisan ongkos.
Begitu pula pak Anas plus pak Dede
yang rela melayani kami
lès siang malam sepuluh hari sepuluh malam
Dan tidur di kelas.
Akankah ada di sekolah nanti
kebersamaan atau kehangatan dan kecerian
seperti di sekolah ini?
Biarlah kami melangkah dan menemukan jawabnya sendiri
Sekali lagi
terima kasih guru-guruku
Maafkanlah dan do’akanlah kami.**
Perpisahanku dengan Sururon
Posted in puisi by Sekolah Petani
Guru pun tidak Terima Gaji (SK Pikiran Rakyat, 2 Mei 2006)
YOSEF Nurhadiyat (14), semula tak membayangkan akan mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Maklum saja, keluarganya di Bangunkarya, Kec. Sukadana, Kab. Ciamis, sangat miskin. Jangankan untuk menyekolahkan anaknya, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja susah sekali.
Tapi Yosef bersyukur, karena di Desa Pasawahan, Kec. Banjarsari, Kab. Ciamis, telah dibuka SMP Plus. Informasi yang diterima oleh keluarga Yosef, sekolah di SMP ini gratis, tidak harus pakai seragam, tidak harus pakai sepatu. Bahkan, si anak akan ngaji dan diajari cara bertani modern buat sandaran hidup di masa yang akan datang.
"Ayah saya tetarik untuk menyekolahkan saya ke SMP Plus Pasawahan. Sehingga, dua tahun lalu saya mulai belajar di SMP ini. Ternyata senang sekali belajar di sekolah ini, tanpa dibebani biaya sepersen pun, tapi banyak manfaat yang saya rasakan," kata Yosef yang saat ini duduk di kelas dua.
Manfaatnya, selain bisa ngaji, ia juga pintar bercocok tanam, nyangkul, membuat pupuk organik dan lainnya. Termasuk, pintar main kesenian tradisional calung.
Di puncak gunung
SMP Plus Pasawahan saat ini baru dua kelas dengan jumlah murid kelas satu 25 anak dan kelas dua 37 siswa. Lokasinya berada di sebuah puncak Gunung Cipicung, yang terletak sekira 70 km dari kota Ciamis, ke selatan daerah Banjarsari. Dari Banjarsari naik ke gunung, dengan menumpuh perjalanan cukup berat.
Menurut Agustiana, Sekjen Serikat Petani Pasundan (SPP), sekolah ini dirintis mulai tahun 2003 oleh masyarakat, aktivis pergerakan dan SPP. Sedangkan, mulai menerima murid yaitu sejak tahun 2004 lalu.
Ada beberapa pertimbangan, membangun sekolah di daerah ini. Pertama, untuk memberikan kesempatan kepada anak petani miskin bisa menikmati pendidikan lanjutan setelah tamat SD. Kedua, mempersiapkan anak-anak petani terdidik dengan memiliki keterampilan tani yang baik dan modern. Sehingga, pada akhirnya mereka menjadi pelopor di desanya, dalam berbagai bidang, terutama pertanian.
"Lokasinya, kita pilih di Pasawahan, karena daerah itu paling jauh dan banyak anak-anak tidak bisa melanjutkan sekolah. Di daerah itu ada enam SD. Sebagian besar tak mampu melanjutkan, karena ke SMP sangat jauh dan juga miskin. Makanya, kita bangun sekolah di daerah itu," jelas Agustiana.
Bangunan sekolah didirikan empat ruangan, dibangun dengan cara gotong royong bersama masyarakat setempat. Sedangkan, guru yang mengajar 12 orang di antaranya, lulusan berbagai perguruan tinggi, seperti dari Univeritas Galuh, ITB, Unpad dan lainnya. Mereka sama sekali tidak diberi gaji. "Murni pengabdian," katanya.
Guru SMP Plus Saeful dan Haslinda, ketika ditemui oleh "PR" di sela-sela memberikan pelajaran, mengemukakan, siswa di sekolahnya belajar dengan lesehan. Mereka bebas menggunakan pakaian ke sekolah, baik mau pakai se-ragam atau tidak. Begitu juga, boleh beralas kaki atau sama sekali telanjang. "Namun anak-anak itu kami rangsang untuk kreatif serta berani dalam mengemukakan pendapat. Kita memosisikan derajat dengan mereka sama," kata Saeful jebolan sarjana pendidikan ini. (Undang Sudrajat/"PR")***
Posted in gaji guru by Sekolah Petani
"Bersekolah, Bertani dan Bermasyarakat"
Para murid, guru, dan para petani orangtua serta wali mereka, semuanya duduk membahas berbagai masalah bersama dalam musyawarah perencanaan pendirian SMP Plus Pasawahan, Ciamis, Jawa Barat, Juni 2003.
“Di sakola mah teu diajarkeun elmu balik.”
(=Di sekolah itu tidak diajarkan ilmu pulang.)
SEBUAH kalimat yang keluar dari Abah Saud, seorang petani dari desa Pasawahan yang terlibat aktif dalam pendirian sekolah kami. Kalimat tersebut diucapkannya waktu mengikuti musyawarah perencanaan pendirian sekolah SMP Plus Pasawahan, Ciamis, Jawa Barat, Juni 2003. Sekolah yang didirikan atas inisiatif masyarakat ini memiliki cita-cita luhur untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan jiwa dan raga dari anak-anak petani miskin di kawasan pedesaan di sekitar wilayah kami.
Yang dilakukan anak-anak di sekolah adalah belajar, tapi juga bertani di sekolah dan juga bermasyarakat dengan titik tolak dari sekolah. Sekolah “plus” ini pada dasarnya mengembangkan pendidikan yang tidak memisahkan diri dari masyarakat. Justru sebaliknya: berintegrasi di dalam lingkungan masyarakat. Sekolah hanya berarti dan “berbatas” ketika anak-anak membutuhkan ruang kelas untuk berdiskusi dan musyawarah atau ketika mereka mempelajari materi pelajaran yang membutuhkan papan tulis dan berteduh. Karenanya, seperti kata Abah Saud, tidak ada “ilmu pulang” diajarkan di sekolah. Sekolah adalah tempat di mana kami semua “pulang”. Kami sangat mencintai sekolah kami ini, seperti kami juga mencintai kampung halaman asal kami.
WAKTU belajar anak-anak mulai hari Senin s.d. Kamis pukul 08.00 s.d 15.30; Jum'at: 08.00 s.d 11.00. Evaluasi, refleksi dan perencanaan pertanian, pukul 12.45 s.d 16.00 pertanian di lahan kolektif dan individu.
Hari Sabtu dari pukul 08.00 s.d 12.00 dikembangkan kegiatan olah raga; kemudian dari jam 13.00 s.d 16.00 dilakukan pendidikan dengan model diskusi, wawancara, dan konsultasi pertanian dengan para petani.
Hari Minggu mereka membantu kegiatan pertanian wali mereka (sekaligus bapak kos), di mana mereka tinggal. Malam hari mereka mengaji di surau-surau. Apabila ada pertemuan organisasi tani terdekat (sebagai bagian dari Serikat Petani Pasundan) mereka juga terlibat aktif.
Lahan usaha tani para siswa, Juni 2006
SELAIN hal itu, di dalam kelas juga dibangun hubungan kekeluargaan di antara para siswa-siswi dan guru. Hubungan kami dengan siswa sebagai kawan bermain dan kakak, sehingga mereka tak segan-segan mengungkapkan beberapa persoalan pribadi dalam diri siswa dan meminta bantuan dalam menyelesaikannya.
Kurikulum yang kami gunakan adalah Kurrikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang ditentukan oleh dinas pendidikan. Hanya untuk materi pembiasaannya adalah pertanian dan organisasi, dengan metode partisipaitf.
Dalam seluruh metode pendidikan yang kami kembangkan ini, guru adalah orang yang memfasilitasi murid-murid dalam belajar sehingga mereka merasa nyaman, supaya kecerdasan yang dimiliki siswa berkembang. Karena setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda (tidak seragam), kami selaku pengajar tidak menyamaratakan dan tidak memaksakan anak untuk menyukai segala hal. Yang mereka pelajari tergantung kecerdasan dan minat mereka. Para guru hanya mengarahkan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Seperti halnya pendidikan di hutan rimba yang para siswanya terdiri dari harimau, kelinci, kera, burung, ikan, kucing, tidak mungkin dalam pelajaran berenang semua siswanya harus bisa berenang. Jika dipaksakan, maka sang kera, kucing, dan burung harus belajar mati-matian tanpa hasil. Malah akibatnya kera tidak akan mampu memanjat pohon dan sekaligus tidak akan bisa renang. Begitu juga kucing dan burung tidak akan bisa terbang. Itulah sebabnya mengarahkan anak pada kecerdasan yang dimiliki tidak seperti memaksa kera untuk mampu berenang, tetapi memberikan pelajaran bagaimana memilih pisang yang baik dan seterusnya … ***
Eful
Guru Pertanian dan IPA
SMP Plus Pasawahan, Ciamis, Jawa Barat
Kami tunggu komentar teman-teman sekalian.
by Sekolah Petani
Surat dari Garut: Semua Murid MTs Sururon Lulus Ujian Nasional 2006!
Dear Pembaca Weblog “Masa Depan Petani”,
Salam kenal!!
Nama saya Dede Suparman, salah seorang pengajar di MTs Sururon, Kamp Nagrog, desa Sarimukti, kecamatan Pasir Wangi, Garut. Saya juga muridnya Boy Fidro. Kurang lebih dua tahun saya mengajar pelajaran bahasa Inggris di sana. Adapun alamat lengkap saya yaitu Kamp Karikil, desa Sukatani, kecamatan Cisurupan, Garut.
Saya tahu weblog kita ini dari Bang Boy. Walaupun kita belum pernah ketemu, saya harap para pembaca weblog ini menerima salam kenal dan salam hangat saya. Semoga perkenalan ini membuahkan persahabatan yang kekal. Amin.
O ya, sekedar informasi. Kemarin Sabtu 1 Juli 2006 kami melaksanakan perpisahan kelas 3 sekaligus samenan kenaikan kelas 1 dan kelas 2. Acara perpisahan dengan kelas 3 merupakan perpisahan sekolah dalam kelulusan generasi murid-murid pertama. Alhamdulillah sekolah kami mampu meluluskan seratus persen siswa dengan hasil yang cukup memuaskan. Bahkan nilai mata pelajaran matematika yang diajarkan oleh Mas Boy mendapat predikat terbaik tingkat nasional. Ketika menginjak acara inti, baik guru atau pun murid, hampir tak ada yang tak meneteskan air mata terlebih lebih murid-murid. Kami semua saling berpelukan baik ketika di panggung maupun seketika setelah acara inti selesai dan turun dari panggung.
Selain orangtua siswa banyak pula tamu yang hadir di acara tersebut. Tamu kebanyakan adalah sahabat-sahabat sekolah yang selama ini bersimpati dan turut mendukung perkembangan sekolah kami. Mereka ada yang dari Jakarta, Bandung yaitu Pergerakan, Konsorsium Pembaruan Agraria, dari Tasikmalaya yaitu Cieceng (MTs Darul Hikmah, Cieceng, Sindangsari, Tasikmalaya), Sodong Hilir (dari Sekolah Salafiah Miftahul Huda), dari Ciamis (SMP Plus Pasawahan), Cilawu (Sekolah Salafiah Cilawu Garut). Bahkan ada yang datang dari sebuah production house (PH) di Jakarta. Mereka ingin membuat profil guru dan sekolah kami. Sebagian tamu ada yang memilih langsung pulang. Ada pula yang sampai nginap di sekolah. Semua sahabat hadir.
Rencana acara tersebut semula akan digelar selama dua malam mengingat banyaknya acara kreasi yang akan tampil. Namun karena terbentur masalah dana, acara dirampungkan dalam waktu satu malam hingga pukul dua pagi. Walaupun tak semua kreasi bisa tampil, acara yang dimulai pukul setengah sembilan malam tersebut tak kurang meriahnya. Selain ditampilkan kreasi-kreasi siswa baik berupa drama, puisi, nasyid, gebyar sholawat, dukol (beduk dan kohkol) dan lain sebagainya, turut pula dimeriahkan oleh partisipasi penampilan anak pemuda dengan dukol bodoran-nya, kosidah modern dari Sodong tasik, rebana dari Cicurug Garut. Terakhir acara ditutup dengan pemutaran film dokumenter sekolah yang merupakan hasil liputan dari Metro TV “Salam OASIS”.
Mungkin perlu teman-teman semua ketahui bahwa panitia acara perpisahan dan samenan ini ditangani oleh anak-anak yang telah mereka tunjuk. Sebagian besar adalah siswa kelas tiga. Seminggu sebelum acara di aksanakan, mereka berulang kali mengadakan rapat persiapan acara tersebut. Hasil rapat menyatakan terbentuknya sebuah panitia. Di antaranya: panitia konsumsi, peralatan panggung, acara, kebersihan. Namun dikarenakan siswa tak mungkin menangani semua acara hingga beres, maka guru-guru dan orangtua mendiskusikan hal ini. Orang tua juga ikut ambil bagian membantu mereka. Bersama siswa bekerja melakukan tugas ini.
Teman-teman pembaca blog yang baik,
Hanya sampai di sini dulu perkembangan sekolah perjuangan ini. Lain kali sambung kembali dengan info-info yang lainnya.Mungkin itu hanya sepercik info yang dapat saya sampaikan. Satu harapan saya kepada teman-teman sekalian bahwa perkenalan dan persahabatan kita akan lebih erat dengan hadirnya surat ini. Saya do’akan semoga teman-teman sekalian ada dalam lindungan Tuhan dan mendapat berkah dari aktivitas-aktivitas yang teman-teman semua lakukan. Amin.
Jabat erat,
Dede Suparman
NB: Balas ya email dari saya ini. Terimakasih banyak.
Posted in gerakan-sosial by Sekolah Petani
PENATAAN PRODUKSI SEBAGAI PENGEMBANGAN USAHA DAN MEDIA BELAJAR
SMP Plus Pasawahan adalah sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak petani yang tidak mampu. Sekolah ini memiliki kekhasan --karenanya ini jadi identitasnya-- yaitu pendidikan pertanian dan pendidikan organisasi petani. Kami telah membuka sekolah ini sejak dua tahun lalu. Menginjak tahun ketiga ini materi pertanian lebih dikembangkan lagi selain sebagai media belajar pertanian praktis. Materi ini juga menjadi sarana pengembangan usaha dan analisa usaha di bidang pertanian.
Adapun usaha tani yang telah berjalan, yaitu:
1. bercocok tanam ketimun dan kacang panjang
2. peternakan kambing
3. persemaian
Kami menanam ketimun dan kacang panjang di areal tanah seluas 50 bata (~900 batang ketimun, 200 batang kacang panjang). Saat ini ketimun sudah berbuah dan diperkirakan dalam waktu 10 hari akan kami panen. Hasilnya penjualannya akan digunakan untuk modal berikutnya penanaman cabai keriting dan tomat, juga pembelian peralatan bertani.
Saat ini kami juga sudah memiliki kambing yang kami pelihara dalam kandang berukuran 2x5 meter. Kami baru mempunyai dua ekor kambing betina dan satu ekor jantan.
Untuk persemaian sebagian besar sudah kami tanam di lahan sekolah. Antara lain 1.000 batang kopi, 2.000 batang pohon albasia 1.000 batang jati, 350 batang buah-buahan (mangga, nangka omas, durian, petai, jengkol, air mata dewa, sirsak, alpukat, kelapa, sukun) dan beberapa jenis buah-buahan lainnya. Semuanya itu dikerjakan oleh siswa bersama dan guru-guru.
Mengapa usaha produksi yang kami kembangkan berupa pertanian? Sebab, pada awal pendirian sekolah, kami memiliki tujuan yaitu:
1. mendidik anak-anak petani menjadi kader-kader pemimpin di desanya masing-masing,
2. mendidik anak dalam pengembangan pertanian organik yang ramah lingkungan
3. memiliki kepekaan sosial dan kecintaan terhadap petani.
Artinya, setiap anak yang selesai menempuh pendidikan di sekolah ini memiliki kemampuan survive untuk tinggal dan mengembangkan desanya, dan tidak menjadi urban di kota. Untuk itu bahan pelajaran mencapai kemampuan bertani merupakan materi yang diajarkan baik secara formal di dalam kelas sebagai suatu bentuk perencanaan usaha tani. Diskusi-diskusi persiapan menanam juga dilakukan bersama orang tua angkat (bapak kos yang selama ini mendukung kami).
Materi pertanian ini belum bisa secara khusus dibimbing langsung oleh guru yang memiliki pengetahuan di bidang pertanian melainkan oleh guru biologi dan sejarah. Ini memang keterbatasan kami. Karenanya ini kami melibatkan langsung petani dari desa Pasawahan untuk membagikan pengalamannya kepada para siswa. Kami juga mengundang kawan-kawan siapa saja yang memiliki pengetahuan di bidang pertanian untuk datang dan mengejar meskipun hanya sebagai pengajar tamu.***
Posted in ekonomi by Sekolah Petani






