2007-06-16

Pak Kuham dan Balok-balok Kayu Para Orangtua Murid












Tampak pada foto ini Pak Kuham, seorang relawan dari desa di sekitar SMP Plus Assururon. Namanya desa Nagrog, yang mengordinasikan bantuan balok-balok kayu. Pak Kuham sangat sadar pentingnya sekolah dan pendidikan untuk anak-anak. Maka ia meluangkan waktunya untuk mengurus sumbangan-sumbangan kayu dari para orangtua murid.

Para orangtua tidak ditarik sepeser uang pun oleh pihak penyelenggara sekolah istimewa ini, jusstru karena menyadari keterbatasan-keterbatasan sumber-sumber yang ada di pedesaan. Pada gilirannya para orangtua murid yang umumnya para petani miskin itu dengan kerelaan hati malah menyumbangkan balok-balok kayu yang harganya sangat mahal. Mereka bersepakat untuk menyumbangkan dua batang kayu balok untuk mendukung pendirian kelas belajar bagi anak-anak mereka yang belajar di sekolah ini.

Di antara kayu yang disumbangkan adalah balok kayu putih, yang beraroma segar itu. Kayu putih adalah kayu istimewa yang kuat dan anti-rayap.

Read More...

Kaos Cantik untuk Para Sahabat Sekolah ..



Rancangan grafis untuk kaos-kaos ini diperuntukkan bagi para Sahabat Sekolah Assururon. Cantik. Mendidik. Membawa Pesan-pesan Kehidupan.

Yang berminat untuk mendapatkannya, dapat menghubungi Boy Fidro di HP: 0818987067 pada hari-hari kerja. Dengan mendapatkan kaos cantik ini, para Sahabat membantu perkembangan dan kemajuan nasib para anak desa yang sangat miskin dan terpencil seperti SMP Plus Assururon di Garut, SMP Plus Pasawahan di Ciamis, SMP Plus Darul Hikmah di Tasikmalaya.

BURUAN! JANGAN SAMPAI KEHABISAN.

Read More...

2007-06-13

Teddy Rahman Tomansa: Dari Rocker Jadi Guru Anak Petani Miskin

SUDAH setahun belakangan ini SMP Plus Assururon ketambahan satu orang pendamping lagi. Kali ini, sama dengan pendahulu yang sampai sekarang terus bertahan, yaitu pak guru Ridwan “Ince” Syaifullah, mantan rocker dari Garut, Jawa Barat. Teddy Rahman Tomansa, lahir 1975 (Caption foto: Teddy [kiri] dan Ince [kanan]).

Sebenarnya sampai sekarang pak guru Teddy ini masih tetap bertahan menjadi rocker freelance, berbasis di kota Garut. Tapi persahabatannya yang berlangsung lama dengan Ince sewaktu ramai-ramainya ngerock tahun 1990an “mempertobatkannya” jadi pendamping para murid Assururon.

Ince sendiri tidak serta-merta mendapatkan kembali sobat karibnya yang sembari ngerock secara non-komersial bergulat menghidupi dirinya dan keluarganya dengan berbagai usaha itu, termasuk jadi sopir seorang kiai dan bisnis cetak-mencetak skala kecil. Ince membujuk dan merayu Teddy dengan berbagai macam cara. Bagaimana strategi Ince merayu Teddy?

Salah satunya adalah mengundang dan meminta Teddy untuk menyanyi “satu lagu saja” untuk anak-anak dalam acara pesta kelulusan di desa yang jauhnya sampai 25 kilometer menanjak di lereng gunung Papandayan, Jawa Barat ini. Tapi kemudian Ince memintanya juga untuk mengurusi lima buah komputer (hanya empat yang berfungsi) untuk kegiatan belajar anak-anak Assururon. Teddy tertegun dan tidak bisa mengatakan tidak. Inilah hebatnya karisma Ince. Bukan sahabat sembarang sobat. Dan masih banyak cara lain yang ditempuh Ince untuk membuat Teddy tetap bertahan.

Sekarang Teddy untuk dipasrahi mengajar selama dua hari dari seminggu. Padahal dalam hati Teddy, ia merasa punya latar belakang pendidikan dan pengalaman jadi guru di mana pun tidak pernah .. Atas dasar apa saya berhak jadi guru, kata dan tanyanya terus-menerus di dalam hati. Tapi tekadnya dan persahabatannya serta usikan hati yang terus bergema dalam hatinya barangkali yang membuatnya bertahan jadi pendamping di sekolah petani miskin ini.

Teddy sendiri “mendapatkan” gadai sepeda motor “gratis” dari rekan kerjanya di Garut. Dan dapatan sepeda motor itu dipandangnya sebagai berkah dari Atas yang mendorongnya tetap bertahan jadi guru dan mengelola kegiatan usaha “Saunggawe”, terutama dari kalangan para guru di sekolah rakyat ini.

“Saya belum tentu bisa bertahan di sini.” Inilah pengakuan jujurnya setelah mengenal lebih dalam lagi prinsip kesukarelaan dan perjuangan yang ditempuh para pendamping di Assururon. Prinsip "sukarela" inilah yang justru secara khusus telah menjamin keutuhan dari pembentukan sekolah ini secara terus-menerus, tak terkecuali jatuh bangun, datang pergi, hadir dan mangkirnya para pendamping anak-anak murid Assururon. Selamat Ted! Terus berjuang demi "kemerdekaan" itu!

Read More...

2007-06-09

Update pendirian klas baru Assururon

PEMBANGUNAN klas baru untuk SMP Plus As-Sururon sampai 6 Juni 2007 sudah berjalan sembilan hari. Mereka menargetkan sebelum tahun ajaran baru gedung ini sudah berdiri dan bisa segera dipakai untuk menampung murid-murid baru. Keadaan sebelumnya bisa teman-teman lihat di posting Solidaritas Kebersamaan ini.

Sementara, tenaga kerja semuanya merupakan uluran tangan dari orangtua dan masyarakat desa setempat. Ada bisa melihat sebagian dari mereka tampak dalam foto di samping ini. Semua yang bekerja untuk membangun gedung ini melakukannya dengan sukarela. Mereka memberikan waktu untuk bekerja membangun dan menyediakan bahan-bahan yang tersedia di desa. Di antaranya adalah kayu-kayu yang dibutuhkan untuk membentuk gedung "rumah panggung" ini.

Para pendiri lembaga pendidikan ini berpendapat bahwa arsitektur rumah panggung dan bahan-bahan kayu akan mengefisienkan pemanfaatan tanah yang sangat mahal harganya. Di bagian bawah dari gedung ini, seperti klas-klas lain yang telah dibangun, akan menjadi kolam ikan: suatu kebiasaan yang umum dimiliki oleh masyarakat Jawa Barat -- rumah di mana kolam ikan menjadi bagian.

Namun pendiri Assururon bersikap lebih tegas lagi karena kolam ikan itu tidak berada di belakang rumah, namun persis di bawah rumah. Sementara bahan-bahan kayu akan membuat iklim di dalam rumah menjadi tetap hangat. Suhu hangat lebih cocok untuk desa Sarimukti yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas lain yang dingin itu. Anak-anak menjadi lebih kerasan belajar di dalam klas.

Namun, sayangnya, tanah di mana didirikan klas baru ini sebenarnya adalah tanah yang selama ini digunakan oleh anak-anak untuk belajar praktik pertanian. Para siswa kini kehilangan lahan latihan. Memang tak ada pilihan lain, karena harga tanah sangat tinggi, maka tempat praktik pertanian ini terpaksa dikorbankan. Kepemilikan tanah yang begitu sempit untuk Assururon sampai sekarang belum terpecahkan.

Banyak pihak telah membantu sehingga pendirian klas baru ini mungkin dilaksanakan. Namun, tampaknya untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan latihan kegiatan pertanian sampai sekarang belum terjamin. Kemungkinan yang dilihat untuk menyelesaikan masalah ini adalah memohon bantuan dan dukungan dari segenap warga masyarakat untuk menyumbangkan sebagian dari keperluan hidupnya. Suatu bentuk luasn tanah yang mencukupi kiranya sangat dibutuhkan oleh para siswi-siswa untuk tempat latihan tersebut.

Read More...

2007-06-08

Sudahkah kita merdeka?

Oleh Sata Euis Parida

Lima puluh sembilan tahun lamanya kita bebas
dari jajahan kolonialisme tetapi kebanyakan warga bangsa kita tetap saja
petani-petani yang tidak bisa menggarap tanah
sementara anak-anak jalanan ada di setiap sudut

Kemerdekaan bagi petani belum ada
Hak petani masih dipertanyakan
Keadilan bagi petani masih disamarkan
Katanya kita sudah merdeka, tetapi ...

Mana? Mana buktinya kita merdeka?
Bukankah yang terjadi adalah
petani diasingkan di negerinya sendiri?
Haruskah berapa lama lagi kami menunggu?

Menunggu kemerdekaan itu
Kemerdekaan yang sesungguhnya, yang pasti dan penuh kedamaian
Dan harus berapa lama lagi kami menunggu
Menunggu seorang pemimpin yang peduli
Peduli pada negeri dan rakyatnya sendiri

Dan apakah mungkin kami tidak akan mempunyai
seorang pemimpin dan kemerdekaan yang jelas
serta sesuai dengan apa yang dinamakan dengan 'merdeka' itu

Dan apakah kami harus jadi gelandangan di negeri sendiri dan di rumah kami sendiri?
Semua ini tidak adil dan tidak berperikemanusiaan

Dan ceritera ini akan menjadi saksi bisu dari sebuah sejarah ..

Read More...

2007-06-07

Enam Sekawan Klas 1 Assururon

Dari kiri ke kanan: (1) Siti Halimah dan (2) Marhamah, keduanya dari desa Jenggel, Pasirwangi, Garut; (3) Fitri Handayani dari desa Nagrog, Joglo, Pasirwangi, Garut; (4) Hidayanti, (5) Lina Mardina, dan (6) Rosita; ketiga dara yang terakhir ini dari desa Citorondo, Pasirwangi, Garut.

Foto ini diambil 6 Juni 2007 di halaman sekolah-pesantren SMP Assururon, Sarimukti, Pasirwangi, Garut, Jawa Barat, setelah para siswa melakukan drilling latihan menghadapi ujian.

Read More...

2007-06-06

Ujian asli ..

Ini adalah contoh latihan ujian asli yang dikembangkan sendiri oleh para guru di SMP Plus Assururon. Contek-mencontek dan korupsi para guru atas jawaban ujian yang banyak sekali terjadi di mana-mana di Indonesia jauh di luar pikiran dan praktik belajar-mengajar di Assururon. Maka, tak heran mengapa siswi dan siswa di sekolah ini untuk matematika meraih prestasi sampai mencapai nilai-nilai rata-rata 8,3 pada ujian nasional 2006.

Para Sahabat Sekolah sudah sangat sadar perjuangan jalan pendidikan yang ditempuh di Assururon ini. Apakah tak mengherankan bahwa sekalipun begitu terpencil dan terpelosok di pedalaman Jawa, miskin dan tertindas, anak-anak dan para orangtua mereka --yang jelas semuanya petani tak bertanah itu-- berjuang mati-matian untuk jadi pintar dan diakui.

Kini Assururon sudah bisa menjalankan ujian sekolah sendiri. Dari segi pendidikan dan pelaksanaan ujian nasional sekolah terpencil ini sudah diakui akreditasi pemerintah. Banyak sekolah lain di sekitar wilayah Garut ini sekarang ikut menempuh ujian di Assururon.

Padahal bukankah sesungguhnya bagi mereka yang bersungguh-sungguh mau belajar, akreditasi apa pun itu tak diperlukan. Kontras memang.

Read More...