related_results_labels({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422"},"updated":{"$t":"2009-11-27T19:41:29.056+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Masa Depan Petani"},"subtitle":{"type":"html","$t":""},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/posts/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/-/pertanian+alami?alt\u003djson-in-script\u0026max-results\u003d10"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/search/label/pertanian%20alami"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"},{"rel":"next","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/-/pertanian+alami/-/pertanian+alami?alt\u003djson-in-script\u0026start-index\u003d11\u0026max-results\u003d10"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"22"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"10"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-6640784869579476887"},"published":{"$t":"2009-08-29T18:50:00.005+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-30T02:43:26.236+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Pertanyaan dari Ferry Manangkalangi"},"content":{"type":"html","$t":"Kami terbitkan email yang dilayangkan kepada kami dari rekan Ferry Manangkalangi.\u003cbr /\u003e\u003cblockquote\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);\"\u003eSelamat sore.. saya mau bertanya bagaimana caranya mengukur ph tanah dengan kertas lakmus? terus apakah kita bisa tahu berapa besar keasaman tanah yang kita ukur secara kuantitas?\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);\"\u003eTerima kasih atas pencerahannya...\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);\"\u003eSalam,\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic; color: rgb(204, 0, 0);\"\u003eFerry\u003c/span\u003e\u003c/blockquote\u003eTerimakasih atas pertanyaannya ..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTapi, jawabnya apa ya? Barangkali perlu kita periksa lagi \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003esih \u003c/span\u003eapakah ada kertas lakmus yang lebih canggih. Tempo hari kami hanya membeli kertas lakmus seharga Rp55ribu di sebuah toko kimia, tapi bisa dipakai oleh dan berguna untuk banyak petani. Kami tukar-menukar, saling bantu \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003egitulah\u003c/span\u003e.\u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eNah, kertas lakmus sederhana itu memang tak ada keterangan kuantitasinya. Tapi dari perbedaan warna yang timbul setelah kami terapkan kertas lakmus itu pada segenggam tanah dari lahan yang kita periksa, kita bisa mengetahui derajat keasaman dan kebasaannya. Kalau ingin persis sampai ke detil angkanya, \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eya \u003c/span\u003ebuat kami para petani, untuk apa kegunaannya? Tanaman kiranya tak serewel seperti para guru kimia kita \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003ekok \u003c/span\u003e..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSilakan bereksperimen ..\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-6640784869579476887?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/6640784869579476887/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d6640784869579476887\u0026isPopup\u003dtrue","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6640784869579476887"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/6640784869579476887"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/08/pertanyaan-dari-ferry-manangkalangi.html","title":"Pertanyaan dari Ferry Manangkalangi"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-743922617304747024"},"published":{"$t":"2009-06-10T08:58:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-31T22:11:21.754+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Produksi etilen di dalam tanah (2)"},"content":{"type":"html","$t":"Pertanyaannya sekarang: Bagaimana oksida besi itu memicu terbentuknya etilen dalam tanah? Bentuk zat besi ini bereaksi dengan suatu ‘prekursor’ dari etilen yang sudah terdapat di dalam tanah. Dalam hal ini terjadi suatu reaksi yang kemudian menghasilkan terlepaskannya etilen. Penelitian kami membuktikan bahwa prekursor ini berasal dari tanaman itu sendiri; dan yang lebih penting adalah bahwa prekursor ini hanya (mampu) berakumulasi sampai ke suatu jumlah yang banyak [melulu] pada daun-daun yang telah jadi tua dari tanaman tersebut. Ketika daun-daun tua ini jatuh ke tanah dan membusuk, jumlah prekursor itu di dalam tanah jadi meningkat. Kemudian, jika keadaannya cocok untuk terjadinya mobilisasi oksida besi, etilen kemudian diproduksi atau dihasilkan.\u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami juga telah membuktikan bahwa berbagai spesies tanaman memiliki kuantitas yang berbeda dalam banyaknya jumlah prekursor yang kemudian terakumulasi ketika daun-daunnya menua. Hal ini penting diketahui supaya kita bisa memilih jenis spesies tanaman yang tepat digunakan sebagai tanaman-tanaman penutup tanah untuk meningkatkan kemampu tanah-tanah pertanian memproduksi etilen. Beberapa spesies tanaman yang menghasilkan konsentrasi tinggi untuk jumlah prekursornya adalah padi, phalaris, bunga krisan, avokat, bullrush, pinus radiata. Yang rendah hasil prekursornya adalah Dolichos, paspalum, lucerne dan bracken fern (pakis).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJika kita lihat lagi, tidaklah terlalu mengherankan bahwa prekursor etilen hanya dapat berakumulasi pada daun-daun tua yang mati. Dalam dunia alamiah dari tanaman, daun-daun tua yang mati itu adalah, jika dikumpulkan, berupa gundukan daun kering yang berasal dan jatuh dari pohon ke atas tanah. Begitu pula kita tahu bahwa dalam kebiasaan pertanian kebanyakan daun-daun tua itu dirontokkan dan disingkirkan dari lahan ketika panen atau dengan cara memangkas atau dengan cara membakar sisa-sisa panen. Itulah sebabnya mengapa kemudian tanah-tanah pertanian biasanya jadi miskin dengan prekursor ini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBenang merahnya, sekarang kita bisa mengidenfikasi bagaimana caranya agar keadaan tanah memenuhi persyaratan agar dapat memproduksi etilen, yaitu (1) pertama-tama harus ada kegiatan mikrobial aerobik yang intensif, setidak-tidaknya pada bagian perakaran, untuk mamastikan terbentuknya suatu bentuk mikrositus anaerobik yang tidak ada zat-asamnya; (2) keadaan pada bagian mikrositus haruslah cukup tereduksi [kekurangan zat-asam] agar dapat memobilisir oksida besi yang akan memicu produksi etilen; (3) konsentrasi nitrogen-nitrat dalam tanah harus dijaga agar hanya sejumlah sedikit, agar kandung zat besi ferrous dapat diangkut; (4) harus terdapat suatu cadangan prekursor etilene yang jumlah yang memadai.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003eBERSAMBUNG\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-743922617304747024?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/743922617304747024/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d743922617304747024\u0026isPopup\u003dtrue","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/743922617304747024"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/743922617304747024"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/produksi-etilen-di-dalam-tanah-2.html","title":"Produksi etilen di dalam tanah (2)"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-8032360973437256488"},"published":{"$t":"2009-06-06T08:33:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2009-06-07T03:16:13.217+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Diagram Siklus Zat Asam dan Etilen"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ctable style\u003d\"width:auto;\"\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd\u003e\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.co.id/lh/photo/jFLIIBtl6MyZ9uGahsQgdw?feat\u003dembedwebsite\"\u003e\u003cimg src\u003d\"http://lh4.ggpht.com/_VnTws529siE/Sik60MeWBuI/AAAAAAAAAa0/_rg3qYDXumk/s288/Etilen%20K%20jpg.jpg\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd style\u003d\"font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right\"\u003eFrom \u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.co.id/masadepanpetani/PertanianAlamiNaturalFarming?feat\u003dembedwebsite\"\u003ePertanian Alami - Natural Farming\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003c/table\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMohon di-klik gambar di atas ini untuk dapat membaca keterangan-keterangannya secara lebih jelas ..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSumber:\u003cbr /\u003e\u003ca href\u003d\"http://books.google.com/books?id\u003d9IdNJ1CV8W4C\u0026amp;pg\u003dPA96\u0026amp;lpg\u003dPA96\u0026amp;dq\u003dThe+oxigen-ethylene+cycle\u0026amp;source\u003dbl\u0026amp;ots\u003dMdXy0PclFK\u0026amp;sig\u003dB4-60kEkwEy1IET3Ygrzt3JIjJM\u0026amp;hl\u003den\u0026amp;ei\u003dvRIpSoC8IaTe6AOx_4T0CA\u0026amp;sa\u003dX\u0026amp;oi\u003dbook_result\u0026amp;ct\u003dresult\u0026amp;resnum\u003d1#PPA99,M1\"\u003ePaul W. Syltie, \u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eHow Soils Work\u003c/span\u003e, hlm.99\u003c/a\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-8032360973437256488?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/8032360973437256488/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d8032360973437256488\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8032360973437256488"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8032360973437256488"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/diagram-siklus-zat-asam-dan-etilen.html","title":"Diagram Siklus Zat Asam dan Etilen"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://lh4.ggpht.com/_VnTws529siE/Sik60MeWBuI/AAAAAAAAAa0/_rg3qYDXumk/s72-c/Etilen%20K%20jpg.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-2411587105953836450"},"published":{"$t":"2009-06-05T08:43:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-31T22:12:43.610+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Produksi etilen di dalam tanah (1)"},"content":{"type":"html","$t":"Penelitian kami memperlihatkan bahwa etilen (\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eethylene\u003c/span\u003e), suatu senyawa sederhana berbentuk gas, dihasilkan di 'daerah' mikrositus anaerobik tersebut. Lebih dari itu, etilen ini berfungsi mengatur kegiatan mikro-organisme tanah, dan sedemikian rupa mempengaruhi rasio kecepatan pembusukan bahan-bahan organik, daur nutrisi tanaman dan timbulnya penyakit tanaman. Konsentrasi etilen dalam atmosfer tanah jarang dapat mencapai satu sampai dua bagian per satu juta satuan. Etilen tidak bertindak dengan cara membunuh mikroorganisme tanah, tetapi dengan cara menidakaktifkannya secara sementara – ketika konsentrasi etilen menurun dalam satuan gelungnya. Mikroba-mikroba kemudian mulai aktif bergiat.\u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eEtilen tanah dihasilkan dalam bentuk yang kita sebut sebagai “SIKLUS ZAT ASAM DAN ETILEN' (\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eoxigen-ethylene cycle\u003c/span\u003e). Pada awalnya, mikroorganisme tanah menjadi banyak dalam bentuk zat-zat yang dikeluarkan dari akar-akar tanaman dan kegiatan itu mengakibatkan berkurangnya kandungan zat asam dari dalam tanah pada bagian-bagian mikrositus. Etilen kemudian diproduksikan dalam mikrositus-mikrositus itu dan dikeluarkan, sambil menonaktifkan kegiatan tanpa membunuh mikroorganisme tanah. Ketika semua ini terjadi keperluan zat asam berkurang sehingga zat asam itu dihembuskan kembali ke bagian mikrositus. Hal ini menghentikan atau sangat menurunkan produksi etilen, yang memampukan mikroorganisme tanah memulai kegiatannya. Adalah sangat baik dan bermanfaat bagi tanaman jika produksi etilen ini dipastikan terjadi sehingga perlu ditemukan cara-cara agar siklus ini bisa terulang secara terus-menerus.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam keadaan tanah yang tak terganggu —seperti karena pembajakan— selayaknya yang terjadi di tengah hutan dan di kawasan padang rumput, etilen dapat secara terus-menerus dideteksi keberadaannya di dalam atmosfer tanah. Ini adalah suatu tanda bahwa perputaran zatasam-etilen terus terjadi secara efisien. Sebaliknya, pada kebanyakan tanah pertanian, konsentrasi etilen sangat sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. 'Perputaran zatasam-etilen' ini hanya dapat berlangsung jika etilen memainkan peranan penting dalam mengatur kegiatan mikroba di dalam tanah. Sudah sangat kita fahami dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam suatu ekosistem yang tak terganggu di mana terjadi suatu proses pembusukan secara seimbang dan lambat, daur nutrisi tanaman yang efisien dan penyakit tanaman yang ada di dalam tanah menjadi tidak penting sama sekali untuk diperhatikan. Ketika ekosistem ini terganggu karena penggunaan hutan untuk pertanian, situasinya jadi sangat berubah. Terjadi suatu kemerosotan yang mencemaskan dalam jumlah bahan-bahan organik tanah, sehingga keadaan kurang pangan pada tanaman menjadi sangat biasa dan penyakit tanaman meningkat drastis. Kita kemudian mencoba mengatasi masalah-masalah ini dengan menambahkan pupuk-pupuk tak-organik dan penggunaan pestisida kimiawi, yang ternyata jadi sangat menaikkan biaya produksi. Bukankah pada umumnya yang terjadi dalam kenyataan adalah bahwa semakin lama kita membudayakan tanah, akan semakin banyak input yang diperlukan untuk mempertahankan hasil panen.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami berpendapat bahwa keadaan ini dapat dibalik atau dikembalikan ke keadaan semula, setidaknya sebagian, jika kita dapat menciptakan keadaan yang sesuai dan diperlukan untuk memproduksi etilen di dalam bentuk keadaan tanah yang tak terganggu. Kita sekarang tahu bahwa salah satu sebab utama mengapa tanah-tanah pertanian yang terus diganggu atau dibajak itu gagal memproduksi etilen adalah karena teknik-teknik yang kita kembangkan ternyata  menimbulkan perubahan bentuk nitrogen di dalam tanah. Di dalam tanah-tanah yang tak diganggu, seperti di bawah hutan atau padang rumput, pada umumnya semua nitrogen yang ada berada dalam bentuk ammonium ditambah sedikit unsur mikro nitrogen-nitrat. Jika ekosistem ini diganggu karena kepentingan pertanian, pada akhirnya nitrogen tanah tampil dalam bentuk nitrat. Perubahan ini terjadi karena gangguan yang terkait dengan operasi pertanian itu merangsang kegiatan suatu kelompok tertentu dari bakteri yang mengubah nitrogen ammonium menjadi nitrogen-nitrat. Tanaman dan mikro-organisme dapat menggunakan kedua bentuk nitrogen itu, tetapi penelitian kami jelas membuktikan bahwa produksi etilen di dalam tanah jadi terhambat ketika jumlah bentuk nitrat itu melebihi suatu jumlah satuan mikro (\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003etrace amount\u003c/span\u003e). Nitrogen ammonium tidak memiliki suatu efek menghambat terhadap produksi etilen.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003eBERSAMBUNG\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-2411587105953836450?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/2411587105953836450/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d2411587105953836450\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2411587105953836450"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/2411587105953836450"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/produksi-etilen-di-dalam-tanah-1.html","title":"Produksi etilen di dalam tanah (1)"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-9081490751758351614"},"published":{"$t":"2009-06-03T09:42:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-31T22:13:26.407+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh Robyn Francis\u003cbr /\u003ePendiri dari \u003ca href\u003d\"http://permaculture.com.au/central/index.php?option\u003dcom_content\u0026amp;view\u003dfrontpage\u0026amp;Itemid\u003d100001\"\u003eDjanbung Garden Permaculture Education\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cdiv\u003eTulisan ini kami terbitkan atas ijin penulisnya. \u003e \u003ca href\u003d\"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/05/ijin-dari-robyn-francis.html\"\u003eLihat kutipan surat penulisnya\u003c/a\u003e.\u003c/div\u003e\u003cdiv\u003e\u003cbr /\u003eInteraksi mikroba dalam tanah memegang peranan kunci dalam mengendalikan penyakit tanaman secara biologis, pembusukan bahan-bahan organik, dan daur bahan-bahan makanan pokok untuk tanaman. Jika kita memahami mekanisme ini dengan baik, maka kita dapat menemukan suatu metode yang lebih efisien untuk menanam tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman kebun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTetapi, sebelum kita membahas interaksi ini, pentinglah kita tegaskan kedudukan khas dari tanaman dalam ekosistem mana pun. \u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003eTanaman adalah satu-satu organisme hidup yang mampu secara langsung menggunakan tenaga matahari dan dalam proses ini tanaman mengubah tenaga matahari itu menjadi bentuk-bentuk (tenaga) lain yang bermanfaat untuk makhluk-makhluk hidup. Pigmen hijau atau klorofil yang terdapat pada daun tanaman menangkap tenaga cahaya matahari dan kemudian terjadi suatu interaksi di dalam daun dengan bantuan gas karbon dioksida yang terdapat dalam atmosfer yang menghasilkan senyawa-senyawa karbon yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk hidup yang lain, termasuk manusia, binatang, serangga dan jutaan mikro-organisme ketika makhluk-makhluk itu memakan tanaman atau sisa-sisa tanaman.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMeskipun tanaman memiliki kemampuan khas menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi yang diperlukan untuk tumbuh, untuk bermetabolisme dan menghasilkan bunga serta buah, tanaman juga memerlukan materi-materi lain yang tidak dapat dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Misalnya, tanaman memerlukan berbagai anasir, termasuk nitrogen, fosfor, belerang, kalsium, magnesium, potassium dan anasir mikro lainnya. Tanah adalah ‘tempat penampungan’ dari semua anasir itu, tetapi untuk mendapatkan pasokan yang memadai, tanaman harus mengubah lingkungannya di sekitar perakarannya agar dapat memobilisirnya. Cara yang paling penting yang dilakukan oleh tanaman untuk mencapai kemampuannya ini adalah dengan merangsang kegiatan mikroorganisme di dalam tanah yang berada di sekitar akar-akar dan kemudian mikroba-mikroba itu meningkatkan pengangkutan sari-sari makanan. Tanaman merangsang kegiatan mikroba dalam tanah dengan memberikan tenaga kimiawi dalam bentuk cairan akar dan kotoran-kotoran yang dikeluarkan dari perakaran. Sayangnya, dalam banyak metode konvensional yang diterapkan dalam pertanian, hubungan-hubungan ini dirusak sehingga timbul masalah tak lancarnya pengangkutan sari-sari makanan ke dalam tubuh tanaman dan menimbulkan penyakit tanaman.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePenelitian muta’akhir  menunjukkan bahwa selama suatu tanaman hidup dan berkembang sebanyak 25 persen tenaga kimia yang dihasilkan dari daun-daun dalam bentuk senyawa-senyawa karbon ternyata hilang masuk ke dalam tanah di sekitar perakaran. Materi ini hilang entah dalam bentuk cairan akar atau sel-sel tanaman yang layu lalu mati. Tanaman telah bersusah payah menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi, tetapi kemudian seperempat tenaga itu hilang ke dalam tanah! Apakah bukan suatu kesia-siaan? Bagaimana memahami hal semacam ini? Salah satu pandangan menyatakan bahwa tak ada di dalam alam ini suatu ciptaan yang sepenuhnya sempurna, karenanya dapat dikatakan bahwa akar-akar tanaman itu bocor dan kebocoran itu tak terelakkan. Saya tak setuju dengan pemahaman ini. Sebab, jika suatu sistem makhluk hidup itu ternyata ‘bocor’ sampai memboroskan seperempat tenaga yang dihasilkan, maka masalahnya tentu terletak pada tingkat bagaimana tenaga itu dihasilkan atau diproduksikan. Tentunya ada suatu hal yang salah pada tingkat produksi. Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian. Konsekuensinya, tak dapat dikatakan lain bahwa tenaga (yang hilang) itu mestinya (telah) dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk-makhluk lain yang ada di sekitar perakaran, yaitu mikroorganisme. Jika tidak, mestinya evolusi sudah akan menghasilkan suatu seleksi tanaman menuju ke jenis-jenis tanaman yang lebih mampu bertahan dalam keadaan kekurangan tenaga.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBagaimana masalah hilangnya tenaga kimiawi tanaman ini dapat difahami? Bagaimana tanaman ternyata masih dapat mendapatkan manfaat dari situasi kehilangan tenaga ini? Yang paling penting dipegang di sini adalah bahwa senyawa-senyawa itu menjadi sumber energi bagi mikroorganisme yang banyak terdapat di sekitar daerah perakaran (\u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erhizosphere\u003c/span\u003e). Mikroorganisme ini berkembang biak secara cepat sehingga menghabiskan banyak zat asam di dalam tanah dalam ukuran yang sangat banyak yang berada di sekitar \u003cspan class\u003d\"Apple-style-span\" style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erhizosphere\u003c/span\u003e. Di situ terbentuklah suatu mikro-situs anaerobik yang tak lagi mengandung zat asam. Terbentuknya mikrositus anaerobik ini memegang peranan penting sehingga tanaman dapat menjadi sehat dan kuat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-9081490751758351614?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/9081490751758351614/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d9081490751758351614\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/9081490751758351614"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/9081490751758351614"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/interaksi-mikroba-dalam-tanah-dan.html","title":"Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-1122453894909245492"},"published":{"$t":"2009-06-01T08:16:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-31T22:14:05.800+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"guru"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Pendapat  Pakar Tanah Alan Smith"},"content":{"type":"html","$t":"Teman-teman, sebelum sajian tulisan dari Robyn Francis tentang \"Tanah yang Hidup\", Jurnal Permakultur Internasional mengetengahkan pendapat \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003equot unquot\u003c/span\u003e dari ilmuwan tanah bernama Alan Smith dari Universitas New South Wales, Australia. Ia menjabat sebagai ilmuwan peneliti utama di Fakultas Pertanian di univesitas tersebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSmith berangkat dari pertanyaan seseorang yang tak mengerti mengapa lahan pertanian tak perlu dibajak supaya tanaman jadi subur. Praktik tak membajak itu sendiri telah dilakukan oleh petani-peneliti lain sebelumnya seperti Fukuoka-san dari Jepang yang tersohor itu. Tapi Fukuoka-san kurang menjelaskannya dengan gamblang dari sisi ilmu tanah, sehingga masih banyak orang yang mempertanyakan, bagaimana mempertanggungjawabkan praktik tak membajak lahan tersebut ..\u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cblockquote style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eSaya mengerti mengapa Anda bingung ketika mencoba menafsirkan pendapat dan sanggahan terhadap pertanyaan ‘perlukah tanah di atas lahan setiap kali dibalik, dicangkul, atau dibajak agar udara masuk ke dalamnya.’ Saya bukanlah orang yang percaya pada pentingnya pengudaraan pada tanah, setidaknya untuk keadaan di Australia. Ada satu hal yang harus kita khawatirkan, yaitu apa yang biasanya kita lakukan pada permulaan sebelum menanam, seperti membalik, membajak tanah, memberi pupuk, dsb. yang memang memberikan apa yang kita inginkan sehingga tanaman tampak tumbuh tapi sesungguhnya perlakuan ini membawa berbagai masalah dalam jangka panjang. Selama ini kita percaya bahwa tanah perlu dibalik dan dibajak dan berbagai perlakuan lain untuk memberikan oksigen pada tanah tersebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMemang tak diragukan bahwa membajak tanah memberikan dampak pengudaraan pada tanah tersebut dan menghasilkan adanya kontak langsung antara tanah yang bermineral itu dengan berbagai residu organik yang terkandung di dalamnya. Perlakuan ini merangsang kegiatan mikroba dan nutrisi tanah yang selama itu tertahan di dalam kandungan organik kemudian dengan cepat dibebaskan dari dalam cengkeraman tanah. Namun, jika tanaman tidak segera ditanam di tanah itu dan karenanya bisa segera menyerap sari-sari nutrisi yang terbongkar, sari-sari nutrisi itu akan segera terlarut menyerupai lindi yang tak bisa lagi diserap oleh tanaman. Ketika dan setelah memberikan udara pada tanah tentunya dan biasanya membuat tanaman-tanaman yang ada pada tanah itu terbongkar, terbalik, terbenam, sehingga tidak ada lagi tanaman-tanaman. Padahal justru persis saat itulah sesungguhnya nutrisi itu selayaknya diserap oleh tanaman. Nutrisi itu tersia-siakan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJika praktik ini terjadi dari satu musim ke musim yang lain secara terus-menerus, maka jelaslah ada yang sesungguhnya terjadi: hilangnya dan tersia-siakannya nutrisi tanah untuk tanaman. ‘Teori pengudaraan tanah’ ini sungguh-sungguh terjadi dan berkembang di belahan bumi bagian utara. Di sana musim dingin yang panjang tak memungkinkan terjadinya pembusukan residu-residu organik di dalam tanah. Selama musim semi memang dapat diperoleh manfaat dengan merangsang rasio proses pembusukan sehingga tanaman dapat memperolah nutrisi selama masa pertumbuhan yang relatif sangat singkat. Di Australia, keadaannya pada umumnya mendukung apa yang dibutuhkan tanaman selama musim dingin setidaknya untuk proses pembusukan bahan organik. Jadi, keadaan kami memang berbeda. Perlu pula dipertimbangkan apa masalah-masalah yang muncul ketika ‘pengudaraan’ itu dilakukan di lahan-lahan di daerah tropis, di mana keadaan cuaca jauh lebih mendukung proses pembusukan bahan organik. Ya, kita semua menyadari bahwa keadaan-keadaan semacam mendukung timbulnya bencana.\u003c/blockquote\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-1122453894909245492?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/1122453894909245492/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d1122453894909245492\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/1122453894909245492"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/1122453894909245492"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/06/pendapat-pakar-tanah-alan-smith.html","title":"Pendapat  Pakar Tanah Alan Smith"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-5479060806620541607"},"published":{"$t":"2009-05-31T00:19:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2009-06-05T02:24:15.683+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"guru"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Ijin dari Robyn Francis"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/SiFtLHgJFtI/AAAAAAAAAZY/kJFbYrzNP1M/s1600-h/robyn.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 135px; height: 200px;\" src\u003d\"http://1.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/SiFtLHgJFtI/AAAAAAAAAZY/kJFbYrzNP1M/s200/robyn.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5341670670797969106\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003cblockquote\u003eThanks for contacting me about the article. Yes, i am happy to give permission for publishing this on your blog. I only request that my website \u003ca href\u003d\"http://permaculture.com.au/central/index.php\"\u003ewww.permaculture.com.au\u003c/a\u003e be noted along with my name in the credits.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAll the best\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eregards\u003cbr /\u003e\u003ca href\u003d\"http://permaculture.com.au/central/index.php?option\u003dcom_content\u0026amp;view\u003dsection\u0026amp;id\u003d9\u0026amp;Itemid\u003d81\"\u003eRobyn Francis\u003c/a\u003e\u003c/blockquote\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBegitulah, teman-teman, surat yang kami terima baru-baru ini dari Robyn Francis, si pegiat dan pakar pertanian-tetap atau permakultur kepada kita semua pada pembaca blog ini. Perempuan hebat ini memberikan ijin kepada kita untuk menerbitkan saduran tulisannya yang banyak dikenal orang di seluruh dunia itu, bertajuk \"The Living Soil\", tentang mengapa lahan pertanian sesungguhnya mampu menyuburkan dirinya sendiri, sehingga berkurang kepentingan kita untuk membajak, membalik lahan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eGambar dirinya di atas kami ambil dari \u003ca href\u003d\"http://fukuokafarmingol.info/fafrancis.html\"\u003efukuokafarmingol.info\u003c/a\u003e. Link ini juga memuat tulisan Robyn dalam bentuk aslinya dalam bahasa Inggris. Selamat membaca.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTulisan itu dalam versi saduran Indonesia sebentar lagi akan kita unggah di blog ini. Tunggu sedikit lagi ya ..\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-5479060806620541607?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/5479060806620541607/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d5479060806620541607\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5479060806620541607"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/5479060806620541607"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/05/ijin-dari-robyn-francis.html","title":"Ijin dari Robyn Francis"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://1.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/SiFtLHgJFtI/AAAAAAAAAZY/kJFbYrzNP1M/s72-c/robyn.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-7326554530554984168"},"published":{"$t":"2009-05-26T01:37:00.007+07:00"},"updated":{"$t":"2009-08-31T22:15:55.554+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Perlukah kita membajak sawah?"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca href\u003d\"http://www.permaculture.com.au/central/index.php?option\u003dcom_content\u0026amp;task\u003dview\u0026amp;id\u003d61\u0026amp;Itemid\u003d61\"\u003e\u003c/a\u003e\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/ShrnjEJl1jI/AAAAAAAAAY4/eWCKTkjUyJY/s1600-h/Robyn+Francis.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 153px;\" src\u003d\"http://2.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/ShrnjEJl1jI/AAAAAAAAAY4/eWCKTkjUyJY/s200/Robyn+Francis.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5339834897796552242\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003eApakah bukan suatu hal yang mengejutkan bahwa sekarang perlu dipertanyakan, mengapa sawah perlu dibajak, dibalik tanahnya, lalu perlu diratakan terlebih dahulu, sebelum ditanami bibit padi? Bukankah semua ini sudah selalu menjadi kebiasaan para petani di mana pun, tak terkecuali di negeri kita Indonesia? Nyaris sudah merupakan suatu kemestian bahwa petani perlu membajak sawahnya terlebih dahulu sebelum menanam padi. Apa jadinya jika sawah tak dibajak?\u003cspan id\u003d\"fullpost\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTapi itulah yang terjadi dan lama telah dicoba dan dipraktikkan. Barangkali bukan terutama oleh para petani, tapi orang-orang yang terus mencari kedalaman pemahaman hubungan dirinya dengan alam, seperti Masanobu Fukuoka yang kemudian mewariskan hasil pergulatannya kepada banyak sekali pengagum dan penentangnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eFukuoka-san jelas-jelas menegaskan bahwa untuk menerapkan pertanian alami, tanah atau lahan nyaris dilarangnya untuk dibajak. Jika dibajak, lahan justru akan sangat terganggu, katanya. Tapi, apa sesungguhnya dasar-dasarnya? Apa alasannya? Mengapa lahan tak perlu dibajak atau bahkan ‘didhangir’ jika kita pinjam istilah bahasa Jawa?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam posting berikut dapat teman-teman baca tulisan dari Robyn Francis berjudul 'Tanah yang Hidup'. Ia berusaha menjelaskan pengandaian yang ada di belakang pergulatan Fukuoka-san, yaitu bahwa tanah memiliki kapasitas untuk menyuburkan dirinya sendiri. Tapi, apa syaratnya? Inilah yang kiranya dijelaskan oleh Robyn, seorang pegiat pertanian permanen atau dalam istilah kita sementara ini barangkali dapat kita pinjam kata Sunda ‘\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003etetanèn\u003c/span\u003e’.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eFrancis berasal dari Australia. Ia bekerja sebagai perintis, pegiat, perancang, pendidik dan presenter untuk konsep dan praktik permakultur-\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003etetanèn\u003c/span\u003e. Ia juga menjadi tutor utama pada Erda Institute, sebuah lembaga yang bekerja untuk memajukan pertanian-permanen itu. Ia telah bekerja selama 25 tahun di lembaga itu dalam mengembangkan permakultur-tetanèn di berbagai negara termasuk Indonesia. Tahun 1987 Robyn mendirikan Permaculture International Ltd (PIL) dan merancang serta membangun Kebun Djanbung sebagai sebuah pusat pengembangan yang terkemuka dalam permakultur-tetanèn. Di negerinya pusat ini juga diakui menjadi lembaga acuan nasional karena telah mengembangkan pelatihan-pelatihan permakultur-tetanèn dengan akreditasi bertaraf internasional.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTunggu segera saja saat unggahnya ya ..\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLinks\u003cbr /\u003e\u003ca href\u003d\"http://www.earthwise.org.au/erdainstitute.html\"\u003eErda Institute\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003ca href\u003d\"http://permaculture.info/index.php/Djanbung_Gardens\"\u003eDjanbung Garden\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003ca href\u003d\"http://www.permacultureinternational.org/pcabout\"\u003ePermaculture International Ltd\u003c/a\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-7326554530554984168?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"related","href":"http://www.permaculture.com.au/central/index.php?option\u003dcom_content\u0026task\u003dview\u0026id\u003d61\u0026Itemid\u003d61","title":"Perlukah kita membajak sawah?"},{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/7326554530554984168/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d7326554530554984168\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7326554530554984168"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/7326554530554984168"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/05/perlukah-kita-membajak-sawah.html","title":"Perlukah kita membajak sawah?"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://2.bp.blogspot.com/_VnTws529siE/ShrnjEJl1jI/AAAAAAAAAY4/eWCKTkjUyJY/s72-c/Robyn+Francis.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-3433803685297202171"},"published":{"$t":"2009-02-20T07:07:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2009-06-05T02:24:25.949+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gotong-royong"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Pertanian Alami 'Rishi-Kheti' di India"},"content":{"type":"html","$t":"Oleh \u003cspan style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003ePartap C Aggarwal\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003eSumber: \u003ca href\u003d\"http://www.satavic.org/rishikheti.htm\"\u003esatavic.org/rishikheti\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHampir selama delapan tahun, sejak 1979 sampai 1987, keluarga saya dan saya sendiri tinggal dan bekerja di sebuah kampung yang terdiri dari 15 keluarga di dekat sebuah desa kecil bernama Rasulia di provinsi Madhya Pradesh, India.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKomunitas di mana kami tinggal dikenal dengan sebutan ‘Pusat Teman-teman Desa’. Didirikan satu abad yang lalu sebagai sebuah pusat pelatihan untuk anak-anak miskin. Selama berpuluh-puluh tahun cara kerjanya telah berubah bersamaan dengan munculnya pekerja-pekerja baru dan bersamaan dengan berubahnya keadaan lingkungan sosial ekonomi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekarang pusat pelatihan ini menghadapi tiga permasalahan: (1) proses kerusakan tanah dan lingkungan alam yang berlangsung sangat cepat; (2) proses pemiskinan yang terus menjadi lebih parah yang melanda penduduk desa kami; dan (3) tak pedulinya kelompok masyarakat atas yang jumlahnya sedikit tapi memiliki banyak sekali hak istimewa. Kami yakin ketiga hal itu saling terkait satu sama lain, dan berakar pada gaya hidup masyarakat kota industri yang telah lama melanda negeri kami yang belakangan ini terus menyerang bagaikan badai.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMenghadapi kemunduran yang terus berlangsung ini, komunitas kami akhirnya mengambil sikap bahwa pergeseran yang memprihatinkan ini haruslah segera dihentikan. Tak ada pilihan lain, kecuali rasa wajib untuk memadukan kekuatan untuk mewujudkan suatu alternatif yang sehat dan menyemangati kehidupan kami. Warga kampung sepakat untuk menyelesaikan masalah ini. Kami sepakat memutuskan untuk mengubah gaya hidup kami, supaya kami tetap sadar tentang apa yang akan terjadi dengan kehidupan alternatif yang kami jalani.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMasalah kesehatan tanah dan nasib petani kecil mendesak kami melakukan perubahan drastis dalam praktik bertani. Secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, akhirnya kami sampai dekat dengan apa yang disebut ‘pertanian alami’, yang dipelopori oleh Masanobu Fukuoka. Di daerah Rasulia kami menyebutnya ‘\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erishi kheti\u003c/span\u003e’ (pertanian bijaksana). Pertanian alami idealnya adalah suatu bentuk pencarian untuk mewujudnyatakan kesatuan antara tanah, tanaman dan binatang, termasuk diri kita sendiri.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOrang-orang kaya di kota kami memiliki kekaguman tak sehat terhadap gagasan-gagasan dan barang-barang asing, tetapi masyarakat desa biasanya bersikap skeptis. Maka penting menekankan kepada saudara-saudara kami di desa bahwa ‘pertanian alami’ ini bukanlah diimpor dari Jepang sebagai suatu barang asing. Tapi menekankan bahwa cara-cara bertani yang sama sesungguhnya telah lama dipraktikkan dalam kebudayaan kami selama ribuan tahun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePara petani menganggap tanah sebagai seorang ‘ibu’. Dilarang membajak, karena banyak di antara mereka percaya bahwa membajak akan merusak tanah sehingga berubah menjadi pasir.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePara petani alami memandang buah-buahan, umbi-umbian dan susu adalah jenis-jenis makanan yang paling cocok untuk manusia. Padi, jelai dan \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003emillet \u003c/span\u003editanam dalam jumlah sedikit, dan digunakan sebagai persembahan di api pengorbanan desa. Sisa-sisa makanan dipandang sebagai makanan sakral atau disebut Prasad dan dimakan begitu saja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003ctable style\u003d\"width: auto;\"\u003e\u003ctbody\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd\u003e\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/lh/photo/trsmhjEWBYnHnAeWDVPKYA?feat\u003dembedwebsite\"\u003e\u003cimg src\u003d\"http://lh6.ggpht.com/_VnTws529siE/SZ27qzj5e4I/AAAAAAAAAXc/4ba8cCJwyX4/s400/800px-Grain_millet%2C_early_grain_fill%2C_Tifton%2C_7-3-02.jpg\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd style\u003d\"font-family: arial,sans-serif; font-size: 11px; text-align: right;\"\u003eMillet ---\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/masadepanpetani/PertanianAlamiNaturalFarming?feat\u003dembedwebsite\"\u003ePertanian Alami - Natural Farming\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003c/tbody\u003e\u003c/table\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJika kami memiliki pilihan, kami lebih suka sayuran-sayuran yang tidak dibudidayakan, bulir-buliran dan sayuran liar daripada sayuran yang dibudidayakan. Sapi-sapi kami pelihara dan kami besarkan dengan perhatian penuh dan dengan kasih sayang. Kami sediakan luasan lahan tanah untuk penggembalaan dengan cara sengaja membatasi secara ketat terhadap luasan tanah pertanian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSebagai langkah pertama dalam bertani secara \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erishi kheti\u003c/span\u003e di Rasulia, kami berhenti menggunakan pupuk-pupuk kimia dan racun-racun itu. Beberapa tanaman memprotes meskipun tak seberapa, tetapi kemudian tanaman-tanaman menerima perubahan ini. Dicoba menanam gandum hibrida dari Meksiko tapi tak bisa tumbuh tanpa bahan-bahan kimia. Kami menemukan bahwa keadaan yang serupa terjadi pada benih-benih yang direkayasa secara canggih. Ketika kami mencoba menemukan varietas gandum yang kuat, kami menemukan bahwa kebanyakan gandum itu sudah punah. Tapi untungnya, kami menemukan beberapa benih gandum yang cocok di Gujarat yang kerasan tumbuh di Rasulia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePadi, di sisi lain, jauh lebih mampu menyesuaikan diri. Bahkan padi hibrida berjuluk Ratna mampu menyesuaikan diri dengan pupuk organik yang kami buat di Rasulia dan juga dengan pengolahan tanah yang sangat sedikit. Kami temukan, alasannya adalah bahwa India Tengah ternyata adalah tempat asal dari padi, dan tanaman padi ini merasa sangat kerasan di sini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami juga mampu menemukan banyak varietas padi lain yang cocok. Hal ini juga tak mengherankan sebab ada \u003ca href\u003d\"http://www.satavic.org/richharia.htm\"\u003eDr Richharia, ilmuwan pertanian tersohor\u003c/a\u003e, yang telah mengumpulkan dan mengelompokkan 20.000 varietas padi yang berbeda dari daerah ini saja.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLangkah kami berikutnya adalah menjual traktor. Semua orang di kampung kami merasa sangat khawatir, tetapi nyatanya kami tak pernah merasa kehilangan traktor itu. Semua kegiatan menggali dan membajak tentu saja tak dihentikan seketika, tetapi kami menguranginya secara drastis dan hanya menggunakan sapi dan alat bajak.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTak lama kemudian kami mendapatkan pelajaran bahwa beberapa tanaman yang kuat seperti semanggi, kedelai dan padi bisa cepat tumbuh di atas tanah yang tidak diolah. Lebih dari itu kami juga menemukan bahwa tanaman-tanaman seperti semanggi dapat digunakan untuk menghilangkan yang disebut ‘gulma’. Pada akhirnya, kami mulai menggunakan semanggi untuk membersihkan lahan kami dan tidak lagi mencabutinya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetelah mulai pulih rasa percaya diri kami dalam bertani secara alami, kemudian kami mendedikasikan tiga setengah akre lahan yang paling tak produktif untuk memulai pertanian sama sekali tanpa mengolah tanah. Kami sungguh sangat terheran-heran, tanah itu justru sudah mulai pulih kesehatannya sejak tahun pertama kami memulainya. Secepat itu. Dua tahun kemudian, kami memperluas area lahan tanpa olah tanah menjadi enam akre.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami memang mengalami sedikit kesulitan menghadapi burung-burung yang mematuk benih-benih, perkecambahan benih yang rendah tingkatnya, adanya gulma yang sangat bandel, semua jenis penyakit dan hama tanaman dan cuaca yang kurang menguntungkan. Tapi semua masalah ini normal saja untuk semua jenis pertanian. Pada umumnya kami justru dapat terus memperbaiki cara-cara kami bertani, dan percobaan-percobaan kami terbukti sangat berhasil baik dari sisi teknis maupun dari sisi ekonomi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBeberapa keberhasilan kami yang mencolok adalah: panen padi mencapai 20 kuintal per akre (catatan: rasio panen mendekati 5 ton per hektar; 1 akre \u003d 4.047m2); suatu hasil panen yang lumayan tinggi dibanding semua jenis tanaman pangan lain kecuali gandum; total produksi lebih tinggi daripada sebelumnya dengan sistem dukungan kimia; tambahan keuntungan bersih yang kami dapatkan antara enam sampai delapan kali lipat; dan yang paling penting dari semuanya, perbaikan mendasar bagi kesehatan dan kesuburan lahan kami.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAreal lahan yang kami khususkan untuk percobaan bertani tanpa olah tanah itu semula sudah mandul karena lahan itu sudah terlalu letih. Empat tahun kemudian lahan-lahan itu jadi sehat dan produktif. Pada kenyataannya, kondisi semua lahan kami terpulihkan. Ini dapat dinilai dari hijau segarnya dedaunan tanda kesehatan tanaman-tanaman pangan; vegetasi alami tampak serasi dengan tanaman-tanaman itu. Itu tanda kembalinya cacing-cacing tanah. Tekstur tanah berubah jadi berongga-rongga pada bagian lapis teratas karena terdapat banyak humus di situ. Bahkan tumbuhan yang disebut \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003ekans\u003c/span\u003e, yang biasanya menjadi gulma bandel di area kami, kini sudah mengucapkan selamat tinggal.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003ctable style\u003d\"width: auto;\"\u003e\u003ctbody\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd\u003e\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/lh/photo/8QG5_Xoutnnh8E3YFepD_Q?feat\u003dembedwebsite\"\u003e\u003cimg src\u003d\"http://lh4.ggpht.com/_VnTws529siE/SZ23sNXOCYI/AAAAAAAAAXQ/RlgbM1_l3Xo/s400/kans_grass.jpg\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd style\u003d\"font-family: arial,sans-serif; font-size: 11px; text-align: right;\"\u003eRumput kans di India.\u003cbr /\u003eSumber:\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/masadepanpetani/PertanianAlamiNaturalFarming?feat\u003dembedwebsite\"\u003ePertanian Alami - Natural Farming\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003c/tbody\u003e\u003c/table\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePenjelasannya sesungguhnya juga sederhana mengapa itu terjadi. Ketika kami berhasil mengendalikan erosi tanah, gulma-gulma merasa bosan tinggal di situ dan akhirnya pergi. Jadi jelas bagi kami bahwa fungsi utama dari gulma adalah mengendalikan erosi. Dengan cara membiarkan beberapa gulma tetap menjadi tanaman penutup tanah, dengan membiarkan akar-akar dari tanaman yang dipanen tetap berada di situ dan mengembalikan semua tangkai dan jerami di atas tanah, kami memberi asupan nutrisi dan menyediakan pengolahan dan umpan untuk serangga dan mikroorganisme yang kemudian akan membentuk kesuburan alami ke dalam tanah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePetani lain yang berdekatan dengan kami tak kalah juga memulai bertani secara alami pada tahun 1985 dan bahkan mencapai hasil panen yang lebih menakjubkan dalam waktu yang lebih pendek. Lahan miliknya semula sudah sangat rusak karena erosi dan dipenuhi oleh gulma \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003ekans\u003c/span\u003e. Ia menjual sapi-sapi dan bajaknya dan langsung total berhenti mengolah tanah. Produksi bulir-bulirannya langsung anjlok, tapi lahannya mulai pulih. Itu dianggapnya sebagai suatu ongkos.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHasil panen dari penataan pertanian yang baru ini tidaklah banyak; tetapi setelah tahun 1986 ia mampu memenuhi kebutuhan makan keluarga dari hasil lahannya. Itulah lonjakan perbaikan yang dialaminya karena sebelumnya ia telah banyak mengeluarkan uang setiap tahunnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi samping memberikan manfaat ekologis, \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erishi kheti\u003c/span\u003e tampak sangat sesuai dengan situasi sosial di India dewasa ini. Kami masih memiliki jutaan petani kecil yang memiliki tanah kurang dari 10 akre. Karena tekanan bertubi-tubi dari pemerintah dan dunia industri, akhirnya mereka banyak menggunakan benih-benih terekayasa dan banyak sekali menggunakan pupuk dan racun-racun kimia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBahan-bahan kimia yang berbahaya itu dipergunakan tanpa pengetahuan dan kepedulian yang memadai. Penerapan berlebihan dari pupuk-pupuk kimia dan praktik monokultur tanaman pangan telah mengubah hampir 80 persen kondisi tanah di Punjab sehingga lahan jadi kekurangan unsur-unsur nutrisi mikro —yang dalam istilah yang lugas itu artinya tanah sudah sakit.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eLebih dari itu, para petani kecil itu telah mulai menyadari bahwa naiknya harga berbagai masukan itu secara tak seimbang telah membuat pertanian mereka secara ekonomi tak mungkin dijalankan lagi. Banyak di antara mereka pasti langsung bangkrut esok harinya jika subsidi-subsidi dari pemerintah ditarik. Keadaan pasti menjadi lebih buruk lagi karena sementara itu kondisi tanah terus kehilangan kegairahan alaminya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKami menyadari bahwa para petani sudah terbelenggu dalam suatu lingkaran setan dari pertanian buatan manusia, terjebak banyak hutang dan konsumerisme. Kepentingan-kepentingan dagang yang sangat kuat, termasuk dari pemerintah kami sendiri, telah mendorong munculnya semua kecenderungan ini. Mereka memiliki sumber-sumber daya yang sangat banyak yang berada dalam kekuasaan mereka. Banyak petani bingung dengan semua \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003etrend\u003c/span\u003e baru ini. Tak sedikit yang tak mampu berbuat apa-apa. Mereka ini sangat membutuhkan suatu alternatif.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePetani-petani kami tidak dapat membaca buku-buku, tetapi ada dua hal yang dapat mereka lakukan, yaitu menilai apakah kondisi suatu lahan itu bagus, dan apakah hasil panen mereka itu sehat atau tidak. Mereka juga bisa melakukan penghitungan ekonomi dasar. Kebanyakan dari mereka juga memiliki ikatan kejiwaan dengan tanah dari generasi ke generasi berikutnya. Jika seorang petani sudah menerapkan \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erishi kheti\u003c/span\u003e, maka alam akan menjadi guru mereka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePenerapan \u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003erishi kheti\u003c/span\u003e akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang jauh bagi kalangan industri dan kalangan pemerintah yang tersentralisir. Dengan cara menolak membeli bahan-bahan kimia itu, para petani tidak hanya akan memulihkan kehidupan mereka sendiri dengan jalan berusaha, tetapi mereka juga akan menyumbangkan perubahan sosial secara umum.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMasih untungnya, masyarakat kami belumlah sepenuhnya kehilangan ketrampilan-ketrampilan yang sangat bernilai yaitu memproduksi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup. Mereka juga tak kehilangan komunitas desa tradisional. Jadi mereka masih tetap memiliki kemungkinan untuk mempertahankan pengalaman yang telah dijalani berabad-abad, untuk membentuk komunitas-komunitas yang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Di situ masyarakat tak hanya menghasilkan kebutuhan-kebutuhan dasar untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka juga mungkin sekali menikmati dan memanfaatkan otonomi politik pada tingkatan yang luas.**\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-3433803685297202171?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"related","href":"http://www.satavic.org/rishikheti.htm","title":"Pertanian Alami 'Rishi-Kheti' di India"},{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/3433803685297202171/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d3433803685297202171\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3433803685297202171"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/3433803685297202171"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/02/pertanian-alami-rishi-kheti-di-india.html","title":"Pertanian Alami 'Rishi-Kheti' di India"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://lh6.ggpht.com/_VnTws529siE/SZ27qzj5e4I/AAAAAAAAAXc/4ba8cCJwyX4/s72-c/800px-Grain_millet%2C_early_grain_fill%2C_Tifton%2C_7-3-02.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-24401422.post-8898923949261629700"},"published":{"$t":"2009-02-16T08:19:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2009-06-05T02:24:25.949+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"keberanian"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"gerakan-sosial"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"ekonomi"},{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"pertanian alami"}],"title":{"type":"text","$t":"Mengenang Masanobu Fukuoka (13-Tamat)"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ctable style\u003d\"width: auto;\"\u003e\u003ctbody\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd\u003e\u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/lh/photo/ZopGQDUblAaKu-3uA83QEA?feat\u003dembedwebsite\"\u003e\u003cimg src\u003d\"http://lh6.ggpht.com/_VnTws529siE/SZf7j-DHhRI/AAAAAAAAAV8/cOKzNBDaAKg/s288/Fukuoka-fire.jpg\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003ctr\u003e\u003ctd style\u003d\"font-family: arial,sans-serif; font-size: 11px; text-align: right;\"\u003eHidup sederhana, dekat dengan alam adalah ibadah.\u003cbr /\u003eSumber/source: \u003ca href\u003d\"http://picasaweb.google.com/masadepanpetani/PertanianAlamiNaturalFarming?feat\u003dembedwebsite\"\u003ePertanian Alami - Natural Farming\u003c/a\u003e\u003c/td\u003e\u003c/tr\u003e\u003c/tbody\u003e\u003c/table\u003e\u003cbr /\u003eManusia semestinya berelasi dengan alam seperti halnya kebanyakan binatang. Hewan-hewan itu tidaklah terbang atau bergerak ke sana ke mari untuk mengolah lahan secara cermat, lalu menanam dan memetik hasil pangan. (Catatan penerjemah: Fukuoka mengangkat contoh burung, tapi contoh ini kiranya kurang tepat karena burung justru dapat menjadi hama untuk tanaman-tanaman pangan) Mereka tak menciptakan apa-apa ... mereka hanyalah menerima apa yang ada di hadapan mereka dengan rendah hati dan rasa terimakasih. Kita juga menerima rizki makanan dari Ibu Pertiwi. Jadi kita semestinya menangkupkan kedua tangan kita dalam suatu sikap bersembahyang dan mengatakan “mohon” dan “terimakasih” ketika kita berelasi dengan alam.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003ePLOWBOY\u003c/span\u003e: Apakah Anda berpendapat bahwa dengan ikut mengambil sikap yang berbeda ini, lalu metode Anda dalam bertani dapat lebih mempengaruhi cara-cara kita menanam tanaman pangan?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003eFUKUOKA\u003c/span\u003e: Ya, pertanian alami dapat mendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam cara hidup kita sehingga akan membantu menyelesaikan berbagai masalah pada zaman sekarang ini. Saya kira masyarakat sekarang mulai merasakan kerugian-kerugian dengan dunia modern yang terus mendongkrak pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan; mereka mulai mempertanyakan hal-hal seperti pembangkit energi bertenaga nuklir dan pembantaian massal terhadap ikan-ikan paus, dan mereka mulai menyadari sekarang waktunya untuk menguji penilaian-penilaian kita lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDengan cara menghayati gaya hidup alamiah dan memperlihatkan kebergunaannya pada hari dan zaman sekarang ini, saya rasa sekarang saya sedang memberikan layanan pada kemanusiaan.  Sebagai pengelola dan perawat lahan tanaman padi, saya mengambil sikap perlunya untuk menentang kebutuhan menggunakan teknologi-teknologi destruktif atau menghancurkan bentuk-bentuk perwujudan kehidupan. Bagaimana pun, masalah-masalah zaman ini harus kita hadapi bersama-sama dengan hati kita dan perbuatan kita mulai dari dalam hati kita dan kemudian perbuatan kita. Saya berpendapat bahwa tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil produksi pertanian ... tetapi mengangkat dan menyempurnakan manusia.***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:130%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003eTAMAT\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003eFarmer social movement education and natural agriculture are the specification of this weblog.\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24401422-8898923949261629700?l\u003dsekolahpetani.blogspot.com' alt\u003d'' /\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/feeds/8898923949261629700/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d24401422\u0026postID\u003d8898923949261629700\u0026isPopup\u003dtrue","title":"2 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8898923949261629700"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/24401422/posts/default/8898923949261629700"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://sekolahpetani.blogspot.com/2009/02/mengenang-masanobu-fukuoka-13-tamat.html","title":"Mengenang Masanobu Fukuoka (13-Tamat)"}],"author":[{"name":{"$t":"Sekolah Petani"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/04902813522232906600"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"07127304674326123984"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://lh6.ggpht.com/_VnTws529siE/SZf7j-DHhRI/AAAAAAAAAV8/cOKzNBDaAKg/s72-c/Fukuoka-fire.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"2"}}]}});