Dear friends,
We would like to inform you that at the present our farmers, mostly our own parents, are under hard pressures from the government. Now they are represented by the provincial police institution. Police has accused us unilaterally as damaging our forests with illegal logging.
While in fact, we strongly accuse in turn, ever since we raise this issue, that such bad activities of cutting down wood trees in productive areas of the so-called "productive forest" are actually conducted by other parties, i.e. the state-owned forest companies of Perhutani.
Perhutani actually is the main "land lord" in Indonesia, which is state-owned as compared in term of structural power relation like in the Philippines or many other countries in S. America. We do not have big, fully private land owners like in those counties. Indeed such company may be useful, open to the poor landless peasants, only if it is under people's public scrutiny. They have a lot of money that at any time may be siphoned from the state budget. With such money they may use to improve people life condition, but they may also take advantage from it to put pressure on poor rural population with financing raid in those remote areas.
The latter is what is happening in our areas, particularly Ciamis in W. Java.
Friends, you may follow some of below news stories from local mass media. The stories +tell you about our fight to drive away unsubstantiated accusation of the police. Police should be fair and works of public good, while fighting to justice in law enforcement and not directed its weapons to the rural poor.
We forcefully assert our response to claim back the lands that belong to our ancestors. We have also to remind the state's obligation to respect people's rights to live, to participate in the development projects, to food, to housing, to provide jobs, etc.
Agrarian Conflicts Continue
Posted in gerakan-sosial, in English by The Institute for Ecosoc Rights
Pupuk Cair 2 – EM4
Banyak cara untuk membuat "mikroba efektif" untuk mempercepat proses pembuatan kompos. Salah satu di antaranya adalah yang kami tulis di bawah ini. Pengalaman teman-teman kami membuat EM4 dengan isi usus binatang telah menimbulkan bau yang kurang sedap sehingga kami memilih jalan pembuatan yang sifatnya vegetarian, dari bahan-bahan tanaman yang mudah dan cepat busuk.
Penemuan yang sangat berharga untuk pertanian mandiri ini, -- awalnya adalah orang Jepang, bernama Teruo Higa pada tahun 1970 -- kini telah banyak diterapkan oleh para petani modern. Tapi masih banyak pula yang belum melakukannya karena lebih percaya pada pupuk kimia yang dirasa "lebih praktis" tapi sesungguhnya tidak sehat baik untuk tanah, tanaman maupun untuk kita manusia.
Bahan-bahan
- Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
- Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
- Bekatul, secukupnya
- Gula merah, sedikit saja
- Air beras, secukupnya
- Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
- Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
- Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
- Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
Cara-cara lain membuat EM4 dan dampaknya
- Dari Blog "Ayo Mudik dan Membangun Bangsa dari Desa"
- Wiki: Effective Microorganism
- Akta Agrosia: Pertumbuhan dan Hasil Tomat dengan Pemberian Effective Microorganism
Posted in pertanian, pertanian organik by Sekolah Petani
Pupuk Cair (1)
- Kotoran kambing, sebanyak antara 25-30 kg
- Daun gamal, sebanyak antara 25-30 kg
- Air bersih, 200 liter
- Masukkan kotoran kambing dan daun gamal ke dalam karung yang berbeda. Masing-masing karung diikat pada ujungnya.
- Rendam ke dua karung di dalam bak yang sudah berisi air bersih. Tutup.
- Setiap sore hari rendaman diaduk-aduk agar tidak berbau.
- Lakukan selama satu minggu.
Posted in pertanian organik by Sekolah Petani
Cara Membuat "Pupuk Organik Padat"
Banyak sudah petunjuk membuat pupuk organik padat yang merupakan dasar untuk bahan makanan utama bagi tanaman. Untuk menanam padi secara alami, pupuk ini jelas merupakan keniscayaan.
Di bawah ini ada langkah-langkah umum caranya membuat. Tentu ada gunanya untuk mereka yang belum tahu. Kami akan secara bertahap menuliskan semua langkah yang diperlukan untuk pertanian organik secara paling sederhana tanpa masukan bahan-bahan apa pun yang lain dari luar komunitas kami.
Kami telah mempelajarinya dan mencobanya di depan sekolah kami. Tapi untuk kebutuhan yang lebih banyak kami masih akan harus menunggu lagi. Terutama untuk keperluan kapur pertanian, sekarang kami sedang kesulitan. Memang bisa pakai abu dapur, tapi prosesnya agak terlalu lama. Padahal keperluannya banyak. Untuk 1.000 meter persegi sawah diperlukan untuk tahap pertama sebanyak dua ton pupuk padat.
Wah, dari mana ya kami dapat memperolehnya. Sayang, tak ada gunung kapur di sekitar wilayah kami sehingga bisa kami urus pengelolaannya.
Siapa mau bantu? Klik di sini jika membantu.
Bahan-bahan:
- Mendil (kotoran kambing) atau kotoran sapi - sebanyak 1 meter kubik
- Jerami atau berbagai daun-daunan, batang atau daun ilalang, dll. - sebanyak 1 meter kubik
- Kapur pertanian atau abu dapur - sebanyak k.l. 50 kg
- Sekam sebanyak 3 s.d. 4 ember besar
- Potongan rambut, jika ada; atau bulu ayam; dibutuhkan untuk menambah unsur kalium.
Cara membuat:
- Bahan-bahan yang sudah disediakan ditumpuk satu di atas yang lain dengan urutan sebagai berikut: Jerami/dedaunan (urutan pertama), mendil (kedua), kapur pertanian/abu dapat (ketiga) ... Porsi ukuran keseluruhan yang tercantum di atas hendaklah dibagi merata dalam lapisan-lapisan tersebut.
- Campur pula secara merata dua bahan yang lain yaitu sekam dan rambut manusia atau bulu ayam. Urutan penumpukan ini dilakukan terus-menerus hingga mencapai ketinggian 1 s.d. 1,5 meter
- Diamkan tumpukan calon kompos sampai 10 hari
- Setelah 10 hari, kompos dibalik ke bagian sebelah yang kosong, kemudian didiamkan lagi selama 10 hari; lalu dibalik lagi ke tempat semula; begitu seterusnya sampai 40 hari atau lebih; tiga atau empat kali dibalik.
Setelah itu pupuk dapat langsung digunakan.
Posted in pertanian, pertanian organik by Sekolah Petani







