Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

2010-06-10

Ada kelaparan di Ciamis

Kita bisa tak percaya bahwa di Ciamis sebagai salah satu kabupaten berbasis pertanian yang maju ternyata masih ada keluarga-keluarga yang tak bisa memberikan makanan cukup dan sehat kepada anak-anak mereka.

Berita di bawah ini mungkin bisa kita anggap biasa-biasa saja. Tapi pada hemat kami, laporan insiden gizi terhadap anak-anak tergolong langka di Ciamis. Tapi kasus kedua anak ini toh terjadi dan wajib menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kemiskinan tetap mengancam keadaan pedesaan di Ciamis.


Dua Bayi di Ciamis Derita Gizi Buruk
Rabu, 02 Juni 2010

TEMPO Interaktif, Ciamis
- Dua anak kecil masing-masing Hasanah, 10 tahun, warga Cijeungjing, serta Asep, 32 hari, warga Mekarjaya Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terdeteksi menderita gizi buruk. Hingga kini keduanya masih di rumah sakit dalam pengawasan tim kesehatan rumah sakit daerah Kabupaten Ciamis.


Yeyen Maskamah, 42 tahun, ibu kandung Hasanah, Rabu (2/6), mengatakan anaknya sejak lama telah memiliki masalah gizi buruk. Kondisi dirinya yang seorang diri usai ditinggalkan suaminya 10 tahun lalu dengan ekonomi yang pas-pasan menjadi beban tersendiri bagi Hasanah.

Hingga kini Hasanah baru dua kali dibawa ke rumah sakit untuk diberi perawatan. Sebagai kuli serabutan dengan penghasilan Rp 15 rupiah per hari, Yeyen mengaku sulit memberi asupan yang cukup untuk Hasanah.

“Memang sejak lama anak saya sudah terkena,” ujarnya. “Namun bagaimana lagi saya hanya seorang diri tidak memiliki dana untuk mengobatinya,”.

Kini di usia yang menginjak 10 tahun, Hasanah hanya memiliki berat badan 7 kilogram dengan tinggi hanya 85 sentimeter. Bahkan berat tubuhnya nyaris tanpa daging saat pertama kali dibawa ke rumah sakit 13 hari yang lalu yang hanya 3 kilogram.

“Beratnya Alhamdulillah terus bertambah,” ujar Yeyen. “Pihak rumah sakit terus memberinya dengan susu berkualitas.”

Ia berharap anak bungsu dari dua bersaudara ini bisa hidup normal layaknya teman seangkatannya yang kini telah menginjak sekolah dasar. Sehingga ia berupaya dengan kartu jaminan kesehatan masyarakat miskin yang dimilikinya bisa lebih lama tinggal di rumah sakit hingga anaknya benar-benar tumbuh sehat.

Kania, salah seorang petugas jaga, saat dimintai penjelasannya mengatakan kedua anak itu memang memiliki kendala gizi buruk. Kondisi ekonomi yang kurang serta minimnya perawatan kesehatan menjadi sebab terjangkitnya gizi buruk bagi kedua balita tersebut. “Secara ekonomi memang kurang mampu,” ujarnya.

Untuk menutupi kebutuhan asupan gizi bagi Hanasah, ujar Kania, lembaganya terus memberikan perawatan khusus dengan memberikan makanan yang bergizi termasuk pemberian susu fifty junior yang harganya bisa mencapai Rp 500 ribu per kalengnya. Harapannya agar kondisi Hasanah kembali pulih sesuai dengan potensi tubunya.

“Kita pacu terus dengan pemberian susu fifty junior,” ujarnya. “Satu hari kita bisa berikan lima kali untu Hasanah,”.

Sementara itu, Asep, 32 hari, balita gizi buruk lainnya hingga kini masih dalam perwatan tabung inkubator karena kondisi tubuhnya yang lemah. Tidak ada penjelasan yang bisa dimuat sebab pihak keluarga pada saat Tempo ke lokasi tidak ada ditempat.

JAYADI SUPRIADIN

Read More...

2010-03-23

Rope pump and children



Dear friends, continuing our previous post, here are two video clips from youtube that depict how children can also move rope pumps by rotating the wheel towing strap pedals ..

This kind of rope pump is really relieving our homework and our garden work .. enough even when children would begin to show a desire to move his hands and feet. Maybe even the children younger than 10 years old ..

The second video clip comes from Senegal, South Africa, showing a girl playing with a tight rope pump to get water ..

The first video clip is from the Netherlands in which you see a smaller children, seems to age less than 10 years, was playing rope pump as she or he wanted to see the flowers next to the pump was blooming .. It's funny .. The pump maker is said to work for Akvo, an institution that encourages people to solve water problems ..

Who would dare to try to make this kind of pump that is indeed very useful ..

Video from the Netherlands


Link to Akvo ..

Read More...

2010-03-20

Pompa Tali Ringan Juga untuk Anak-anak



Teman-teman sekalian, dalam pertemuan petani di Garut tentang tata produksi baru-baru ini kami mendengar kabar dari kang Dedi Wiharja dari desa Pasawahan, Banjarsari, Ciamis bahwa ternyata di desanya dapat dibuat sumur gali. Dia sendiri ternyata juga sudah memiliki sumur gali dengan diameter lubang mendekati satu meter.

Wah ini kabar baru yang menarik. Mengapa? Karena selama ini di sekolah kami belum ada sumur gali sehingga pada musim kemarau kami kesulitan mendapatkan air.

Lebih menarik lagi adalah bahwa kang Dedi mengatakan sumurnya itu tetap mengandung air di dasar selama musim kering.

Ini kesempatan baru agar nanti kami dapat mengelola budidaya tanaman selama musim kering.

Kang Dedi sendiri begitu antusias ketika mencari tahu tentang cara-cara membuat pompa tali yang sangat meringan beban menaikkan air. Karena selama ini air sumur hanya untuk keperluan rumah tangga. Dan cara menaikkan airnya pun masih dengan cara tradisional dengan menggunakan kèrèkan dengan tali bekas ban mobil ..

Kebetulan teman kami dari Yogyakarta sudah berhasil membuat pompa tali dengan bahan-bahan setempat. Kalau rusak bisa diperbaiki sendiri. Sangat efisien karena sembari memutar roda, air sumur terus mengalir. Ringan diputar, juga untuk anak-anak.

Siapa mau mencoba ...

Read More...

2009-02-20

Pertanian Alami 'Rishi-Kheti' di India

Oleh Partap C Aggarwal
Sumber: satavic.org/rishikheti


Hampir selama delapan tahun, sejak 1979 sampai 1987, keluarga saya dan saya sendiri tinggal dan bekerja di sebuah kampung yang terdiri dari 15 keluarga di dekat sebuah desa kecil bernama Rasulia di provinsi Madhya Pradesh, India.

Komunitas di mana kami tinggal dikenal dengan sebutan ‘Pusat Teman-teman Desa’. Didirikan satu abad yang lalu sebagai sebuah pusat pelatihan untuk anak-anak miskin. Selama berpuluh-puluh tahun cara kerjanya telah berubah bersamaan dengan munculnya pekerja-pekerja baru dan bersamaan dengan berubahnya keadaan lingkungan sosial ekonomi.

Sekarang pusat pelatihan ini menghadapi tiga permasalahan: (1) proses kerusakan tanah dan lingkungan alam yang berlangsung sangat cepat; (2) proses pemiskinan yang terus menjadi lebih parah yang melanda penduduk desa kami; dan (3) tak pedulinya kelompok masyarakat atas yang jumlahnya sedikit tapi memiliki banyak sekali hak istimewa. Kami yakin ketiga hal itu saling terkait satu sama lain, dan berakar pada gaya hidup masyarakat kota industri yang telah lama melanda negeri kami yang belakangan ini terus menyerang bagaikan badai.

Menghadapi kemunduran yang terus berlangsung ini, komunitas kami akhirnya mengambil sikap bahwa pergeseran yang memprihatinkan ini haruslah segera dihentikan. Tak ada pilihan lain, kecuali rasa wajib untuk memadukan kekuatan untuk mewujudkan suatu alternatif yang sehat dan menyemangati kehidupan kami. Warga kampung sepakat untuk menyelesaikan masalah ini. Kami sepakat memutuskan untuk mengubah gaya hidup kami, supaya kami tetap sadar tentang apa yang akan terjadi dengan kehidupan alternatif yang kami jalani.

Masalah kesehatan tanah dan nasib petani kecil mendesak kami melakukan perubahan drastis dalam praktik bertani. Secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, akhirnya kami sampai dekat dengan apa yang disebut ‘pertanian alami’, yang dipelopori oleh Masanobu Fukuoka. Di daerah Rasulia kami menyebutnya ‘rishi kheti’ (pertanian bijaksana). Pertanian alami idealnya adalah suatu bentuk pencarian untuk mewujudnyatakan kesatuan antara tanah, tanaman dan binatang, termasuk diri kita sendiri.

Orang-orang kaya di kota kami memiliki kekaguman tak sehat terhadap gagasan-gagasan dan barang-barang asing, tetapi masyarakat desa biasanya bersikap skeptis. Maka penting menekankan kepada saudara-saudara kami di desa bahwa ‘pertanian alami’ ini bukanlah diimpor dari Jepang sebagai suatu barang asing. Tapi menekankan bahwa cara-cara bertani yang sama sesungguhnya telah lama dipraktikkan dalam kebudayaan kami selama ribuan tahun.

Para petani menganggap tanah sebagai seorang ‘ibu’. Dilarang membajak, karena banyak di antara mereka percaya bahwa membajak akan merusak tanah sehingga berubah menjadi pasir.

Para petani alami memandang buah-buahan, umbi-umbian dan susu adalah jenis-jenis makanan yang paling cocok untuk manusia. Padi, jelai dan millet ditanam dalam jumlah sedikit, dan digunakan sebagai persembahan di api pengorbanan desa. Sisa-sisa makanan dipandang sebagai makanan sakral atau disebut Prasad dan dimakan begitu saja.

Millet ---Pertanian Alami - Natural Farming


Jika kami memiliki pilihan, kami lebih suka sayuran-sayuran yang tidak dibudidayakan, bulir-buliran dan sayuran liar daripada sayuran yang dibudidayakan. Sapi-sapi kami pelihara dan kami besarkan dengan perhatian penuh dan dengan kasih sayang. Kami sediakan luasan lahan tanah untuk penggembalaan dengan cara sengaja membatasi secara ketat terhadap luasan tanah pertanian.

Sebagai langkah pertama dalam bertani secara rishi kheti di Rasulia, kami berhenti menggunakan pupuk-pupuk kimia dan racun-racun itu. Beberapa tanaman memprotes meskipun tak seberapa, tetapi kemudian tanaman-tanaman menerima perubahan ini. Dicoba menanam gandum hibrida dari Meksiko tapi tak bisa tumbuh tanpa bahan-bahan kimia. Kami menemukan bahwa keadaan yang serupa terjadi pada benih-benih yang direkayasa secara canggih. Ketika kami mencoba menemukan varietas gandum yang kuat, kami menemukan bahwa kebanyakan gandum itu sudah punah. Tapi untungnya, kami menemukan beberapa benih gandum yang cocok di Gujarat yang kerasan tumbuh di Rasulia.

Padi, di sisi lain, jauh lebih mampu menyesuaikan diri. Bahkan padi hibrida berjuluk Ratna mampu menyesuaikan diri dengan pupuk organik yang kami buat di Rasulia dan juga dengan pengolahan tanah yang sangat sedikit. Kami temukan, alasannya adalah bahwa India Tengah ternyata adalah tempat asal dari padi, dan tanaman padi ini merasa sangat kerasan di sini.

Kami juga mampu menemukan banyak varietas padi lain yang cocok. Hal ini juga tak mengherankan sebab ada Dr Richharia, ilmuwan pertanian tersohor, yang telah mengumpulkan dan mengelompokkan 20.000 varietas padi yang berbeda dari daerah ini saja.

Langkah kami berikutnya adalah menjual traktor. Semua orang di kampung kami merasa sangat khawatir, tetapi nyatanya kami tak pernah merasa kehilangan traktor itu. Semua kegiatan menggali dan membajak tentu saja tak dihentikan seketika, tetapi kami menguranginya secara drastis dan hanya menggunakan sapi dan alat bajak.

Tak lama kemudian kami mendapatkan pelajaran bahwa beberapa tanaman yang kuat seperti semanggi, kedelai dan padi bisa cepat tumbuh di atas tanah yang tidak diolah. Lebih dari itu kami juga menemukan bahwa tanaman-tanaman seperti semanggi dapat digunakan untuk menghilangkan yang disebut ‘gulma’. Pada akhirnya, kami mulai menggunakan semanggi untuk membersihkan lahan kami dan tidak lagi mencabutinya.

Setelah mulai pulih rasa percaya diri kami dalam bertani secara alami, kemudian kami mendedikasikan tiga setengah akre lahan yang paling tak produktif untuk memulai pertanian sama sekali tanpa mengolah tanah. Kami sungguh sangat terheran-heran, tanah itu justru sudah mulai pulih kesehatannya sejak tahun pertama kami memulainya. Secepat itu. Dua tahun kemudian, kami memperluas area lahan tanpa olah tanah menjadi enam akre.

Kami memang mengalami sedikit kesulitan menghadapi burung-burung yang mematuk benih-benih, perkecambahan benih yang rendah tingkatnya, adanya gulma yang sangat bandel, semua jenis penyakit dan hama tanaman dan cuaca yang kurang menguntungkan. Tapi semua masalah ini normal saja untuk semua jenis pertanian. Pada umumnya kami justru dapat terus memperbaiki cara-cara kami bertani, dan percobaan-percobaan kami terbukti sangat berhasil baik dari sisi teknis maupun dari sisi ekonomi.

Beberapa keberhasilan kami yang mencolok adalah: panen padi mencapai 20 kuintal per akre (catatan: rasio panen mendekati 5 ton per hektar; 1 akre = 4.047m2); suatu hasil panen yang lumayan tinggi dibanding semua jenis tanaman pangan lain kecuali gandum; total produksi lebih tinggi daripada sebelumnya dengan sistem dukungan kimia; tambahan keuntungan bersih yang kami dapatkan antara enam sampai delapan kali lipat; dan yang paling penting dari semuanya, perbaikan mendasar bagi kesehatan dan kesuburan lahan kami.

Areal lahan yang kami khususkan untuk percobaan bertani tanpa olah tanah itu semula sudah mandul karena lahan itu sudah terlalu letih. Empat tahun kemudian lahan-lahan itu jadi sehat dan produktif. Pada kenyataannya, kondisi semua lahan kami terpulihkan. Ini dapat dinilai dari hijau segarnya dedaunan tanda kesehatan tanaman-tanaman pangan; vegetasi alami tampak serasi dengan tanaman-tanaman itu. Itu tanda kembalinya cacing-cacing tanah. Tekstur tanah berubah jadi berongga-rongga pada bagian lapis teratas karena terdapat banyak humus di situ. Bahkan tumbuhan yang disebut kans, yang biasanya menjadi gulma bandel di area kami, kini sudah mengucapkan selamat tinggal.

Rumput kans di India.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Penjelasannya sesungguhnya juga sederhana mengapa itu terjadi. Ketika kami berhasil mengendalikan erosi tanah, gulma-gulma merasa bosan tinggal di situ dan akhirnya pergi. Jadi jelas bagi kami bahwa fungsi utama dari gulma adalah mengendalikan erosi. Dengan cara membiarkan beberapa gulma tetap menjadi tanaman penutup tanah, dengan membiarkan akar-akar dari tanaman yang dipanen tetap berada di situ dan mengembalikan semua tangkai dan jerami di atas tanah, kami memberi asupan nutrisi dan menyediakan pengolahan dan umpan untuk serangga dan mikroorganisme yang kemudian akan membentuk kesuburan alami ke dalam tanah.

Petani lain yang berdekatan dengan kami tak kalah juga memulai bertani secara alami pada tahun 1985 dan bahkan mencapai hasil panen yang lebih menakjubkan dalam waktu yang lebih pendek. Lahan miliknya semula sudah sangat rusak karena erosi dan dipenuhi oleh gulma kans. Ia menjual sapi-sapi dan bajaknya dan langsung total berhenti mengolah tanah. Produksi bulir-bulirannya langsung anjlok, tapi lahannya mulai pulih. Itu dianggapnya sebagai suatu ongkos.

Hasil panen dari penataan pertanian yang baru ini tidaklah banyak; tetapi setelah tahun 1986 ia mampu memenuhi kebutuhan makan keluarga dari hasil lahannya. Itulah lonjakan perbaikan yang dialaminya karena sebelumnya ia telah banyak mengeluarkan uang setiap tahunnya.

Di samping memberikan manfaat ekologis, rishi kheti tampak sangat sesuai dengan situasi sosial di India dewasa ini. Kami masih memiliki jutaan petani kecil yang memiliki tanah kurang dari 10 akre. Karena tekanan bertubi-tubi dari pemerintah dan dunia industri, akhirnya mereka banyak menggunakan benih-benih terekayasa dan banyak sekali menggunakan pupuk dan racun-racun kimia.

Bahan-bahan kimia yang berbahaya itu dipergunakan tanpa pengetahuan dan kepedulian yang memadai. Penerapan berlebihan dari pupuk-pupuk kimia dan praktik monokultur tanaman pangan telah mengubah hampir 80 persen kondisi tanah di Punjab sehingga lahan jadi kekurangan unsur-unsur nutrisi mikro —yang dalam istilah yang lugas itu artinya tanah sudah sakit.

Lebih dari itu, para petani kecil itu telah mulai menyadari bahwa naiknya harga berbagai masukan itu secara tak seimbang telah membuat pertanian mereka secara ekonomi tak mungkin dijalankan lagi. Banyak di antara mereka pasti langsung bangkrut esok harinya jika subsidi-subsidi dari pemerintah ditarik. Keadaan pasti menjadi lebih buruk lagi karena sementara itu kondisi tanah terus kehilangan kegairahan alaminya.

Kami menyadari bahwa para petani sudah terbelenggu dalam suatu lingkaran setan dari pertanian buatan manusia, terjebak banyak hutang dan konsumerisme. Kepentingan-kepentingan dagang yang sangat kuat, termasuk dari pemerintah kami sendiri, telah mendorong munculnya semua kecenderungan ini. Mereka memiliki sumber-sumber daya yang sangat banyak yang berada dalam kekuasaan mereka. Banyak petani bingung dengan semua trend baru ini. Tak sedikit yang tak mampu berbuat apa-apa. Mereka ini sangat membutuhkan suatu alternatif.

Petani-petani kami tidak dapat membaca buku-buku, tetapi ada dua hal yang dapat mereka lakukan, yaitu menilai apakah kondisi suatu lahan itu bagus, dan apakah hasil panen mereka itu sehat atau tidak. Mereka juga bisa melakukan penghitungan ekonomi dasar. Kebanyakan dari mereka juga memiliki ikatan kejiwaan dengan tanah dari generasi ke generasi berikutnya. Jika seorang petani sudah menerapkan rishi kheti, maka alam akan menjadi guru mereka.

Penerapan rishi kheti akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang jauh bagi kalangan industri dan kalangan pemerintah yang tersentralisir. Dengan cara menolak membeli bahan-bahan kimia itu, para petani tidak hanya akan memulihkan kehidupan mereka sendiri dengan jalan berusaha, tetapi mereka juga akan menyumbangkan perubahan sosial secara umum.

Masih untungnya, masyarakat kami belumlah sepenuhnya kehilangan ketrampilan-ketrampilan yang sangat bernilai yaitu memproduksi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup. Mereka juga tak kehilangan komunitas desa tradisional. Jadi mereka masih tetap memiliki kemungkinan untuk mempertahankan pengalaman yang telah dijalani berabad-abad, untuk membentuk komunitas-komunitas yang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Di situ masyarakat tak hanya menghasilkan kebutuhan-kebutuhan dasar untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka juga mungkin sekali menikmati dan memanfaatkan otonomi politik pada tingkatan yang luas.**

Read More...

2009-02-16

Mengenang Masanobu Fukuoka (13-Tamat)

Hidup sederhana, dekat dengan alam adalah ibadah.
Sumber/source: Pertanian Alami - Natural Farming

Manusia semestinya berelasi dengan alam seperti halnya kebanyakan binatang. Hewan-hewan itu tidaklah terbang atau bergerak ke sana ke mari untuk mengolah lahan secara cermat, lalu menanam dan memetik hasil pangan. (Catatan penerjemah: Fukuoka mengangkat contoh burung, tapi contoh ini kiranya kurang tepat karena burung justru dapat menjadi hama untuk tanaman-tanaman pangan) Mereka tak menciptakan apa-apa ... mereka hanyalah menerima apa yang ada di hadapan mereka dengan rendah hati dan rasa terimakasih. Kita juga menerima rizki makanan dari Ibu Pertiwi. Jadi kita semestinya menangkupkan kedua tangan kita dalam suatu sikap bersembahyang dan mengatakan “mohon” dan “terimakasih” ketika kita berelasi dengan alam.

PLOWBOY: Apakah Anda berpendapat bahwa dengan ikut mengambil sikap yang berbeda ini, lalu metode Anda dalam bertani dapat lebih mempengaruhi cara-cara kita menanam tanaman pangan?

FUKUOKA: Ya, pertanian alami dapat mendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam cara hidup kita sehingga akan membantu menyelesaikan berbagai masalah pada zaman sekarang ini. Saya kira masyarakat sekarang mulai merasakan kerugian-kerugian dengan dunia modern yang terus mendongkrak pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan; mereka mulai mempertanyakan hal-hal seperti pembangkit energi bertenaga nuklir dan pembantaian massal terhadap ikan-ikan paus, dan mereka mulai menyadari sekarang waktunya untuk menguji penilaian-penilaian kita lagi.

Dengan cara menghayati gaya hidup alamiah dan memperlihatkan kebergunaannya pada hari dan zaman sekarang ini, saya rasa sekarang saya sedang memberikan layanan pada kemanusiaan. Sebagai pengelola dan perawat lahan tanaman padi, saya mengambil sikap perlunya untuk menentang kebutuhan menggunakan teknologi-teknologi destruktif atau menghancurkan bentuk-bentuk perwujudan kehidupan. Bagaimana pun, masalah-masalah zaman ini harus kita hadapi bersama-sama dengan hati kita dan perbuatan kita mulai dari dalam hati kita dan kemudian perbuatan kita. Saya berpendapat bahwa tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil produksi pertanian ... tetapi mengangkat dan menyempurnakan manusia.***

TAMAT

Read More...

2009-02-14

Mengenang Masanobu Fukuoka (12)

PLOWBOY: Tetapi bukankah terdapat banyak jenis semak semanggi yang dapat digunakan? Bukankah begitu?

FUKUOKA: Nah, ya kan? Itulah hal yang persis saya maksudkan. Akal budimu mulai bicara! Jangan banyak bertanya. Jika saya usulkan “semanggi putih”, gunakahlah semanggi putih itu. Jika saya usulkan ‘semanggi merah’, maka gunakan ‘semanggi merah’. Selama bertahun-tahun saya telah mencoba menerapkan semak-semak seperti vetch, alfalfa, lupine, trefoil dan berbagai jenis semanggi ... dan akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa untuk mendukung rotasi penanaman tanpa mengolah tanah untuk tanaman-tanaman bulir-buliran dan sayuran, dikombinasikan berbagai tanaman tutupan tanah di kebun, semanggi putih adalah yang tanaman yang terbaik.

Alfalfa, sebagai salah satu anggota keluarga legum, banyak kita temukan 'saudara-saudara'-nya di Indonesia.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Semak 'vetch'. Kenalkah Anda pada jenis tanaman ini?
Apa jenis tanaman yang sekeluarga dengan vetch ini yang dapat kita temukan di Indonesia?
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Temuan-temuan saya ini telah diverifikasikan oleh para peneliti lain juga. Ketika saya mengunjungi Pusat Penelitian dari Kebun Organik Rodale di Pennsylvania belum lama ini, orang-orang di sana memperlihatkan pada saya percobaan-percobaan yang telah mereka lakukan selama beberapa tahun dalam merotasikan berbagai tanaman bulir-buliran dan tanaman pangan lain diselingi oleh rerumputan semanggi putih dan tanaman-tanaman tutupan tanah yang lain. Dan lahan yang paling berhasil adalah yang ditanami dengan semanggi putih!

PLOWBOY: Di negara-negara bagian Amerika Serikat yang berada di belahan barat laut terdapat suatu jaringan petani dan pekebun organik yang disebut Tilth. Mereka telah memulai suatu pengembangan proyek semanggi. Anggota-anggota mereka yang beada di Oregon, Washington, Idaho, dan British Columbia menanam berbagai jenis semanggi di ladang-ladang jelai dan jagung, kebun apel, dan ladang sayuran .. semuanya akan mengambil manfaat dari pengalaman mereka dengan semanggi. Apakah Anda mengira bahwa percobaan seperti itu berguna?

Semak liar berbunga 'trefoil'.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Azolla microphylla. We call it locally as 'ganggang'.
Source:Pertanian Alami - Natural Farming


FUKUOKA: Ya, tentu, itu bagus ... tetapi sebenarnya hasilnya sudah ada dan siap pakai, sudah ada di hadapan kita! Saya telah melakukan percobaan seperti itu 25 tahun yang lalu, dan sekarang orang bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya, cukup jika mereka mau melihat hasilnya. Mereka bisa menghemat banyak waktu dan tenaga, cukup hanya dengan mengambil jalan singkat, yaitu percaya (pada temuan saya.)

PLOWBOY: Sementara orang melihat adanya kandungan keruhanian, atau mendekati mistik dari teori Anda tentang pertanian. Apakah Anda merasa bahwa Anda menerima suatu pencerahan dan petunjuk dari sumber kekuatan ilahi?

FUKUOKA: Meskipun pertanian alami —sejak pertanian ini dapat mengajarkan masyarakat untuk mendalami pemahaman yang mendalam tentang alam— bisa membawa orang menemukan pencerahan ruhani, pertanian ini bukanlah spesifik praktik keruhanian. Pertanian alami bagaimana pun hanyalah kegiatan bertani, tidak lebih. Tak ada prasyarat bahwa Anda haruslah seseorang yang memiliki orientasi keruhanian sebelum mempraktikkan metode saya ini. Siapa saja yang memahami konsep ini dengan pikiran yang jelas dan terbuka akan dapat segera memulainya dengan baik. Kenyataannya, orang yang paling cepat dapat melakukan pertanian alami ini adalah orang yang tidak memiliki hambatan pikiran yang biasanya diidap oleh orang-orang dewasa karena telah memegang hasrat, kepercayaan filsafat tertentu, atau agama .. mereka adalah orang-orang yang memiliki pikiran dan hati seperti anak kecil. Orang cukup memahami apa itu alam .. alam yang sesungguhnya, dan bukan alam yang kita percayai bahwa kita ketahui!

Salah satu jenis semak lupine.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY: Dapatkah Anda menjelaskan lebih spesifik tentang sikap apa yang diperlukan (untuk bertani secara alami)?

FUKUOKA: Banyak orang beranggapan bahwa, ketika kita bertani, alam dengan sendirinya membantu usaha-usaha kita untuk menghasilkan makanan. Cara berpikir ini sepenuhnya terlalu bersudut pandang memusatkan pada kepentingan manusia .. Sebaliknya, kita seharusnya menyadari bahwa kita menerima apa yang kita makan itu sebagai hasil dari apa yang diputuskan oleh alam untuk kita. Seorang petani tidaklah menumbuhkan sesuatu dalam pengertian bahwa dia menciptakannya atas kekuatannya sendiri. Semua hal yang sifatnya manusiawi hanyalah sebagian kecil dari seluruh proses bagaimana alam itu menyatakan dirinya. Petani hanyalah menyumbangkan sedikit pengaruh terhadap proses itu ... lebih daripada sekedar dia berada di sana dan memberikan bagian kecil sumbangannya itu.

Acuan
Rodale Institute



BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-13

Mengenang Masanobu Fukuoka (11)

"Rumput" Semanggi. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY: Jadi Anda berpendapat bahwa mungkin nanti suatu ketika pertanian alami diterapkan di Amerika Utara?

FUKUOKA: Tentu, tentu! Jika Anda berbicara tentang alam, tak penting apakah Anda mengacu ke Amerika Utara atau Afrika atau Indonesia atau Cina .. Alam bagaimana pun tetap alam. Pada kenyataannya pertanian industrial modern sekarang sedang diterapkan nyaris di mana-mana di seluruh dunia. Begitulah juga pertanian alami dapat diterapkan nyaris di mana-mana.

Saya hanyalah seorang petani desa yang sudah mengunjungi bagian lain dari dunia yang sama ini. Dengan penelitian saya tentang sebatang jerami itu, saya telah sampai pada suatu kesimpulan penting tentang bagaimana masyarakat dapat berelasi dengan alam dan hidup dengan alam secara harmonis ... di mana pun mereka berada.

FUKUOKA: Benar bahwa setiap tempat agak berbeda dari yang lain. Di sini, di Massachusetts kita berada sangat jauh dari Lautan Teduh dan bahkan lebih jauh dari rumah saya di pulau Shikoku ... sehingga seakan-akan pengalaman dan pengetahuan yang telah saya kumpulkan tidak akan dapat diterapkan di sini. Tetapi, penelitian yang saya lakukan di lahan saya yang kecil itu pada akhirnya membawa saya pada suatu metode praktis dan teruji untuk rotasi tanaman pangan. Jadi saya menganjurkan untuk para pemula untuk mulai menerapkan teknik yang telah saya kembangkan, tak peduli mereka ada di mana ... bahkan di sini di belahan pantai Atlantik.

White Clover. Source:Pertanian Alami - Natural Farming


Seseorang yang melakukannya mungkin akan menemui beberapa masalah pada tahun pertama, dan hasilnya mungkin tak akan sama dengan yang saya dapatkan. Tetapi nanti akan jelas untuknya mengapa hal-hal tertentu tak dapat berfungsi. Itu bisa disebabkan karena barangkali tanaman tertentu ditanam terlalu terlambat, atau mungkin karena menanam varietas yang salah untuk iklim dan lahan jenis tertentu. Pada tahun kedua setelah memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip saya, dia akan mengerti dengan jelas apa yang perlu dilakukan terhadap lahannya. Saya mengatakan kepada orang yang memulai pertanian alami untuk belajar dari telaah dan penelitian saya dan menggunakannya seperti apa adanya ... Inilah cara yang paling baik untuk mulai. Jika Anda tiba-tiba mulai menerapkan cara-cara Anda sendiri dan mulai mencari-cari ciri-ciri “alam” yang sesungguhnya untuk daerah Anda, akan dibutuhkan 20 atau 30 tahun, seperti yang telah terjadi dengan diri saya di Jepang. Sebaliknya, langkah pertama untuk mencoba pertanian alami adalah membuang faham-faham Anda sendiri ... kemudian Anda dapat belajar sambil langsung melakukannya!

PLOWBOY: Apakah Anda sedang menganjurkan kami untuk membuang semua penalaran logis?

FUKUOKA: Ya!

PLOWBOY: Tapi Fukuoka-san, bukankah Anda sendiri melakukan banyak sekali percobaan dan penelitian dalam proses mengembangkan konsep pertanian alami? Anda menggunakan akal budi ... tapi sekarang Anda mengatakan pada kami untuk membuang semua pengetahuan kami?

FUKUOKA: Persis! Buanglah gagasan-gagasan Anda sendiri itu untuk sementara waktu dan biarkan hasil dari penelitian saya menjadi benih dari gagasan-gagasan baru dan cara-cara berpikir baru. Banyak orang mungkin tergoda untuk berpendapat, “Hmm .. iklim yang ada di tempat saya sangat berbeda dari iklim di daerahnya. Maka sebagai ganti semak semanggi putih, saya akan mencoba yang ini sebagai tanaman tutupan tanah.” Penalaran ini dapat jadi membuat Anda keluar dari jalur fokus dan akan menjerumuskan Anda masuk ke jalan-jalan gelap! Semak semanggi diperlukan untuk membuat supaya gulma-gulma mulai tumbuh lagi dan memenuhi lahan.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-12

Mengenang Masanobu Fukuoka (10)

FUKUOKA : Saya sungguh-sungguh tersentak melihat keadaan buruk California. Sejak Spanyol membuka pemeliharaan sapi dan domba, bersamaan dengan padang rumput tahunan seperti foxtail dan wild oats (lihat gambar/foto), rumput-rumput asli dibinasakan semuanya. Tambahan pula, air tanah sudah terlalu banyak disedot untuk pertanian, dan bendungan-bendungan besar serta proyek-proyek irigasi telah memotong sirkulasi alamiah dari air di lapisan permukaan tanah. Hutan-hutan telah banyak sekali ditebang dan secara serampangan. Hal ini menyebabkan erosi tanah dan kerusakan-kerusakan aliran sungai dan populasi ikan. Akibat dari semua ini, tanah-tanah menjadi semakin kering. Ini sangat menyedihkan ... semuanya karena campur tangan manusia, padang gurun sedang terus meluas di seluruh negara bagian. Dan .. tak akan ada orang yang mengaku salah.

Rumput foxtail. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming
Rumput wild oats. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY : Apakah Anda berpendapat, jika teknik pertanian alami diterapkan dapat mengubah proses-proses yang selama ini terjadi dan membuat California menjadi hijau lagi?

FUKUOKA : Ya, akan dibutuhkan waktu beberapa tahun sampai masyarakat bisa belajar bagaimana menyesuaikan dan membiasakan diri dengan rotasi gulma atau tanaman-tanaman tutupan tanah, tetapi saya kira tanah akan cepat terpulihkan jika para petani sungguh-sungguh mencoba melakukannya. Dan seandainya itu dilakukan, California dapat benar-benar menjadi suatu wilayah yang sungguh-sungguh alamiah dan sangat menarik .. di mana kegiatan bertani akan menjadi kegiatan yang menggembirakan, seperti semestinya. Tetapi jika pertanian modern terus berlanjut seperti sekarang ini, maka selesailah sudah. Situasi pertanian tanaman pangan mungkin tampak bagus di permukaan seperti sekarang, tetapi itu hanya suatu ilusi yang didasarkan pada ketersediaan bahan bakar minyak bumi. Semua jenis gandum, jagung, dan tanaman-tanaman pangan lain yang sekarang ditanam di unit-unit perusahaan pertanian besar di Amerika mungkin memang bisa hidup dan bertumbuh, tapi semua itu bukan produk dari alam yang sesungguhnya atau pertanian yang sebenarnya. Semuanya direkayasa daripada ditumbuhkan. Bumi tidaklah menghasilkan barang-barang seperti itu ... tapi dihasilkan oleh minyak bumi!

PLOWBOY : Bukankah Anda mengatakan bahwa kekurangan minyak bumi adalah suatu perkembangan yang sifatnya positif?

FUKUOKA : Tentu saja. Saya yakin bahwa semakin cepat persediaan minyak bumi kita mengering, itu akan lebih baik. Sebab kemudian kita tak akan punya pilihan lain daripada pulang kepada pertanian alami!

PLOWBOY : Tetapi bukankah pertanian “agribiz” itu sekarang sudah meliputi ratusan atau bahkan ribuan akre luasan wilayah yang telah dibudidayakan? Bagaimana mungkin orang bisa mengubahnya menjadi pertanian alami?

FUKUOKA : Pertama-tama, tak boleh ada perluasan yang besar-besaran. Tapi sayangnya, dalam sistem pertanian modern Amerika, [yang terjadi adalah] hanya sedikit orang saja yang memproduksi makanan untuk berjuta-juta manusia yang tinggal di kota. Di Jepang, luasan rata-rata pemilikan ladang lebih sempit daripada di Amerika Serikat ... tetapi panen per akre jauh lebih besar. Saya bisa melakukan seluruh pekerjaan di lahan-lahan saya dengan peralatan tangan, tanpa mesin-mesin berkekuatan jenis apa pun.

Tetapi saya menduga semua mega-pertanian di negara Anda akan membutuhkan suatu bentuk mekanisasi, setidaknya untuk keperluan memanen. Meskipun begitu, di masa depan karena semakin banyak orang bergerak kembali ke arah desa dan mulai menanam tanaman-tanaman pangan untuk diri sendiri di atas tanah yang kecil, akan kurang terjadi suatu ketergantungan pada mesin-mesin dan bahan bakar minyak bumi ... dan karenanya, teknik-teknik pertanian alami dapat mulai diterapkan.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-10

Mengenang Masanobu Fukuoka (9)


Caption video: Fukuoka-san sedang membuat bola benih.


Tampaknya, pengakuan secara umum terhadap adanya bahaya dalam waktu yang panjang dari pertanian dengan bahan-bahan kimia telah mendorong munculnya minat baru terhadap metode pertanian alternatif. Banyak orang mengamati metode saya dan mulai berpendapat apa yang semula mereka pandang primitif dan terbelakang sekarang menjadi ilmu pengetahuan modern yang jauh sangat maju!

PLOWBOY : Anda menerapkan sautu cara menanam tanaman pangan yang hanya membutuhkan sedikit biaya dan tenaga kerja, yang tidak membutuhkan mesin-mesin berat, bahan bakar fosil, atau bahan-bahan kimia yang diproses ... tetapi toh mencapai hasil panen yang sebanding dengan mereka yang menerapkan metode-metode ilmiah “modern”. Ini seperti mimpi yang sungguh-sungguh terwujud. Pasti sudah ada banyak orang menerapkannya di mana-mana!

FUKUOKA : Tidak juga ... itu karena metode saya sungguh-sungguh tampak seperti sebuah mimpi bagi mereka. Pada kenyataannya, saya berpendapat pertanian alami ini sesungguhnya suatu konsep yang sangat menakutkan sebagian orang! Metode ini menuntut suatu sikap revolusioner. Tak sikap ini tak mungkin terjadi perubahan iklim masyarakat dan peradaban kita seumumnya.

PLOWBOY : Apa yang diperlukan, kalau begitu, untuk meyakinkan orang-orang semacam itu agar mereka mau mencobanya?

FUKUOKA: Akan sulit bagi para petani secara individual maupun di tingkat keluarga untuk memulai metode ini. Pertanian alami menuntut banyak pekerjaan pada masa awalnya —sampai lahan dikembalikan ke keseimbangannya. Dan Anda tidak akan dapat mengerjakannya sendiri kecuali Anda punya banyak waktu khusus untuk ini.

Perubahan dapat diselenggarakan dengan lebih mudah pada tingkat desa atau kota kecil, tetapi saya kira cara yang terbaik untuk memulai 'revolusi sebatang jerami' ini, begitulah saya menyebutnya, sesungguhnya pada skala yang besar ... melalui suatu jenis usaha bersama. Pemerintah, koperasi-koperasi pertanian, para petani dan para konsumen—itu artinya semua pihak— harus memutuskan bahwa inilah arah pertanian yang hendak kita terapkan. Tentu, jika kita tidak mendapatkan suatu kesepakatan, kemungkinan untuk mewujudkan perubahan yang berarti dalam metode pertanian jauh dari kenyataan.

Ada yang lebih penting lagi, yaitu kita harus mengubah pemahaman masyarakat tentang alam. Di Amerika, terutama, keadaan di halaman-halaman sudah sering menjadi tidak alami sama sekali. Misalnya lihatlah halaman universitas ini. Anda lihat ada taman yang indah, lembut dan enak dipandang mata, di sana-sini ditanam berbagai tanaman. Daun-daun itu sungguh-sungguh cantik, tetapi pohon-pohon dan rumput-rumput itu bukanlah asli dari lingkungan sini. Semua tanaman itu dibawa ke sini oleh manusia demi keuntungan manusia. Tamanan-tamanan asli sudah dikubur atau dibasmi ... dan, sebaliknya, semua rumput tak asli dan eksotik ini disuapi dengan makanan. Mengembalikan lanskap buatan ini ke aslinya akan bermanfaat bagi manusia dan semua bintang dan segala tanaman yang hidup di bumi. Tetapi, tidak semua orang menghargai pandangan ini ... Akan ada lalat, nyamuk dan serangga-serangga lain yang tidak disukai manusia, dan beberapa orang akan mengatakan, “Betapa tak enaknya. menjengkelkan!”

PLOWBOY: Beberapa minggu yang lalu Anda memulai perhelatan ke Amerika di California. Apakah Anda juga melihat ada “alam buatan” di sana?

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-09

Mengenang Masanobu Fukuoka (8)

Ketenangan hidup dekat dengan alam.
Fukuoka dan bola benih di tangannya.
Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


Di masa depan, saya berharap lahan-lahan padi, jelai dan bulir-buliran itu akan terus menjadi lebih baik dan terus meningkat hasilnya. Bagaimana pun, saya toh menanam tanaman-tanaman pangan yang jenisnya sama dengan yang ditanam di desa, ya .. bahkan sama dengan yang ditanam di seluruh Jepang. Tetapi sebagai hasil dari mempraktikkan pertanian alami, sekarang saya telah “mengembangkan” beberapa varietas baru, hanya dengan cara membiarkan tanaman-tanaman itu bertumbuh di lahan. Dengan benih-benih varietas asli, saya kira ladang saya memiliki potensi untuk mencapai produktivitas paling tinggi di Jepang ... dan kemungkinan di dunia, sejak negara saya memimpin tingkat rata-rata produktivitas padi yang paling tinggi di seluruh planet! Jika pertanian alami diterapkan secara tetap, tak akan ada alasan mengapa kemampuan berproduksi dari setiap petak lahan tak dapat mencapai lebih tinggi daripada tingkat budidaya berbasis ‘bahan-bahan kimia” ... dan pada akhirnya —yang secara teoretis mungkin dicapai— akan mendekati capaian panen yang tertinggi, karena banyaknya jumlah energi matahari yang dapat ditampung oleh suatu lahan.

PLOWBOY : Saya mengandaikan bahwa —dengan angka capaian produksi yang sedemikian bagus— Anda telah dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan seluruh keluarga dengan bertani secara alamiah.

FUKUOKA : Saya belum mendapatkan banyak uang dari pertanian ini, tetapi karena biaya yang saya keluarkan begitu rendah sehingga saya tak pernah mungkin terperosok ke dalam bahaya jadi bangkrut. Ada satu hal, setelah saya mulai bertani secara alami, kemudian beredar kabar bahwa jeruk-jeruk dari kebun saya adalah yang paling besar dan paling manis di seluruh desa. Buah-buah itu menghasilkan pendapatan yang paling besar. Dan, setelah usaha pertanian saya meningkat dan tanah terpulihkan, berbagai hal menjadi lebih mudah bagi kami. Ya, saya telah mampu menyelenggarakan suatu kehidupan —meskipun sederhana— berdasar praktik pertanian alami.

PLOWBOY : Apakah pertanian ‘mainstream’ dengan kemapanan itu tertarik pada gagasan Anda?

FUKUOKA : Saya mengusulkan suatu perencanaan pertanian dengan cara pembenihan secara berkesinambungan antara bulir-buliran musim dingin dan padi di berbagai jurnal pertanian 25 tahun yang lalu. Sejak saat itu, metode itu sering muncul dalam media cetak, dan saya mengajukannya ke tengah-tengah masyarakat lewat program-program radio dan televisi ... tetapi tak seorang pun menaruh perhatian.

Selama sekitar 15 tahun terakhir, tampaknya sikap masyarakat terhadap pertanian alami telah mulai berubah. Para ilmuwan penelitian pertanian menilai tinggi teknik "tak mengolah tanah" (yang saya kembangkan). Mungkin Anda dapat juga mengatakan pertanian alami berkembang menjadi kontroversi! Para wartawan, profesor, petani, peneliti di bidang teknik, dan para mahasiswa berduyun-duyun datang mengunjungi ladang saya dan tinggal di gubuk saya di atas bukit.

Dengan menyelami gaya hidup alami dan memperlihatkan kebergunaannya .. saya merasa saya sedang memberikan pelayanan kepada kemanusiaan ... Tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil panen, tetapi budidaya dan penyempurnaan terhadap kemanusiaan.

PLOWBOY : Mengapa tiba-tiba muncul begitu banyak ketertarikan pada teknik bertani yang Anda kembangkan?

FUKUOKA : Saya kira itu karena banyak orang sudah berada sangat jauh dari kedekatan dengan alam. Semua di dunia modern ini telah menjadi begitu berisik dan terlalu rumit, dan orang ingin kembali ke kehidupan yang sederhana dan tenang ... semacam kehidupan yang saya hayati sebagai seorang petani biasa. Anda tahu kan, semakin jauh manusia terpisah dari alam, mereka semakin terlempar jauh dari pusat suatu realitas yang tak berubah dan tak bergerak. Pada saat yang sama dampak sentripetal mencuat, dan menimbulkan suatu hasrat untuk kembali ke alam —pusat yang sesungguhnya— dan itu terjadi pada saat manusia sedang menjauhinya. Saya yakin bahwa pertanian alami bersumber dari pusat kehidupan yang tak berubah, tak bergerak.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-08

Mengenang Masanobu Fukuoka (7)

Untuk menanam sayuran, saya cukup sedikit membuka bagian lahan di mana terdapat gulma atau rumput-rumputan dan di situ saya meletakkan benih-benih. Tak perlu menutupnya dengan lapisan tanah .. Saya hanya mengembalikan rerumputan yang terpotong itu untuk menutupi benih sebagai mulsa alami. Biasanya rumput-rumput yang muncul lagi harus dipotong lagi dua atau tiga kali setelahnya untuk memberikan dorongan awal agar benih-benih itu mulai berkecambah, tetapi kadang-kadang hanya perlu satu kali saja. Sayuran yang ditanam dengan cara ini akan jadi lebih kuat daripada yang dianggap orang. Pada kenyataannya, hasil yang Anda peroleh meningkat jika ada berbagai rerumputan yang tumbuh dengan subur .. tetapi agar memang berhasil, Anda harus benar-benar kenal dengan siklus tahunan dari berbagai gulma dan rerumputan setempat, dan Anda harus mempelajari jenis-jenis sayuran yang paling cocok dengan mereka.

Padi yang ditanam secara alami tak sedikit jumlah anakannya.
Malah bisa lebih banyak ketika tanah semakin dipulihkan kondisinya.
Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


Fukuoka dan padi yang tengah menguning. Dalam perkembangannya,
hasil panen mencapai satu ton untuk 1.000 meter persegi, satu kilogram per satu meter persegi.
Sepuluh benih per satu meter persegi. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY : Apakah Anda pernah menemui suatu masalah yang sungguh-sungguh serius yang terkait dengan penyakit atau hama serangga setelah puluhan tahun mempraktikkan pertanian alami?

FUKUOKA : Sejak saya mengembalikan lahan itu ke kondisi alamiah, saya tak bisa mengatakan bahwa saya pernah mengalami suatu masalah yang sungguh-sungguh sulit berhadapan dengan serangga atau penyakit. Bahkan ketika tampaknya ada sesuatu yang keliru dan tanaman-tanaman pangan itu tampak akan segera hancur, alam tampak selalu memberikan suatu bentuk kemudahan kepada saya, pada akhirnya!

Tentu, saya melakukan kesalahan-kesalahan ... seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang petani. Namun, saya tak pernah sungguh-sungguh menganggapnya sebagai suatu kesalahan! Kembali ke permulaan, misalnya, ketika 70 persen luasan suatu lahan sudah jadi tak subur dan tak produktif dan 20 sampai 30 persen masih sangat produktif, saya memandang hasil panen saya yang terbatas toh sebagai suatu keberhasilan. Saya perhitungkan jika hanya sebagian kecil dari suatu lahan dapat menghasilkan, saya dapat mengatakan bahwa untuk sisa lahan selebihnya saya sudah berhasil membuatnya jadi produktif. Tetangga-tetangga saya tidak akan pernah puas dengan lahan seperti itu ... tetapi saya memandang “kesalahan” yang saya lakukan sebagai suatu petunjuk atau pelajaran. Satu di antara banyak penemuan yang saya lakukan pada tahun-tahun awal itu adalah bahwa supaya mencapai keberhasilan dalam bertani secara alami, Anda harus mampu mengendalikan harapan-harapan Anda sendiri. Harapan akan hasil yang muncul dalam pikiran itu seringkali tidak tepat atau tidak realistis ... dan dapat membawa Anda untuk mengira bahwa Anda telah membuat suatu kesalahan jika harapan itu tak terpenuhi.

PLOWBOY : Bagaimana dengan rumput-rumput liar dan gulma yang tumbuh persis di antara tanaman-tanaman pangan Anda itu? Apakah rerumputan itu tidak akan menjadi pada akhirnya tak bisa dikendalikan sama sekali?

FUKUOKA : Sebagai ganti menggantungkan diri pada herbisida atau budidaya dengan mesin-mesin untuk mengendalikan gulma, saya telah hampir selalu menggunakan tanaman-tanaman legum dan tumbuhan tutupan tanah yang lain untuk membatasi penyebaran tumbuhan-tumbuhan yang kurang membantu. Saya juga meletakkan jerami di atas lahan sebagai mulsa yang akan menekan pertumbuhan gulma dan akan membuat tanah mampu menahan kelembaban sehingga mau melembagakan benih-benih selama musim gugur yang kering.

PLOWBOY : Rasanya yang Anda jelaskan ini seperti suatu metode bertani yang membutuhkan porsi tenaga kerja sangat rendah dan sangat ideal. Tetapi bagaimana dengan hasil panen dari tanaman-tanaman pangan Anda? Benarkah hasilnya lebih baik daripada metode pertanian konvensional?

FUKUOKA : Pada permulaannya harapan-harapan dan keinginan saya tidaklah banyak ... dan nyatanya hasilnya memang tidak hebat juga! Tetapi setelah kondisi tanah menjadi mapan dalam perjalanan waktu dan lahan-lahan itu kembali ke keadaan alamiahnya, hasil tanaman saya terus bertambah secara tetap. Saya tak pernah mengalami suatu perubahan yang sangat mencolok, tetapi pada akhirnya saya temukan bahwa saya dapat menanam padi tanpa membajak atau menggenangi lahan selama musim panas, dan masih tetap menghasilkan sebanyak petani-petani lain yang menggunakan mesin-mesin dan bahan-bahan kimia ... bahkan kadang-kadang lebih banyak. Produksi saya sekarang sudah mapan, sekitar 1.300 pon (~590kg), atau 22 karung, untuk setiap seperempat akre (~1.000 meter persegi), baik untuk buliran-buliran musim dingin maupun untuk padi. Ini mendekati capaian yang tertinggi di Jepang!

BERSAMBUNG ke Mengenang Masanobu Fukuoka (8)

Read More...

2009-02-07

Mengenang Masanobu Fukuoka (6)

Sejauh proses penanaman berlangsung, secara gampang saja saya menyebarkan benih-benih gandum hitam dan jelai di atas lahan-lahan terpisah selama musim gugur ... Sementara itu padi pada saat itu masih tegak berdiri. Beberapa minggu kemudian saya menanen padi, dan kemudian saya sebarkan jeraminya kembali di atas lahan sebagai mulsa. Dua jenis tanaman bulir-buliran yang tumbuh di musim dingin biasanya dipanen sekitar tanggal 20 Mei .. tetapi sekitar dua minggu sebelum tanaman-tanaman itu sudah sepenuhnya jadi tua atau matang, saya menyebarkan benih padi persis di atas tanaman-tanaman tadi. Setelah gandum hitam dan jelai dipanen dan dipotong, saya sebarkan jeraminya kembali di atas lahan untuk melindungi benih-benih padi. Saya juga menanam tumbuhan semanggi dan rumput-rumputan di atas ladang yang sama. Tanaman-tanaman legum disebar di antara tanaman padi pada hari-hari awal musim gugur. Saya tak perlu merasa khawatir dengan adanya gulma .. rumput-rumputan itu cepat sekali tumbuh kembali!

From Pertanian Alami - Natural Farming
Caption: Jika Anda lihat lebih dekat, benih-benih mulai tumbuh di antara jerami dan bakal rumput-rumputan.

Di atas lahan seluas satu seperempat akre seperti milik saya itu, satu atau dua orang dapat melakukan semua pekerjaan menanam padi dan bulir-buliran musim dingin hanya dalam beberapa hari saja, tanpa perlu menggenangi sawah selama seluruh musim ... tanpa menggunakan kompos, pupuk kimia, herbisida atau semua bahan kimia yang lain ... dan tanpa membajak satu sentimeter pun terhadap lahan itu! Rasanya tak ada cara yang lebih sederhana lagi untuk menanam bulir-buliran.

Sedang untuk jeruk, saya menanam beberapa varietas di sisi berbukit di dekat rumah saya. Seperti telah saya katakan, saya mengawali pertanian alami setelah perang hanya dengan satu petak tanah saja, tetapi secara bertahap saya mendapatkan luasan lahan tambahan dengan mengambil alih petak-petak lain yang berbatasan berupa lahan-lahan tidur dan kemudian menggarapnya dengan tangan saya sendiri. Pertama-tama saya harus mengondisikan kembali tanah liat merah dengan cara menanam tumbuhan semanggi sebagai tanaman penutup dan membiarkan rumput-rumputan tumbuh lagi. Saya juga menanam beberapa sayuran —seperti tanaman bit daikon Jepang— dan membiarkan predator-predator alamiah memakan hama berupa macam-macam serangga. Sebagai dampak dari tebalnya rerumputan dan tumbuhan semanggi, lapis permukaan dari lahan kebun telah berkembang menjadi gembur selama 30 tahun terakhir, warnanya hitam dan banyak cacing tanahnya dan berbagai kandungan organik. Di kebun saya itu sekarang sudah ada pinus dan pohon sedar, beberapa pohon buah pir, sejenis pohon buah kesemak, buah lokuat, kersen Jepang, dan berbagai varietas tanaman asli yang tumbuh di antara pohon-pohon jeruk. Saya juga punya pohon akasia yang memiliki kemampuan menangkap nitrogen, yang membantu memperkaya tanah di kedalaman bumi. Jadi dengan cara menanam pohon-pohon yang tinggi untuk menahan terpaan angin, lalu tananam-tananam jeruk di bagian bawahnya, dan hijau-hijauan serasah penutup tanah, saya temukan suatu cara pemeliharaan lahan secara mudah dan membiarkan kebun itu mengelola dirinya sendiri!

PLOWBOY : Bukankah Anda juga menanam sayur-sayuran di kebun dapur hidup?

FUKUOKA : Sebenarnya, saya menanam sayuran dengan cara setengah liar di antara rumput-rumputan di seluruh bagian bukit. Di kebun saya sendiri saya menanam burdok, kubis, wortel, sawi mustard, kacang-kacangan, lobak, dan banyak macam herbal dan sayuran lain. Tujuan dari metode budidaya ini adalah menumbuhkan tanaman-tanaman pangan sealamiah mungkin di atas tanah yang jika tidak akan jadi tak terurus. Jika Anda mencoba berkebun dengan menerapkan teknik-teknik peningkatan hasil, upaya Anda itu akan sering berakhir dengan kegagalan sebagai akibat dari kejangkitan hama atau penyakit. Tetapi jika berbagai jenis rerumputan herbal atau tanaman pangan lain dicampurkan dan ditumbuhkan di antara vegetasi alamiah, kerusakan karena hama akan jadi rendah. Anda tidak akan perlu menggunakan semprotan atau bahkan mengambil kutu-kutu itu dengan tangan.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-06

Mengenang Masanobu Fukuoka (5)

Caption: Tanaman buah-buahan berdampingan dengan sayuran. Jangan sampai ada lahan yang terbuka dan tak terpakai. Kecuali untuk menjaga kelembaban tanah, sayuran dan rumput-rumputan menjamin ketersediaan kandungan sari makanan untuk tanah dan tanaman serta mengendalikan penyakit dan hama. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming

Setelah mengamati proses alami itu, saya berpendapat bahwa rutinitas memindahkan bibit padi ke lahan atau menggenangi sawah adalah kegiatan yang sama sekali tidak alami. Saya juga berpendapat bahwa praktik-praktik yang selama ini sudah jadi kebiasaan seperti memberikan pupuk di sawah dengan kompos yang telah disiapkan terlebih dahulu, membajak sawah, dan menyiangi sampai bersih adalah kegiatan yang sama sekali tidak perlu. Semua penelitian saya sejak saat itu mengarah kepada prinsip tidak melakukan ini atau itu. Praktik pertanian yang telah saya jalani selama 30 tahun ini mengajarkan pada saya bahwa lebih baik jika para petani itu tidak melakukan apa-apa sama sekali!

Orang sering berpikir, dengan kesombongan dan kebodohan mereka, bahwa alam membutuhkan bantuan mereka agar bisa berkembang. Padahal, yah, yang benar adalah bahwa alam sesungguhnya (dapat) melakukan semuanya itu jauh lebih baik tanpa “bantuan” dari manusia! Jika lahan sudah jadi sehat dan mampu bekerja sendiri, pertanian alami —atau “tanpa campur tangan manusia”— menjadi suatu kemungkinan yang nyata. Namun, seperti tampak jelas dari percobaan di kebun jeruk saya, kondisi (kesuburan) semacam itu tidak akan bisa tercapai begitu saja. Di Jepang and negeri-negeri pertanian yang lain, lahan-lahan itu telah dibajak-bajak dengan mesin-mesin selama berpuluh-puluh dekade .. dan sebelumnya juga sudah diputarbalik oleh sapi, kerbau dan kuda. Di lahan-lahan seperti itu, Anda tidak akan mencapai hasil yang bagus pada permulaannya, jika Anda begitu saja menghentikan kegiatan bertani dan kemudian tak melakukan apa-apa saja sekali (do-nothing agriculture). Lahan tanah haruslah pertama-tama diberi kemungkinan untuk memulihkan dirinya sendiri. Kesuburan kemudian dapat dipertahankan dengan cara menutup permukaan lahan dengan berbagai bahan organik dan (terutama) jerami yang semuanya akan membusuk ke dalam lahan.

PLOWBOY : Untuk orang-orang yang mungkin tak akrab dengan buku Anda, Revolusi Sebatang Jerami, bisakah Anda meringkas praktik-praktik dasar yang Anda kembangkan dalam sistem penanam secara alami untuk menumbuhkan bulir-buliran, sayuran dan jeruk.

FUKUOKA : Pertama-tama, saya menerapkan empat prinsip pokok. Pertama, JANGAN MEMBAJAK ... maksudnya, jangan membalik atau membongkar tanah. Sebaliknya, saya membiarkan bumi membudidayakan dirinya sendiri dengan cara membiarkan masuknya akar-akar tumbuhan ke dalam tanah dan dengan cara membiarkan kegiatan menggali yang dilakukan oleh mikroorganisme, cacing tanah, dan semua binatang kecil dalam tanah.

Prinsip kedua adalah JANGAN MENGGUNAKAN PUPUK KIMIA ATAU PUN KOMPOS YANG DISIAPKAN TERLEBIH DAHULU. Saya temukan bahwa Anda sebenarnya dapat menghabiskan sari-sari makanan tumbuhan dari dalam tanah dengan cara menggunakan kompos secara sembarangan! Biarkan saja, bumi menjaga kesuburannya sendiri, sesuai dengan siklus keteraturan antara tumbuhan dan kehidupan binatang, (antara flora dan fauna).

Petunjuk ketiga adalah JANGAN MENYIANGI, baik dengan cara melakukan budidaya tanaman tertentu atau dengan pembasmi rumput-rumputan. Gulma memiliki bagian peranan penting dalam membangun kesuburan tanah dan menjaga keseimbangan komunitas biologis .. Maka saya melakukan praktik mengendalikan —daripada memusnahkan— gulma di ladang saya. Jerami sebagai tutupan tanah, atau tumbuhan semanggi ditanam berselang-seling dengan tanaman pangan, dan penggenangan secara sementara semuanya memberikan kemungkinan pengendalian gulma secara efektif di ladang saya.

Prinsip terakhir dari pertanian alami adalah JANGAN MENGGUNAKAN PESTISIDA. Seperti telah saya tekankan sebelumnya, alam berada dalam keseimbangan sempurna jika sama sekali kita biarkan. Tentu, serangga-serangga dan penyakit-penyakit yang merugikan akan selalu ada, tetapi umumnya tidak sampai ke suatu tingkat seperti yang terjadi jika diterapkan bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan untuk mengendalikan hama. Satu-satunya pendekatan yang paling masuk akal dan berpegang pada semangat kepedulian (sensible) terhadap pengendalian hama dan penyakit, saya kira adalah dengan cara menanam tanaman-tanaman pangan yang kuat di suatu lingkungan yang sehat.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-04

Mengenang Masanobu Fukuoka (3)

PLOWBOY: Ceriterakan pengalaman perubahan itu.

FUKUOKA: Ya, seperti kebanyakan anak muda, saya banyak punya pikiran luas melayang-layang dan sangat berat membebani diri saya tentang apa itu kehidupan .. dan saya sering terbawa masuk ke dalam sikap skeptis tentang kondisi hidup manusia. Keraguan saya jadi bertambah setelah saya mengalami sakit berat selama periode perubahan itu, sampai-sampai saya bertanya-tanya apakah saya mampu mengatasi persoalan saya itu.
















Caption: Padi yang dibudidayakan secara alami.
Gulma dibiarkan tumbuh bersamaan dengan padi.
Sumber: edd.osaka-sandai.ac.jp

Menjelang saya mulai sembuh dari sakit, saya mengalami sulit tidur dalam waktu yang lama. Jika itu terjadi lalu saya keluar di jalan-jalan. Pagi harinya, setelah mengalami situasi semacam itu, saat rasanya semua seperti mau meledak dari kepala saya, suatu cercah pencerahan menghampiri saya. Tiba-tiba saya merasa, seluruh keberadaan manusia tak ada maknanya dan tidak ada nilainya yang berharga sama sekali. Tak ada manusia yang tahu nilai yang sesungguhnya. Setiap tindakan yang dilakukan manusia adalah kesia-siaan. Semuanya upaya yang hampa. Saya juga melihat bahwa alam sesungguhnya tertata dengan sangat indah, ideal dan sangat kaya seperti apa adanya .. Karenanya, saya jadi yakin bahwa kita semestinya bekerja sama dengan proses-proses alamiah, daripada mencoba “memperbaiki” alam dengan cara menundukkannya.

Saya sadar bahwa semua ini bisa terdengar sangat bertentangan dengan akal sehat, tetapi setiap kali saya mencoba menuliskan semua pengalaman itu, segalanya tampak memang begitulah keadaannya. Pencerahan itu bukanlah suatu hal yang mudah dapat dijelaskan kepada orang lain.

PLOWBOY: Mengapa?

FUKUOKA: Setiap orang yang memiliki pengalaman sama dengan saya akan memahaminya dengan nalurinya ... Tetapi ada hal yang dapat saya sampaikan untuk mereka yang tak memiliki pemahaman ini atau kepada mereka yang bahkan tak mencarinya. Misalnya, apakah Anda percaya ada yang dinamakan hantu? Pernahkah Anda melihat hantu? [Sambil tersenyum, ia menunjuk pada bahu pewawancara.] Apakah Anda tak melihat hantu itu tadi? Mereka yang tak pernah melihat hantu biasanya tidak akan percaya akan adanya hantu. Tetapi yang pernah mengalaminya, akan langsung percaya. .. Jadi tak ada pentingnya meyakinkan mereka.

PLOWBOY: Bagaimanakah perubahan pemikiran itu mempengaruhi diri Anda?

FUKUOKA: Saya segera keluar dari pekerjaan di Kantor Pabean. Lalu tahun berikutnya sampai sekitar dua tahun saya keliling Jepang. Saya bicara dengan banyak orang dan menguji pengalaman-pengalaman saya tadi. Kadang-kadang saya camping di gunung-gunung dan kadang-kadang saya memilih tempat di dekat sumber-sumber air panas. Setelah sampai di satu kota biasanya saya lalu tidur di kuil Buddha atau taman. Saat itu saya sebenarnya mulai berpikir-pikir tentang maksud saya untuk menyebarkan pemahaman baru yang saya dapat itu ke seluruh negeri .. Tetapi setiap kali saya membicarakan tentang tak bermaknanya keberadaan manusia, tak ada seorang pun yang tertarik pada apa yang saya katakan! Saya diabaikan dan dianggap sebagai orang eksentrik. Akhirnya saya putuskan untuk membuat agar orang memahami teori-teori saya, saya akan menunjukkan pada mereka dalam suatu cara yang nyata dan praktis. Saya sendiri juga memerlukan praktik itu, tentunya, untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya memang benar.

Karena saya percaya bahwa bertani adalah pekerjaan yang paling berarti dibandingkan dengan semua jenis pekerjaan lain, saya putuskan untuk kembali ke kampung asal saya dan menjadi seorang petani. Saya ingin melihat apakah saya dapat menerapkan teori saya bahwa pengetahuan manusia tentang pertanian yang telah ada selama ini sebenarnya tidak ada gunanya .. sehingga jika masyarakat tak mengerti kata-kata saya, saya dapat membawa mereka ke ladang saya dan memperlihatkan pada mereka kebenaran dari gagasan saya itu.

[Bersambung]

Read More...

2009-02-01

Tambahan Penghasilan Rp4 juta/3Bulan untuk Petani yang Menanam Kapulaga?

Pengalaman ini sudah dinikmati oleh pak Darmin dari kecamatan Langkaplancar, Ciamis. Dari 300-an rumpun perdu kapulaga, setiap tiga bulan, dia telah menghasilkan sekitar 700 kg kapulaga basah. Hasilnya sekitar Rp4juta. Belum seberapa ya? Tapi ini sudah sesuatu yang menjanjikan untuk kami para petani. Lumayan.

Kang Odo, juga dari Langkaplancar, baru panen pertama kalinya awal bulan Januari 2009 ini. Sudah satu setengah tahun ini dia membudidayakannya. Baru-baru ini dia berceritera mendapat ganti capai menanam kapulaga sampai sebesar Rp6,8 juta dari sekitar 7.000 rumpun yang dikembangkannya. Lumayan. Tentu.

Sudah mulai banyak petani mulai menanam di kecamatan Langkaplancar. Jumlah mereka bervariasi antara 25 s.d. 100-an orang petani di setiap desa, yaitu desa Jadimulya, Karangkamiri, Jadikarya dan Bojongbentar.

Kapulaga ini umumnya tidak membutuhkan perawatan khusus seperti menjada kondisi kelembabab tanah dengan menyiram air. Mereka menyukai tempat-tempat teduh di bawah pohon-pohon besar yang biasanya kondisinya lebih lembab.

Tapi pada umumnya hasil panen selama musim kemarau berkurang dibandingkan selama musim penghujan. Menurut pengalaman petani, turunnya bisa sampai sebanyak 20 persen dibandingkan dengan hasil panen selama musim hujan.

Namun, selama musim hujan, ada tantangan lain untuk para petani itu. Mereka kesulitan untuk mengeringkan. Dibutuhkan mesin pengering, tentunya, apalagi jika jumlahnya besar.

Alam sudah mengisyaratkan keseimbangan, tampaknya.

Read More...

2009-01-31

‘Pemanasan’ awal: Asosiasi Petani Kapulaga Ciamis

Para petani kapulaga Ciamis semakin mengukuhkan persatuan. Dengan membentuk koperasi, mereka siap menanam dan mengurus ketersediaan hasil bumi ini. Targetnya sampai satu tahun yang akan datang 50 ton per bulan kapulaga basah. Mudah-mudahan.

Perwakilan dari sebelas kecamatan di wilayah kabupaten Ciamis wilayah selatan bertemu dan telah mengukuhkan pembentukan Asosiasi Petani Kapulaga Ciamis. Kepengurusan telah dibentuk. Diketuai oleh Kunkun Herawanto dari kecamatan Langkaplancar.

Pertemuan petani kapulaga itu dilakukan di restoran Murasaki, Pangandaran, pada tanggal 27 Januari 2009. Total hadir sekitar sejumlah 70-an orang petani. Hadir pula perwakilan dari pemerintah daerah.

Masing-masing petani dari perwakilan tingkat kecamatan di situ bersepakat untuk membentuk suatu fungsi kesekretariatan sebagai kontak penghubung, baik untuk keperluan komunikasi, informasi dan koordinasi produksi, terutama tentunya untuk pengumpulan hasil bumi kapulaga.

Jika hasil-hasil awal telah lebih berbentuk, para petani itu juga mengancangkan akan segera mempertimbangkan suatu acara publik berupa deklarasi resmi dari asosiasi mereka. Kapan? Kita tunggu tanggal mainnya.

Kecamatan apa saja yang telah memberikan dukungan sebagai suaatu bentuk pemanasan awal ini? Kesebelas kecamatan itu masih berdekatan satu sama lain di wilayah bagian selatan kabupaten Ciamis, yaitu, Banjarsari, Cijulang, Cigugur, Cimerak, Kalipucang, Langkaplancar, Mangunjaya, Pamarican, Pangandaran, Parigi, Sidamulih.

Read More...

2009-01-26

Perkiraan hasil panen 7,9 ton gabah per hektar?

Kabar baik lagi dari desa. Padi alami di sawah yang mulai ditanam dengan metode intensif telah mulai menumbuhkan rata-rata 50 s.d. 60 malai setelah berusia 60 hari. Seandainya separuh malainya saja nanti benar-benar menghasilkan sesuai perhitungan standar, maka kita bisa yakin bahwa para petani reklaiming sesungguhnya menyimpan modalitas kuat mampu segera menyelesaikan masalah dasar produksi minimal dari budidaya padi. Dan karenanya, tentunya, juga mampu menggarap masalah ketahanan atau bahkan kedaulatan pangan.

Ini sebuah pernyataan. Tentu, tapi sayang, kami belum bisa memperlihatkan fotonya. Yang di sebelah ini baru foto padi percobaan dalam plastik. Dan, panen padi masih kita tunggu sampai satu setengah bulan lagi. Kabar ini berasal dari dan pernyataan ini kiranya disampaikan oleh pak Oman dan bu Wati dari dusun Bulaksitu, desa Banjaranyar, kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Keduanya adalah tokoh petani Serikat Petani Pasundan (SPP).

Pernyataan ini juga didasarkan pada percobaan kecil lain yang telah kami lakukan di depan rumah pakOman dan buWati. Padi yang kami tanam, satu lubang satu tanaman, di dalam plastik kresek seukuran diameter kira-kira 30 cm, tanpa kompos atau pupuk tambahan apa pun. Barangkali ini sebab mengapa jumlah malai hanya 14. Untungnya tanah di lahan pak Oman sudah cukup tingkat keasamannya, sudah mendekati netral. Malah ketika ditambahkan kapur, penampilan tanaman jadi kurang bagus. Tinggi tanaman sampai 120 cm. Yang terakhir ini sudah di luar kebiasaan pemandangan di antara para petani SPP.

Dari percobaan itu, didapatkan gabah per malai sebanyak 320 biji bernas. Ini juga suatu hal yang sangat mengherankan setidaknya bagi kami petani SPP. Kami tanyakan lagi, apakah memang benar begitu. Apakah semua malai sudah diperiksa dan dihitung bulir-bulirnya? Kami ulang ulang lagi pertanyaan itu. Pak Oman dan bu Wati lagi jua mengatakan ‘sudah’. Mengapa kami tanyakan lagi, sebab ini rasanya di luar kebiasaan. Setidaknya menurut catatan yang kami dapatkan dari si pencuat metode intensif ini, yaitu Henry Laulanié. Sebab, jika benar, ini artinya nanti bisa kami peroleh capaian panen lebih dari 3,5 ton gabah per 100 bata. Ini rasanya tak mungkin. Sepuluh kali lipat dari capaian konvensional kami? Mustahil.

Biasanya hasil panen padi di desa Banjaranyar baru mencapai 3,5 ton per hektar. Sedangkan, ceritera akangKunkun dari Langkap Lancar petani SPP baru mendapatkan 4,9 kwintal per 100 bata atau mencapai rasio 0,25 saja. Wah rendah sekali kan ..

Seperti telah kami ceriterakan dalam posting sebelumnya, nyaris sudah dua bulan lalu, penanaman padi secara intensif sudah mulai dicoba di antara para petani SPP di Ciamis, Jawa Barat. Keputusan ini juga termasuk luar biasa karena pada akhirnya hanya dua orang petani yang bersedia mencoba. Setidaknya kedua keluarga petani ini telah berani membulatkan tekad untuk keluar dari kebiasaan kovensional dalam menanam padi, sekalipun banyak sekali rintangan dan keraguan-keraguannya.

Berikut ini kutipan dari tulisan de Laulanié yang sudah diterjemahkan oleh Norman Uphoff yang memopulerkan metode baru itu ke seluruh dunia.

We propose starting with 25 x 25 cm spacing (16 plants per m2) up to 33 x 33 cm (9 plants per m2). In these two cases, if we have an average of 100 seeds per panicle, and if transplantation has been done with the closer spacing (25 x 25), there are 25 panicles per stem, which makes 25 x 16 = 400 panicles, or 40,000 seeds per m2. If 1,000 seeds typically weigh 25g, then 1 m2 provides 25 x 40 = 1,000g. This would give a yield of 1 kg per m2, which in turn makes 10 tons per hectare. For more widely spaced transplanting (33 x 33), 45 panicles per plant are required [rather than 25] to get the same number of panicles per 1 m2 (45 x 9 = 405), which results in 40,000 grains. Yield is then the same as for the narrower transplantation described above. [Note: with good plant, soil and water management, the number of grains per panicle can average 200 or even more.]

Kami masih perlu menimbang lagi, berapa berat rata-rata per 1.000 bulir gabah dari hasil panen ini. Pengandaian itu benar jika setidaknya hasil perhitungannya adalah bahwa seribu bulir berberat sampai 25 gram, seperti dikatakan Laulanié. Itu berat ‘tipikal’, katanya. Artinya, barangkali adalah ‘tabiat dasar’ dari perilaku tanaman padi.

Sebagai suatu pernyataan yang berstatus ‘dugaan’, kami sendiri lebih condong menyatakan prediksi capaian panen petani SPP Banjaranyar dapat mencapai antara satu sampai 1,1 ton per 100 bata atau 7,9 ton gabah per hektar. Hitungan standar deLaulanié per tanaman padi, minimum rata-rata 25 malai produktif, dengan hasil panen minimum 100 bulir bernas.

Tentu, kita berterimakasih kepada mas Tanto atau Eddy Suhermanto, kawakan petani padi organik dari Sleman, Yogyakarta, yang telah membagikan benih padi Pandawangi yang terpilih ini. Hatur thankyou, mas. Bagaimana kami balas budi baikmu..*


Acuan berguna:

Read More...

2009-01-24

Adakah yang bisa dipegang petani dari kata-kata indah Obama?

Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental.

Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya.

Itu kata-kata presiden Amerika Serikat yang baru. Orang hitam, lagi. Korupsi, ketidakadilan, kekejian, penindasan dan penekanan pada kaum miskin, apalagi di pedesaan seperti di wilayah kami, pada kenyataannya terus-menerus terjadi. Sejauh mana janji kerjasamanya menjadi manfaat bagi petani.. Yang kami perlukan sangatlah sederhana .. Mudah-mudahan kata-kata bagus dan indah seperti angin surga itu tak perlu kami ragukan telah menjadi suatu kenyataan yang sangat jauh dari kenyataan ..

Coba perhatikan lagi yang telah kami tekan dengan huruf berwarna merah .. "ladang subur, air bersih mengalir, tak ada kelaparan, jasmani dan ruhani .." Apakah ini tak terlalu indah untuk lebih baik dilupakan ..

Rasanya para petani harus lebih banyak belajar untuk tidak berharap apa pun, kecuali pada keringat dan kerja keras. Jangan sampai kita dininabobokan ..

Acuan:
Teks pidato pelantikan presiden AS Barack H Obama dari Antara.co.id

Read More...

2009-01-21

Cara petani SPP menanam kapulaga ..

Petani mana tak tertarik menanam kapulaga sekarang ini .. Kalau rumpun kapulaga sudah jadi, setiap tahun dapat dipanen sampai tiga kali. Sekali panen dapat mencapai 900 kilogram kalau petani penanam memiliki sampai seluas areal kapulaga sampai 200 bata (2.800 m2), sebagai ukuran lahan gantungan hidup yang umumnya didambakan petani di Jawa Barat. Satu kilogram kapulaga basah sekarang harganya sudah kita target sampai Rp15ribu lho ..

(Nanti di posting lain akan kita ceriterakan berapa pendapatan petani yang dikatakan ‘berhasil’ menanam kapulaga. Sabar ya ..)

Bibit kapulaga yang tingginya sudah mencapai 70 s.d. 80 sentimeter dan memiliki dua atau tiga daun telah siap ditanam di lahan. Persiapkan lahan seluas 1,5 x 1,5 meter untuk setiap satu bibit tanaman. Bibit ditanam dangkal. Jangan dalam-dalam.

Dalam waktu satu tahun sudah akan terbentuk suatu rumpun kapulaga yang bisa mencapai diameter antara 50 s.d. 60 sentimeter. Petani dari Ciamis biasa menyebutnya kira-kira ‘seukuran nyiru’. Rumpun ini akan terus melebar, sehingga sudah perlu disiapkan lahan setidaknya sejumlah yang telah disebutkan di atas.

Setelah dua minggu sampai satu bulan setelah bibit ditanam, sudah mulai bisa mulai diberikan pupuk. Tentu dianjurkan pupuk kandang. Pupuk akan merangsang tanaman tumbuh lebih sehat pada fase pertumbuhan. Demikian pemupukan boleh diberikan secara rutin secukupnya.

Dalam waktu sekitar enam sampai tujuh bulan, rumpun kapulaga ini sudah akan memiliki sampai sekitar enam atau tujuh batang pula. Alias setiap bulan akan muncul satu batang baru. Dan tentu juga sudah mulai berbuah. Sudah bisa mencapai 10 buah manggar buah kapulaga. Cepat kan? Dan nyaris petani tak banyak bekerja.

Peremajaan juga terus berlangsung. Dari pengalaman petani kapulaga, induk akan segera mati dalam waktu dua tahunan. Kapulaga tampaknya adalah jenis tanaman ‘perennial’, alias dua tahunan. Tapi anakan-anakannya terus bertambah kok ..

Kapulaga juga tidak membutuhkan banyak sinar matahari, sehingga bisa ditanam di bawah pohon-pohon besar yang lain, seperti sengon atau albasia, kopi, kelapa, dll. Artinya, petani juga tak perlu menyediakan tambahan lahan tanah untuk membudidayakan kapulaga.

Bagaimana dengan kebutuhan air untuk kapulaga? Tunggu ya ..

Read More...

2009-01-17

2009: Siapa mau beli kapulaga kering dari kami?

Teman-teman sekalian, Selamat Tahun Baru 2009! Sukses selalu! Ada kabar baru dari Ciamis, Jawa Barat.

Baru-baru ini beberapa orang petani dari Serikat Petani Pasundan (SPP) dari wilayah kabupaten Ciamis sudah mulai berinisiatif untuk lebih jauh melibatkan diri dan mendukung budidaya kapulaga. Malah menurut keterangan Kang Kunkun, salah seorang pemuka petani, SPP mendorong terbentuknya Asosiasi Petani Kapulaga Ciamis pada bulan Juni 2008. Anggotanya sudah mencapai 3.000 orang. Suatu langkah berarti, bukan? Entah apa pun nanti hasilnya, yang penting sekarang kita sudah mulai mencanangkan inisiatif.

Memang tampaknya tantangannya tak ringan juga. Pertama-tama adalah soal bibit. Masih belum banyak petani anggota SPP yang menanamnya. Sementara itu, siapa pun berniat membudidayakannya tentu akan harus mulai menanamnya. Nah, dari mana bibitnya. Akan harus ada "peng-awal", atau suatu "benih" yang menjadi pemulanya di masing-masing lahan petani, bukan? Harga per bibit tanaman sekarang sudah mencapai Rp1.500.

Lumayan mahal juga kan kalau diperhitungkan sebagai target jangka agak panjang (bukankah setiap orang wajib memiliki cita-cita?) setiap petani akan perlu mengelolanya sampai, misalnya, sebanyak umumnya luasan lahan yang mampu dikelola? Seluas 200 bata (atau 200 x 14 meter = 2800 meter persegi) adalah yang biasa diusahakan dan ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani.

Menurut pengalaman para petani, satu bibit selayaknya dipersiapkan untuk keluasan sampai satu meter persegi. Dalam waktu tak sangat lama, katanya sampai sekitar satu tahun saja, tanaman kapulaga sudah mulai memenuhi lahan di sekitarnya. Kapulaga akan menjadi rumpun, seperti tanaman empon-empon yang lain.

Menurut keterangan Kang Kunkun yang sekarang bertugas menjadi pengurus Unit Pengembangan Ekonomi SPP Ciamis, tapi juga di bagian Sektretariat SPP Ciamis, sekarang kiranya sudah dapat disiapkan 10 ton kapulaga kering setiap bulan. Tingkat kekeringan sampai 30 persen. Dalam waktu-waktu dekat yang akan datang ini, jika upaya pengadaan bibit menghasilkan manfaat, lahan kapulaga akan segera melebar secara bertahap. Artinya, kuantitas panen dapat meningkat.

Harga di Jakarta di tingkat mini supermarket di Ambassador, Casablanca sudah mencapai Rp5.400 per 60 gram dalam bentuk kapulaga kering, tak digiling (alias ~ Rp90.000/1kg). Malah di salah satu supermarket yang biasa didatangi para pendatang ekspat di kawasan Warung Buncit mencapai Rp5.100 per 30 gram (~ Rp170.000/1kg), juga dalam bentuk kering, tak digiling. Di situ juga ditawarkan dalam bentuk sudah digiling dalam kemasan 60 gram seharga Rp49.000.

Nah, siapa yang bersedia membantu memberikan afirmasi kepada para petani SPP? Berapa harga kapulaga kami, silakan negosiasi dan hubungi email blog ini: masadepanpetani@gmail.com. Atau hubungi Savitri W di nomor HP: 0816-168 9409; kantor: 021-8304153. Savitri sekarang bertugas di lembaga pendukung pengembangan pemasaran produk petani SPP, yaitu The Institute for Ecosoc Rights, Jakarta; alamat: Jl. Tebet Timur Dalam VI C No. 17, Jakarta 12820.

Buah atau biji-biji kapulaga ini dijamin sudah disortir dengan tingkat kecacatan yang terkontrol. Dapat dipastikan kapulaga hasil bumi SPP ini sesungguhnya berkategori "alami" kalau tidak dapat dikatakan (disertifikasikan sebagai) "organik". Pada hematnya pupuk harganya mahal dan pasokan tak teratur, maka lebih baik membuat kompos sendiri dengan memanfaatkan pupuk kandang secara optimal. Kita pastikan setidaknya kapulaga ini akan menyumbangkan tambahan mutu kesehatan tubuh yang memakannya.**

Read More...