Tampilkan postingan dengan label gerakan-sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan-sosial. Tampilkan semua postingan

2012-03-17

Apa kata peneliti UGM tentang kegagalan reforma agraria?

Ini hasil penelitian seorang peneliti dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, mengapa reforma agraria, kata dia, tak bisa menyelesaikan masalah kemiskinan. Identifikasi masalahnya kelihatannya masih “yang itu-itu juga” ..

  • UUPA masih berhenti sebatas kebijakan di atas kertas. Selama ini tidak ada usaha secara konsisten dan signifikan untuk mengimplementasikan undang-undang (UU) tersebut; UUPA kurang diimplementasikan.
  • tidak ada usaha secara konsisten dan signifikan untuk mengimplementasikan undang-undang (UU) tersebut

Read More...

2012-03-16

Gerakan Petani Dusun Ciècèng di Tasikmalaya

Tulisan ini pernah kami unggah di blog ini, tapi Google menyebut ada banyak "aktivitas aneh" pada akun kami. Apa lagi kalau bukan spams? Maka tulisan puenting bagi kami ini kami unggah lagi. Apalagi, apalagi .. tulisan ini juga sudah diacu oleh para peneliti internasional dalam bidang studi sosial dan politik pedesaan. Mohon mafhum dan maklum dengan keadaan lama kami tak mampu membula akun ini. Ini link html sebelumnya: Gerakan Petani Dusun Cieceng di Tasikmalaya.


Herdi Mismuri dan Prasetyohadi

BERIKUT ini adalah catatan urutan peristiwa gerakan petani dari warga dusun Ciècèng, desa Sindang Asih, kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Desember 1999 s.d. April 2003. Catatan ini merupakan bagian dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh Perhimpunan Karsa, Yogyakarta, yang akan segera terbit tahun 2007 ini. Semula catatan ini berasal dari catatan lapangan disusun oleh Herdi Mismuri, seorang pegiat Forum Pemuda dan Mahasiswa untuk Rakyat (FPMR) dari Tasikmalaya.

1917
  • Sebelum tahun ini, areal ini adalah lahan garapan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat desa setempat.

Read More...

2010-04-07

Hidup di Desa Akan Berarti sepanjang Masa

Oleh Rani Anggraeni

    Di sebuah desa yang bernama desa Sukajaya. Desa ini tanahnya subur dan indah dan mayoritas masyarakatnya sebagai petani penggarap lahan. Pada suatu hari seorang ibu petani mencari kayu bakar.
Tapi tiba-tiba ia melihat dua orang polisi yang sedang melakukan pemeriksaan lahan tanah. Di atas tanah tersebut akan dibangun sebuah gedung. Dan dalam areal lahan yang sangat luas akan ditanam kelapa sawit.
    Saat itu pula ibu itu langsung lari ketakutan sambil membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Tapi polisi itu melihatnya dan berkata,
    ”Hei, jangan lari!”
Dan ibu itu pun berhenti dengan rasa takut dan badannya gemetar.
    “Bu, jangan mengambil kayu bakar di sini. Ini hutan milik negara!” katanya dengan nada keras.
    ”Ta.. tap…tapi say…ya..anu Pak..anu Pak!’’ kata ibu itu penuh ketakutan sambil bersimpuh di hadapan petugas tersebut.
    “Tidak ada tapi-tapian, apa kamu tidak baca tulisan di tepi hutan itu hah?” Bentaknya.
    “Maaf pak, saya anu.., saya buta hurup pak!” jawab ibu itu.
    “Lagi pula sejak kapan ada aturan itu?” tanya si ibu sambil mencoba mengusir ketakutannya.
    ”Sejak dulu pun kami selalu selalu mengambil kayu bakar di sini. Lagi pula kami sudah lama menggarap lahan ini,“ lanjutnya.
    “Sudah saya bilang dari tadi, ini hutan milik negara!” jawabnya.
    “Tapi pak, sejak dulu kata leluhur saya tanah ini…”
    ”Jangan melawan!” bentak polisi itu. “Kalau kamu melawan, kamu akan dihukum! Sekarang silahkan cepat pergi dari sini!”

Read More...

2010-03-27

"Masalah Tanah" menurut Kepala BPN Joyo Winoto

Teman-teman, barangkali lebih baik terlambat daripada tidak menyadari sama sekali apa sesungguhnya pemahaman pemerintah kita tentang ketakadilan kepemilikan tanah dan bagaimana caranya menyelesaikan. Dapat kita timbang-timbang ke mana bobotnya dan tanggapan pemerintah sendiri. Menurut hemat kami, justru masalah hambatan birokrasi pertanahan tidak disasar sebagai masalah inti dalam pendekatan strategis yang diangkat oleh Kepala BPN Joyo Winoto.

Cobalah teman-teman baca sendiri dari teks yang kami sajikan berikut ini, tapi ini baru sebagian dari keseluruhan tulisannya. Khusus kami kutipkan pada identifikasi masalah yang ditengarakan. Inilah pusat dan putar masalahnya. Jika pemahaman masalah saja tak tepat, maka konsekuensinya juga tak bisa diharapkan tepat pula.

Nah, baru-baru ini kami temukan tulisan menarik dari Kepala Badan Pertanahan Negara Joyo Winoto. Jika diindonesiakan barangkali judulnya adalah "Mengangkat Kebijakan Pertanahan dan Administrasinya di Indonesia ke Tahap Berikutnya dalam Rencana Strategis dari Badan Pertanahan Negara". Tulisan sepanjang 24 halaman A4 ini dipresentasikan di suatu konferensi yang diselenggarakan antara Bank Dunia dan Federasi Internasional dari Para Surveyor, bertemakan: "Kepemerintahan Tanah untuk Mendukung Millenium Development Goals: Menanggapi Tantangan-tantangan Baru", Maret 2009.

Artikel ini dapat diunduh dengan klik di sini.

Masalah-masalah kritis dalam ekonomi politik Indonesia adalah kemiskinan, pengangguran, ketidakmerataan distribusi pendapatan, dan sengketa atau konflik tanah. Sekitar 34,9 juta warga (atau 14,4%) hidup di bawah garis kemiskinan. Dari antara mereka ini, sebanyak 66 persen tinggal di daerah perdesaan. Sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 56 persen dari seluruh penduduk desa. Mereka yang hanya memiliki sebidang tanah sangat sempit atau tidak memiliki tanah sama sekali sungguh-sungguh hidup dalam kemiskinan dan mereka ini bekerja sebagai buruh tani atau petani gurem yaitu bekerja di atau mengerjakan tanah orang lain atau mereka ini mengerjakan sebidang tanah yang sangat-sangat sempit. Sensus Pertanian 2003 memperlihatkan bahwa hampir separuh dari seluruh keluarga yang hidup atas usaha tani (hanya) menggarap tanah yang luasnya kurang dari setengah hektar.

Rasio pengangguran adalah 10,01 persen atau 23,1 juta orang. Angka pengangguran terselubung jauh lebih tinggi, mencapai 30,36 juta orang atau 27,60 persen dari seluruh angkatan kerja. Sektor industry tidak dapat cukup menyediakan pekerjaan untuk angkatan-angkatan baru yang masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Banyak penganggur ditarik masuk ke pekerjaan-pekerjaan di perdesaan, sehingga menggeser rasio luas lahan pertanian dan jumah penduduk. Tanpa peningkatan teknologi yang berarti, perubahan rasio yang kecil saja antara luas tanah dan jumlah warga mengisyaratkan pengurangan pendapatan perorangan dari para petani. Maka, kebanyakan warga miskin bekerja di sektor pertanian.

Dalam distribusi pendapatan, koefisien Gini terus meningkat dari 0,31 pada 1999 menjadi 0,33 pada 2002 dan 0,36 pada 2005. Hal ini mengisyaratkan suatu pelebaran senjang di antara tingkatan pendapatan dari warga miskin dan warga tak-miskin. Dalam konteks distribusi kepemilikian lahan pertanian, angkanya lebih buruk lagi, yaitu sekitar 0,6. Hal ini sebagian disebabkan oleh fragmentasi lahan pertanian keluarga yang terus-menerus terjadi, dan terus disahkannya hak-hak penggunaan tanah bagi perusahaan-perusahaan besar yang sudah memiliki sepersepuluh atau bahkan ratusan ribu hektar luasan tanah. Dari 25 juta keluarga petani, sebanyak 56,5 persen sekarang hanya memiliki setengah hektar. Ketimpangan dalam distribusi kepemilikan tanah menyebabkan munculnya masalah-masalah serius yang lain, terutama munculnya tanah-tanah yang pemanfaatannya sangat rendah (under-utilized), lahan tidur (idle) atau diterlantarkan; mungkin juga dipengaruhi oleh praktik-praktik “penimbunan tanah” atau alasan-alasan yang lain. Namun secara mengejutkan, lahan-lahan tidur atau terlantar itu diperkirakan mencapai 7,3 juta hektar. Ini adalah suatu masalah yang terlalu besar untuk diabaikan.



Semakin bertambahnya kemiskinan dan pengangguran dalam masa setelah krisis mengisyaratkan adanya suatu masalah yang mendasar. Perekonomian telah terus berkembang dari waktu ke waktu, tetapi kemakmuran gagal menetes di antara warga miskin dan para penganggur di tingkat akar rumput, terutama di kawasan perdesaan. Masalah utama tampaknya adalah rapuhnya struktur agraria yang mempersulit kebanyakan petani (petani gurem dan petani tak bertanah) untuk mengakses suatu areal tanah yang secukupnya dan untuk mengakses input-input produktif lainnya, termasuk pelayanan publik. Suatu pembaruan agraria yang serius diperlukan. Dari perspektif Badan Pertanahan Negara RI, suatu pembaruan agraria yang efektif harus direncanakan, dilaksanakan dan pemberian pelayanan-pelayanan publik yang terkait dengan masalah-masalah agraria haruslah ditingkatkan. Pembaruan ini membutuhkan informasi yang akurat dan bersifat kelembagaan serta suatu peningkatan kapasitas.

Read More...

2010-03-25

Dianto gets research grant fellowship to 'fuel the world'

We are very happy to hear that our beloved teacher of our teachers, named Dianto Bachriadi --who do not know him yet? please google him out-- is announced this month to be the recipient of a generous grant for his new, on-going, important academic research, entitled "Fuelling the World with Alternative Progress and Impacts of the Development of Agrofuel Industries of the Rural Communities in SE Asia" from the Asian Public Intelectuals program funded by the Nippon Foundation.

Marvelous, is not it?


You can also see in the state radio RRI website that along with Dianto there are other five fellows awarded.

Dianto has been 'ordained' by an international organization for rural poor of Brothers of the Human Being (Frères des Hommes) as the founder of the Rolling Stones political party in Indonesia. Read the story here. And now he is 'ordained' by senior researcher Taufik Abdullah as 'public intellectual'. Are you not happy, kang Gèpèng? The latest is his nickname.

He wrote different books, useful for you to realise the continuing injustice in Indonesia, like Land Grabbing in Tapos and Cimacan cases in W. Java, in which former president Soeharto unilaterally took over farmers' land for his own political interests ..

And his image is taken from Frères des Homme' website ..

Read More...

2009-08-31

Arab Saudi Mau Tanam Padi atau Menyikat Tanah Kita?

Sebenarnya berita ini sudah lama, setidaknya sejak April 2009, tapi rasa-rasanya banyak teman kok belum menaruh perhatian. Kamai, anak-anak sekolah, sudah dengar-dengar juga, tapi belum yakin tentang apakah benar atau tidak. Masakan berita seserius yang kami tautkan di bawah ini tidak benar? Siapa mau sumbang pendapat dan ceritera tentang hal ini? Sebab, negeri kita Indonesia termasuk di antara sasarannya.

Tentunya sambil kita berkenalan dengan satu blog yang menarik, bertajuk 'Krisis Pangan dan Pencaplokan Tanah-tanah di Tingkat Global -- Pemerintah-pemerintah dan kalangan bisnis korpoorasi membeli tanah dan lahan-lahan di negera lain supaya mereka bisa menanam tanaman-tanaman pangan untuk kepentingan kebutuhan mereka sendiri' (Food crisis and the global land grab -- Governments and corporations are buying up farmland in other countries to grow their own food - or simply to make money)

Coba klik dan baca baik-baik yang berikut ini ya ..

Tentunya agak sulit menanam padi di padang gurun. Lama dan sulit sekali kiranya untuk mengubah pasir jadi kompos. Mestinya lebih murah langsung terjun parasut ke negeri-negeri tropis saja seperti Indonesia kan untuk mendapatkan atau mencetak sawah? Lalu nanti padi yang ditanam, hasil berasnya akan mereka angkut ke sono. Padahal buruh-buruhnya adalah saudara-saudara kita sendiri yang diupah super murah? Begitukah?

Sementara itu, tingkat produksi padi dan beras kita masih belum mapan? Masih terus ada ancaman kelaparan bukan? Data kelaparan tidak ada yang tepat dan di-update terus-menerus secara independen, sehingga mudah dikatakan tingkat kemiskinan dan kelaparan menurun, soalnya sudah ada program BLT atau raskin atau beras ayam itu .. Biro Pusat Statistik kita katanya (dan ini benar, katanya) sudah dipesan oleh Presiden SBY, bahwa angka kemiskinan 'harus segini saja ya .. tak boleh lebih", supaya 'terbukti program partai berkuasa itu tak terbantahkan' (meskipun belum tentu benar?) ..

Siapa yang kiranya bisa mengonfirmasikan berita berjudul 'Mengubah Garis Tangan Petani' —yang diterbitkan oleh Kompas, Desember 2007, dan kemudian diterbitkan ulang oleh website pemerintah kabupaten Merauke,— bahwa sebuah perusahaan tersohor, tentunya bermodal besar itu, tak kaitan dengan siapa pun dari negara Timur Tengah yang dimaksudkan? Di Merauke, dikatakan, sedang digalakkan penanaman padi secara intensif model SRI di atas lahan seluas lebih dari 100.000 hektar .. Gila luas banget yah .. Apakah seharusnya dan memang perlu bahwa di Papua didahulukan penanaman padi sementara saudara-saudara kita di sana sudah memiliki sumber zat tepung seperti sagu? Mengapa sagu tidak dikembangkan juga? Apa ini yang nama 'proyekisme' itu?

Ayo, teman-teman, siapa yang mau melengkapi keterangan tentang peningkatan ironi di negeri kita ini?

Read More...

2009-08-30

Apa Kabar "PPAN"?

Barangkali menarik kita sekedar lihat dulu apa yang telah dikatakan oleh media dan sumber-sumber lain tentang Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN), yang disebut-sebut sebagai salah satu program pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu pada periode yang lalu.

Bagaimana dengan periode yang akan datang? Apakah masih akan diteruskan kemacetannya? Ataukah ada revisi, perbaikan, percepatan, dst.?

Siapa mau berbagi kabar tentang PPAN ini?

Berikut ini beberapa links berita tentang PPAN yang sejauh ini dapat dipantau dari berbagai media yang kami langganani. Lewat internet, barangkali sesedikit itu saja pantauan mereka tentang PPAN.


Read More...

2009-06-10

Produksi etilen di dalam tanah (2)

Pertanyaannya sekarang: Bagaimana oksida besi itu memicu terbentuknya etilen dalam tanah? Bentuk zat besi ini bereaksi dengan suatu ‘prekursor’ dari etilen yang sudah terdapat di dalam tanah. Dalam hal ini terjadi suatu reaksi yang kemudian menghasilkan terlepaskannya etilen. Penelitian kami membuktikan bahwa prekursor ini berasal dari tanaman itu sendiri; dan yang lebih penting adalah bahwa prekursor ini hanya (mampu) berakumulasi sampai ke suatu jumlah yang banyak [melulu] pada daun-daun yang telah jadi tua dari tanaman tersebut. Ketika daun-daun tua ini jatuh ke tanah dan membusuk, jumlah prekursor itu di dalam tanah jadi meningkat. Kemudian, jika keadaannya cocok untuk terjadinya mobilisasi oksida besi, etilen kemudian diproduksi atau dihasilkan.

Kami juga telah membuktikan bahwa berbagai spesies tanaman memiliki kuantitas yang berbeda dalam banyaknya jumlah prekursor yang kemudian terakumulasi ketika daun-daunnya menua. Hal ini penting diketahui supaya kita bisa memilih jenis spesies tanaman yang tepat digunakan sebagai tanaman-tanaman penutup tanah untuk meningkatkan kemampu tanah-tanah pertanian memproduksi etilen. Beberapa spesies tanaman yang menghasilkan konsentrasi tinggi untuk jumlah prekursornya adalah padi, phalaris, bunga krisan, avokat, bullrush, pinus radiata. Yang rendah hasil prekursornya adalah Dolichos, paspalum, lucerne dan bracken fern (pakis).

Jika kita lihat lagi, tidaklah terlalu mengherankan bahwa prekursor etilen hanya dapat berakumulasi pada daun-daun tua yang mati. Dalam dunia alamiah dari tanaman, daun-daun tua yang mati itu adalah, jika dikumpulkan, berupa gundukan daun kering yang berasal dan jatuh dari pohon ke atas tanah. Begitu pula kita tahu bahwa dalam kebiasaan pertanian kebanyakan daun-daun tua itu dirontokkan dan disingkirkan dari lahan ketika panen atau dengan cara memangkas atau dengan cara membakar sisa-sisa panen. Itulah sebabnya mengapa kemudian tanah-tanah pertanian biasanya jadi miskin dengan prekursor ini.

Benang merahnya, sekarang kita bisa mengidenfikasi bagaimana caranya agar keadaan tanah memenuhi persyaratan agar dapat memproduksi etilen, yaitu (1) pertama-tama harus ada kegiatan mikrobial aerobik yang intensif, setidak-tidaknya pada bagian perakaran, untuk mamastikan terbentuknya suatu bentuk mikrositus anaerobik yang tidak ada zat-asamnya; (2) keadaan pada bagian mikrositus haruslah cukup tereduksi [kekurangan zat-asam] agar dapat memobilisir oksida besi yang akan memicu produksi etilen; (3) konsentrasi nitrogen-nitrat dalam tanah harus dijaga agar hanya sejumlah sedikit, agar kandung zat besi ferrous dapat diangkut; (4) harus terdapat suatu cadangan prekursor etilene yang jumlah yang memadai.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-06-06

Diagram Siklus Zat Asam dan Etilen

From Pertanian Alami - Natural Farming


Mohon di-klik gambar di atas ini untuk dapat membaca keterangan-keterangannya secara lebih jelas ..

Sumber:
Paul W. Syltie, How Soils Work, hlm.99

Read More...

2009-06-05

Produksi etilen di dalam tanah (1)

Penelitian kami memperlihatkan bahwa etilen (ethylene), suatu senyawa sederhana berbentuk gas, dihasilkan di 'daerah' mikrositus anaerobik tersebut. Lebih dari itu, etilen ini berfungsi mengatur kegiatan mikro-organisme tanah, dan sedemikian rupa mempengaruhi rasio kecepatan pembusukan bahan-bahan organik, daur nutrisi tanaman dan timbulnya penyakit tanaman. Konsentrasi etilen dalam atmosfer tanah jarang dapat mencapai satu sampai dua bagian per satu juta satuan. Etilen tidak bertindak dengan cara membunuh mikroorganisme tanah, tetapi dengan cara menidakaktifkannya secara sementara – ketika konsentrasi etilen menurun dalam satuan gelungnya. Mikroba-mikroba kemudian mulai aktif bergiat.

Etilen tanah dihasilkan dalam bentuk yang kita sebut sebagai “SIKLUS ZAT ASAM DAN ETILEN' (oxigen-ethylene cycle). Pada awalnya, mikroorganisme tanah menjadi banyak dalam bentuk zat-zat yang dikeluarkan dari akar-akar tanaman dan kegiatan itu mengakibatkan berkurangnya kandungan zat asam dari dalam tanah pada bagian-bagian mikrositus. Etilen kemudian diproduksikan dalam mikrositus-mikrositus itu dan dikeluarkan, sambil menonaktifkan kegiatan tanpa membunuh mikroorganisme tanah. Ketika semua ini terjadi keperluan zat asam berkurang sehingga zat asam itu dihembuskan kembali ke bagian mikrositus. Hal ini menghentikan atau sangat menurunkan produksi etilen, yang memampukan mikroorganisme tanah memulai kegiatannya. Adalah sangat baik dan bermanfaat bagi tanaman jika produksi etilen ini dipastikan terjadi sehingga perlu ditemukan cara-cara agar siklus ini bisa terulang secara terus-menerus.

Dalam keadaan tanah yang tak terganggu —seperti karena pembajakan— selayaknya yang terjadi di tengah hutan dan di kawasan padang rumput, etilen dapat secara terus-menerus dideteksi keberadaannya di dalam atmosfer tanah. Ini adalah suatu tanda bahwa perputaran zatasam-etilen terus terjadi secara efisien. Sebaliknya, pada kebanyakan tanah pertanian, konsentrasi etilen sangat sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. 'Perputaran zatasam-etilen' ini hanya dapat berlangsung jika etilen memainkan peranan penting dalam mengatur kegiatan mikroba di dalam tanah. Sudah sangat kita fahami dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam suatu ekosistem yang tak terganggu di mana terjadi suatu proses pembusukan secara seimbang dan lambat, daur nutrisi tanaman yang efisien dan penyakit tanaman yang ada di dalam tanah menjadi tidak penting sama sekali untuk diperhatikan. Ketika ekosistem ini terganggu karena penggunaan hutan untuk pertanian, situasinya jadi sangat berubah. Terjadi suatu kemerosotan yang mencemaskan dalam jumlah bahan-bahan organik tanah, sehingga keadaan kurang pangan pada tanaman menjadi sangat biasa dan penyakit tanaman meningkat drastis. Kita kemudian mencoba mengatasi masalah-masalah ini dengan menambahkan pupuk-pupuk tak-organik dan penggunaan pestisida kimiawi, yang ternyata jadi sangat menaikkan biaya produksi. Bukankah pada umumnya yang terjadi dalam kenyataan adalah bahwa semakin lama kita membudayakan tanah, akan semakin banyak input yang diperlukan untuk mempertahankan hasil panen.

Kami berpendapat bahwa keadaan ini dapat dibalik atau dikembalikan ke keadaan semula, setidaknya sebagian, jika kita dapat menciptakan keadaan yang sesuai dan diperlukan untuk memproduksi etilen di dalam bentuk keadaan tanah yang tak terganggu. Kita sekarang tahu bahwa salah satu sebab utama mengapa tanah-tanah pertanian yang terus diganggu atau dibajak itu gagal memproduksi etilen adalah karena teknik-teknik yang kita kembangkan ternyata  menimbulkan perubahan bentuk nitrogen di dalam tanah. Di dalam tanah-tanah yang tak diganggu, seperti di bawah hutan atau padang rumput, pada umumnya semua nitrogen yang ada berada dalam bentuk ammonium ditambah sedikit unsur mikro nitrogen-nitrat. Jika ekosistem ini diganggu karena kepentingan pertanian, pada akhirnya nitrogen tanah tampil dalam bentuk nitrat. Perubahan ini terjadi karena gangguan yang terkait dengan operasi pertanian itu merangsang kegiatan suatu kelompok tertentu dari bakteri yang mengubah nitrogen ammonium menjadi nitrogen-nitrat. Tanaman dan mikro-organisme dapat menggunakan kedua bentuk nitrogen itu, tetapi penelitian kami jelas membuktikan bahwa produksi etilen di dalam tanah jadi terhambat ketika jumlah bentuk nitrat itu melebihi suatu jumlah satuan mikro (trace amount). Nitrogen ammonium tidak memiliki suatu efek menghambat terhadap produksi etilen.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-06-03

Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat

Oleh Robyn Francis
Pendiri dari Djanbung Garden Permaculture Education

Tulisan ini kami terbitkan atas ijin penulisnya. > Lihat kutipan surat penulisnya.

Interaksi mikroba dalam tanah memegang peranan kunci dalam mengendalikan penyakit tanaman secara biologis, pembusukan bahan-bahan organik, dan daur bahan-bahan makanan pokok untuk tanaman. Jika kita memahami mekanisme ini dengan baik, maka kita dapat menemukan suatu metode yang lebih efisien untuk menanam tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman kebun.

Tetapi, sebelum kita membahas interaksi ini, pentinglah kita tegaskan kedudukan khas dari tanaman dalam ekosistem mana pun. Tanaman adalah satu-satu organisme hidup yang mampu secara langsung menggunakan tenaga matahari dan dalam proses ini tanaman mengubah tenaga matahari itu menjadi bentuk-bentuk (tenaga) lain yang bermanfaat untuk makhluk-makhluk hidup. Pigmen hijau atau klorofil yang terdapat pada daun tanaman menangkap tenaga cahaya matahari dan kemudian terjadi suatu interaksi di dalam daun dengan bantuan gas karbon dioksida yang terdapat dalam atmosfer yang menghasilkan senyawa-senyawa karbon yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk hidup yang lain, termasuk manusia, binatang, serangga dan jutaan mikro-organisme ketika makhluk-makhluk itu memakan tanaman atau sisa-sisa tanaman.

Meskipun tanaman memiliki kemampuan khas menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi yang diperlukan untuk tumbuh, untuk bermetabolisme dan menghasilkan bunga serta buah, tanaman juga memerlukan materi-materi lain yang tidak dapat dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Misalnya, tanaman memerlukan berbagai anasir, termasuk nitrogen, fosfor, belerang, kalsium, magnesium, potassium dan anasir mikro lainnya. Tanah adalah ‘tempat penampungan’ dari semua anasir itu, tetapi untuk mendapatkan pasokan yang memadai, tanaman harus mengubah lingkungannya di sekitar perakarannya agar dapat memobilisirnya. Cara yang paling penting yang dilakukan oleh tanaman untuk mencapai kemampuannya ini adalah dengan merangsang kegiatan mikroorganisme di dalam tanah yang berada di sekitar akar-akar dan kemudian mikroba-mikroba itu meningkatkan pengangkutan sari-sari makanan. Tanaman merangsang kegiatan mikroba dalam tanah dengan memberikan tenaga kimiawi dalam bentuk cairan akar dan kotoran-kotoran yang dikeluarkan dari perakaran. Sayangnya, dalam banyak metode konvensional yang diterapkan dalam pertanian, hubungan-hubungan ini dirusak sehingga timbul masalah tak lancarnya pengangkutan sari-sari makanan ke dalam tubuh tanaman dan menimbulkan penyakit tanaman.

Penelitian muta’akhir menunjukkan bahwa selama suatu tanaman hidup dan berkembang sebanyak 25 persen tenaga kimia yang dihasilkan dari daun-daun dalam bentuk senyawa-senyawa karbon ternyata hilang masuk ke dalam tanah di sekitar perakaran. Materi ini hilang entah dalam bentuk cairan akar atau sel-sel tanaman yang layu lalu mati. Tanaman telah bersusah payah menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi, tetapi kemudian seperempat tenaga itu hilang ke dalam tanah! Apakah bukan suatu kesia-siaan? Bagaimana memahami hal semacam ini? Salah satu pandangan menyatakan bahwa tak ada di dalam alam ini suatu ciptaan yang sepenuhnya sempurna, karenanya dapat dikatakan bahwa akar-akar tanaman itu bocor dan kebocoran itu tak terelakkan. Saya tak setuju dengan pemahaman ini. Sebab, jika suatu sistem makhluk hidup itu ternyata ‘bocor’ sampai memboroskan seperempat tenaga yang dihasilkan, maka masalahnya tentu terletak pada tingkat bagaimana tenaga itu dihasilkan atau diproduksikan. Tentunya ada suatu hal yang salah pada tingkat produksi. Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian. Konsekuensinya, tak dapat dikatakan lain bahwa tenaga (yang hilang) itu mestinya (telah) dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk-makhluk lain yang ada di sekitar perakaran, yaitu mikroorganisme. Jika tidak, mestinya evolusi sudah akan menghasilkan suatu seleksi tanaman menuju ke jenis-jenis tanaman yang lebih mampu bertahan dalam keadaan kekurangan tenaga.

Bagaimana masalah hilangnya tenaga kimiawi tanaman ini dapat difahami? Bagaimana tanaman ternyata masih dapat mendapatkan manfaat dari situasi kehilangan tenaga ini? Yang paling penting dipegang di sini adalah bahwa senyawa-senyawa itu menjadi sumber energi bagi mikroorganisme yang banyak terdapat di sekitar daerah perakaran (rhizosphere). Mikroorganisme ini berkembang biak secara cepat sehingga menghabiskan banyak zat asam di dalam tanah dalam ukuran yang sangat banyak yang berada di sekitar rhizosphere. Di situ terbentuklah suatu mikro-situs anaerobik yang tak lagi mengandung zat asam. Terbentuknya mikrositus anaerobik ini memegang peranan penting sehingga tanaman dapat menjadi sehat dan kuat.

Read More...

2009-05-27

Good evening, dear friends

By ANUNG
at Tengaran subdistrict, Semarang district

Good evening, dear friends, particularly to this blog’s readers and thanks to the administrator of the sekolahpetani.blogspot.com for reporting our activity.

Since five years ago I have been busy with collecting books, articles, etc. that relate to agricultural potentials. I found then great potentials in the commodity of organic rice. My interest increased to the peak when lack of synthetic fertilizers took place last year of 2008. A reliable information source says that average productivity of rice yield nationally only reaches as low as 4.7 tons per hectare.

I was also informed at the event of the third year of the national rice week in Sukamandi of W. Java in July 2008 about farming technique that helps improve rice productivity. There was introduced the system of rice intensification, apart from “IPAT-BO” (the intensification of aerobic-controlled organic rice cultivation) or other modes of intensification that render yield potential over 10 tons per hectare.

Upon returning from the event, we were stronger motivated to cultivate rice, apart from further emphasis that we were told about the promise of better quality of the rice. Our team agreed to try in Cikampek, Karawang and Subang, along the northern coast of W. Java. Meanwhile I myself organized teamwork in Banten.

Charged with conviction, I offered organic fertilizers to a couple of friends, named Fauzi and Mansyur. We were very convinced that rice plants would be better grown as compared to habits of local growers.

Here are some notes about the yield. In Cikampek, they grow IR64 variety with tillers reaching 120, resulting in 15 tons per hectare. In Subang, they grow gogo rice, i.e. rice variety usually grown in arid areas, resulting in 30 tillers. It happens that the rice plants endure drought about two weeks because they was no rain. However, after rain falls they only spray it with organic (liquid) fertilizers. In Karawang, the amount of rice seeds reaches 243 per panicle, much higher as compared to neighboring paddy that comes up with 127 seeds per panicle. The total yield is 8 tons per hectare.

In Serang district of Banten province, our trial shows a karung bag weighs up to 80 kg, compared to previous weight of 50 kg per bag. We manage to cook and try it. The rice is smooth and mellow. In the suburb of Cilegon town of Banten, rice paddy was prevented from birds’ attacks that savor rice seeds because the panicles are so drooping down for the seed weight. The fleet then attack neighboring paddy. The grower’s name was Tasbani who now already moves back to his home village in Indramayu for his success in Cilegon. In South Banten, petai trees yield much better that they are now paid at three million rupiah (USD 290) per tree as compared to earlier half million rupiah (USD 48) per tree because they apply organic fertilizer.

Those are some stories that we indeed are capable of improving quality and quantity of the yield, yet in small scale though. I do thank to my friend in Yogyakarta who helps us make the organic fertilizers that we do no longer need any synthetic ones. We are convinced that using any organic fertilizers would help us to have better rice yields.

May there be more growers who are willing to apply organic fertilizers on their farms. Let’s support the people who produce their own fertilizers that their yield be improved and spread all over agricultural lands of the country. The more organic farms, the bigger opportunities for the country to supply organic foods as part of organic commodities export opportunities. In the future we would have healthy foods that render our generation brighter facing harder challenges ahead.

Warm greeting of going organic 2010

Read More...

2009-02-20

Pertanian Alami 'Rishi-Kheti' di India

Oleh Partap C Aggarwal
Sumber: satavic.org/rishikheti


Hampir selama delapan tahun, sejak 1979 sampai 1987, keluarga saya dan saya sendiri tinggal dan bekerja di sebuah kampung yang terdiri dari 15 keluarga di dekat sebuah desa kecil bernama Rasulia di provinsi Madhya Pradesh, India.

Komunitas di mana kami tinggal dikenal dengan sebutan ‘Pusat Teman-teman Desa’. Didirikan satu abad yang lalu sebagai sebuah pusat pelatihan untuk anak-anak miskin. Selama berpuluh-puluh tahun cara kerjanya telah berubah bersamaan dengan munculnya pekerja-pekerja baru dan bersamaan dengan berubahnya keadaan lingkungan sosial ekonomi.

Sekarang pusat pelatihan ini menghadapi tiga permasalahan: (1) proses kerusakan tanah dan lingkungan alam yang berlangsung sangat cepat; (2) proses pemiskinan yang terus menjadi lebih parah yang melanda penduduk desa kami; dan (3) tak pedulinya kelompok masyarakat atas yang jumlahnya sedikit tapi memiliki banyak sekali hak istimewa. Kami yakin ketiga hal itu saling terkait satu sama lain, dan berakar pada gaya hidup masyarakat kota industri yang telah lama melanda negeri kami yang belakangan ini terus menyerang bagaikan badai.

Menghadapi kemunduran yang terus berlangsung ini, komunitas kami akhirnya mengambil sikap bahwa pergeseran yang memprihatinkan ini haruslah segera dihentikan. Tak ada pilihan lain, kecuali rasa wajib untuk memadukan kekuatan untuk mewujudkan suatu alternatif yang sehat dan menyemangati kehidupan kami. Warga kampung sepakat untuk menyelesaikan masalah ini. Kami sepakat memutuskan untuk mengubah gaya hidup kami, supaya kami tetap sadar tentang apa yang akan terjadi dengan kehidupan alternatif yang kami jalani.

Masalah kesehatan tanah dan nasib petani kecil mendesak kami melakukan perubahan drastis dalam praktik bertani. Secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, akhirnya kami sampai dekat dengan apa yang disebut ‘pertanian alami’, yang dipelopori oleh Masanobu Fukuoka. Di daerah Rasulia kami menyebutnya ‘rishi kheti’ (pertanian bijaksana). Pertanian alami idealnya adalah suatu bentuk pencarian untuk mewujudnyatakan kesatuan antara tanah, tanaman dan binatang, termasuk diri kita sendiri.

Orang-orang kaya di kota kami memiliki kekaguman tak sehat terhadap gagasan-gagasan dan barang-barang asing, tetapi masyarakat desa biasanya bersikap skeptis. Maka penting menekankan kepada saudara-saudara kami di desa bahwa ‘pertanian alami’ ini bukanlah diimpor dari Jepang sebagai suatu barang asing. Tapi menekankan bahwa cara-cara bertani yang sama sesungguhnya telah lama dipraktikkan dalam kebudayaan kami selama ribuan tahun.

Para petani menganggap tanah sebagai seorang ‘ibu’. Dilarang membajak, karena banyak di antara mereka percaya bahwa membajak akan merusak tanah sehingga berubah menjadi pasir.

Para petani alami memandang buah-buahan, umbi-umbian dan susu adalah jenis-jenis makanan yang paling cocok untuk manusia. Padi, jelai dan millet ditanam dalam jumlah sedikit, dan digunakan sebagai persembahan di api pengorbanan desa. Sisa-sisa makanan dipandang sebagai makanan sakral atau disebut Prasad dan dimakan begitu saja.

Millet ---Pertanian Alami - Natural Farming


Jika kami memiliki pilihan, kami lebih suka sayuran-sayuran yang tidak dibudidayakan, bulir-buliran dan sayuran liar daripada sayuran yang dibudidayakan. Sapi-sapi kami pelihara dan kami besarkan dengan perhatian penuh dan dengan kasih sayang. Kami sediakan luasan lahan tanah untuk penggembalaan dengan cara sengaja membatasi secara ketat terhadap luasan tanah pertanian.

Sebagai langkah pertama dalam bertani secara rishi kheti di Rasulia, kami berhenti menggunakan pupuk-pupuk kimia dan racun-racun itu. Beberapa tanaman memprotes meskipun tak seberapa, tetapi kemudian tanaman-tanaman menerima perubahan ini. Dicoba menanam gandum hibrida dari Meksiko tapi tak bisa tumbuh tanpa bahan-bahan kimia. Kami menemukan bahwa keadaan yang serupa terjadi pada benih-benih yang direkayasa secara canggih. Ketika kami mencoba menemukan varietas gandum yang kuat, kami menemukan bahwa kebanyakan gandum itu sudah punah. Tapi untungnya, kami menemukan beberapa benih gandum yang cocok di Gujarat yang kerasan tumbuh di Rasulia.

Padi, di sisi lain, jauh lebih mampu menyesuaikan diri. Bahkan padi hibrida berjuluk Ratna mampu menyesuaikan diri dengan pupuk organik yang kami buat di Rasulia dan juga dengan pengolahan tanah yang sangat sedikit. Kami temukan, alasannya adalah bahwa India Tengah ternyata adalah tempat asal dari padi, dan tanaman padi ini merasa sangat kerasan di sini.

Kami juga mampu menemukan banyak varietas padi lain yang cocok. Hal ini juga tak mengherankan sebab ada Dr Richharia, ilmuwan pertanian tersohor, yang telah mengumpulkan dan mengelompokkan 20.000 varietas padi yang berbeda dari daerah ini saja.

Langkah kami berikutnya adalah menjual traktor. Semua orang di kampung kami merasa sangat khawatir, tetapi nyatanya kami tak pernah merasa kehilangan traktor itu. Semua kegiatan menggali dan membajak tentu saja tak dihentikan seketika, tetapi kami menguranginya secara drastis dan hanya menggunakan sapi dan alat bajak.

Tak lama kemudian kami mendapatkan pelajaran bahwa beberapa tanaman yang kuat seperti semanggi, kedelai dan padi bisa cepat tumbuh di atas tanah yang tidak diolah. Lebih dari itu kami juga menemukan bahwa tanaman-tanaman seperti semanggi dapat digunakan untuk menghilangkan yang disebut ‘gulma’. Pada akhirnya, kami mulai menggunakan semanggi untuk membersihkan lahan kami dan tidak lagi mencabutinya.

Setelah mulai pulih rasa percaya diri kami dalam bertani secara alami, kemudian kami mendedikasikan tiga setengah akre lahan yang paling tak produktif untuk memulai pertanian sama sekali tanpa mengolah tanah. Kami sungguh sangat terheran-heran, tanah itu justru sudah mulai pulih kesehatannya sejak tahun pertama kami memulainya. Secepat itu. Dua tahun kemudian, kami memperluas area lahan tanpa olah tanah menjadi enam akre.

Kami memang mengalami sedikit kesulitan menghadapi burung-burung yang mematuk benih-benih, perkecambahan benih yang rendah tingkatnya, adanya gulma yang sangat bandel, semua jenis penyakit dan hama tanaman dan cuaca yang kurang menguntungkan. Tapi semua masalah ini normal saja untuk semua jenis pertanian. Pada umumnya kami justru dapat terus memperbaiki cara-cara kami bertani, dan percobaan-percobaan kami terbukti sangat berhasil baik dari sisi teknis maupun dari sisi ekonomi.

Beberapa keberhasilan kami yang mencolok adalah: panen padi mencapai 20 kuintal per akre (catatan: rasio panen mendekati 5 ton per hektar; 1 akre = 4.047m2); suatu hasil panen yang lumayan tinggi dibanding semua jenis tanaman pangan lain kecuali gandum; total produksi lebih tinggi daripada sebelumnya dengan sistem dukungan kimia; tambahan keuntungan bersih yang kami dapatkan antara enam sampai delapan kali lipat; dan yang paling penting dari semuanya, perbaikan mendasar bagi kesehatan dan kesuburan lahan kami.

Areal lahan yang kami khususkan untuk percobaan bertani tanpa olah tanah itu semula sudah mandul karena lahan itu sudah terlalu letih. Empat tahun kemudian lahan-lahan itu jadi sehat dan produktif. Pada kenyataannya, kondisi semua lahan kami terpulihkan. Ini dapat dinilai dari hijau segarnya dedaunan tanda kesehatan tanaman-tanaman pangan; vegetasi alami tampak serasi dengan tanaman-tanaman itu. Itu tanda kembalinya cacing-cacing tanah. Tekstur tanah berubah jadi berongga-rongga pada bagian lapis teratas karena terdapat banyak humus di situ. Bahkan tumbuhan yang disebut kans, yang biasanya menjadi gulma bandel di area kami, kini sudah mengucapkan selamat tinggal.

Rumput kans di India.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Penjelasannya sesungguhnya juga sederhana mengapa itu terjadi. Ketika kami berhasil mengendalikan erosi tanah, gulma-gulma merasa bosan tinggal di situ dan akhirnya pergi. Jadi jelas bagi kami bahwa fungsi utama dari gulma adalah mengendalikan erosi. Dengan cara membiarkan beberapa gulma tetap menjadi tanaman penutup tanah, dengan membiarkan akar-akar dari tanaman yang dipanen tetap berada di situ dan mengembalikan semua tangkai dan jerami di atas tanah, kami memberi asupan nutrisi dan menyediakan pengolahan dan umpan untuk serangga dan mikroorganisme yang kemudian akan membentuk kesuburan alami ke dalam tanah.

Petani lain yang berdekatan dengan kami tak kalah juga memulai bertani secara alami pada tahun 1985 dan bahkan mencapai hasil panen yang lebih menakjubkan dalam waktu yang lebih pendek. Lahan miliknya semula sudah sangat rusak karena erosi dan dipenuhi oleh gulma kans. Ia menjual sapi-sapi dan bajaknya dan langsung total berhenti mengolah tanah. Produksi bulir-bulirannya langsung anjlok, tapi lahannya mulai pulih. Itu dianggapnya sebagai suatu ongkos.

Hasil panen dari penataan pertanian yang baru ini tidaklah banyak; tetapi setelah tahun 1986 ia mampu memenuhi kebutuhan makan keluarga dari hasil lahannya. Itulah lonjakan perbaikan yang dialaminya karena sebelumnya ia telah banyak mengeluarkan uang setiap tahunnya.

Di samping memberikan manfaat ekologis, rishi kheti tampak sangat sesuai dengan situasi sosial di India dewasa ini. Kami masih memiliki jutaan petani kecil yang memiliki tanah kurang dari 10 akre. Karena tekanan bertubi-tubi dari pemerintah dan dunia industri, akhirnya mereka banyak menggunakan benih-benih terekayasa dan banyak sekali menggunakan pupuk dan racun-racun kimia.

Bahan-bahan kimia yang berbahaya itu dipergunakan tanpa pengetahuan dan kepedulian yang memadai. Penerapan berlebihan dari pupuk-pupuk kimia dan praktik monokultur tanaman pangan telah mengubah hampir 80 persen kondisi tanah di Punjab sehingga lahan jadi kekurangan unsur-unsur nutrisi mikro —yang dalam istilah yang lugas itu artinya tanah sudah sakit.

Lebih dari itu, para petani kecil itu telah mulai menyadari bahwa naiknya harga berbagai masukan itu secara tak seimbang telah membuat pertanian mereka secara ekonomi tak mungkin dijalankan lagi. Banyak di antara mereka pasti langsung bangkrut esok harinya jika subsidi-subsidi dari pemerintah ditarik. Keadaan pasti menjadi lebih buruk lagi karena sementara itu kondisi tanah terus kehilangan kegairahan alaminya.

Kami menyadari bahwa para petani sudah terbelenggu dalam suatu lingkaran setan dari pertanian buatan manusia, terjebak banyak hutang dan konsumerisme. Kepentingan-kepentingan dagang yang sangat kuat, termasuk dari pemerintah kami sendiri, telah mendorong munculnya semua kecenderungan ini. Mereka memiliki sumber-sumber daya yang sangat banyak yang berada dalam kekuasaan mereka. Banyak petani bingung dengan semua trend baru ini. Tak sedikit yang tak mampu berbuat apa-apa. Mereka ini sangat membutuhkan suatu alternatif.

Petani-petani kami tidak dapat membaca buku-buku, tetapi ada dua hal yang dapat mereka lakukan, yaitu menilai apakah kondisi suatu lahan itu bagus, dan apakah hasil panen mereka itu sehat atau tidak. Mereka juga bisa melakukan penghitungan ekonomi dasar. Kebanyakan dari mereka juga memiliki ikatan kejiwaan dengan tanah dari generasi ke generasi berikutnya. Jika seorang petani sudah menerapkan rishi kheti, maka alam akan menjadi guru mereka.

Penerapan rishi kheti akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang jauh bagi kalangan industri dan kalangan pemerintah yang tersentralisir. Dengan cara menolak membeli bahan-bahan kimia itu, para petani tidak hanya akan memulihkan kehidupan mereka sendiri dengan jalan berusaha, tetapi mereka juga akan menyumbangkan perubahan sosial secara umum.

Masih untungnya, masyarakat kami belumlah sepenuhnya kehilangan ketrampilan-ketrampilan yang sangat bernilai yaitu memproduksi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup. Mereka juga tak kehilangan komunitas desa tradisional. Jadi mereka masih tetap memiliki kemungkinan untuk mempertahankan pengalaman yang telah dijalani berabad-abad, untuk membentuk komunitas-komunitas yang percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Di situ masyarakat tak hanya menghasilkan kebutuhan-kebutuhan dasar untuk diri mereka sendiri, tetapi mereka juga mungkin sekali menikmati dan memanfaatkan otonomi politik pada tingkatan yang luas.**

Read More...

2009-02-16

Mengenang Masanobu Fukuoka (13-Tamat)

Hidup sederhana, dekat dengan alam adalah ibadah.
Sumber/source: Pertanian Alami - Natural Farming

Manusia semestinya berelasi dengan alam seperti halnya kebanyakan binatang. Hewan-hewan itu tidaklah terbang atau bergerak ke sana ke mari untuk mengolah lahan secara cermat, lalu menanam dan memetik hasil pangan. (Catatan penerjemah: Fukuoka mengangkat contoh burung, tapi contoh ini kiranya kurang tepat karena burung justru dapat menjadi hama untuk tanaman-tanaman pangan) Mereka tak menciptakan apa-apa ... mereka hanyalah menerima apa yang ada di hadapan mereka dengan rendah hati dan rasa terimakasih. Kita juga menerima rizki makanan dari Ibu Pertiwi. Jadi kita semestinya menangkupkan kedua tangan kita dalam suatu sikap bersembahyang dan mengatakan “mohon” dan “terimakasih” ketika kita berelasi dengan alam.

PLOWBOY: Apakah Anda berpendapat bahwa dengan ikut mengambil sikap yang berbeda ini, lalu metode Anda dalam bertani dapat lebih mempengaruhi cara-cara kita menanam tanaman pangan?

FUKUOKA: Ya, pertanian alami dapat mendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam cara hidup kita sehingga akan membantu menyelesaikan berbagai masalah pada zaman sekarang ini. Saya kira masyarakat sekarang mulai merasakan kerugian-kerugian dengan dunia modern yang terus mendongkrak pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan; mereka mulai mempertanyakan hal-hal seperti pembangkit energi bertenaga nuklir dan pembantaian massal terhadap ikan-ikan paus, dan mereka mulai menyadari sekarang waktunya untuk menguji penilaian-penilaian kita lagi.

Dengan cara menghayati gaya hidup alamiah dan memperlihatkan kebergunaannya pada hari dan zaman sekarang ini, saya rasa sekarang saya sedang memberikan layanan pada kemanusiaan. Sebagai pengelola dan perawat lahan tanaman padi, saya mengambil sikap perlunya untuk menentang kebutuhan menggunakan teknologi-teknologi destruktif atau menghancurkan bentuk-bentuk perwujudan kehidupan. Bagaimana pun, masalah-masalah zaman ini harus kita hadapi bersama-sama dengan hati kita dan perbuatan kita mulai dari dalam hati kita dan kemudian perbuatan kita. Saya berpendapat bahwa tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil produksi pertanian ... tetapi mengangkat dan menyempurnakan manusia.***

TAMAT

Read More...

2009-02-14

Mengenang Masanobu Fukuoka (12)

PLOWBOY: Tetapi bukankah terdapat banyak jenis semak semanggi yang dapat digunakan? Bukankah begitu?

FUKUOKA: Nah, ya kan? Itulah hal yang persis saya maksudkan. Akal budimu mulai bicara! Jangan banyak bertanya. Jika saya usulkan “semanggi putih”, gunakahlah semanggi putih itu. Jika saya usulkan ‘semanggi merah’, maka gunakan ‘semanggi merah’. Selama bertahun-tahun saya telah mencoba menerapkan semak-semak seperti vetch, alfalfa, lupine, trefoil dan berbagai jenis semanggi ... dan akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa untuk mendukung rotasi penanaman tanpa mengolah tanah untuk tanaman-tanaman bulir-buliran dan sayuran, dikombinasikan berbagai tanaman tutupan tanah di kebun, semanggi putih adalah yang tanaman yang terbaik.

Alfalfa, sebagai salah satu anggota keluarga legum, banyak kita temukan 'saudara-saudara'-nya di Indonesia.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Semak 'vetch'. Kenalkah Anda pada jenis tanaman ini?
Apa jenis tanaman yang sekeluarga dengan vetch ini yang dapat kita temukan di Indonesia?
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Temuan-temuan saya ini telah diverifikasikan oleh para peneliti lain juga. Ketika saya mengunjungi Pusat Penelitian dari Kebun Organik Rodale di Pennsylvania belum lama ini, orang-orang di sana memperlihatkan pada saya percobaan-percobaan yang telah mereka lakukan selama beberapa tahun dalam merotasikan berbagai tanaman bulir-buliran dan tanaman pangan lain diselingi oleh rerumputan semanggi putih dan tanaman-tanaman tutupan tanah yang lain. Dan lahan yang paling berhasil adalah yang ditanami dengan semanggi putih!

PLOWBOY: Di negara-negara bagian Amerika Serikat yang berada di belahan barat laut terdapat suatu jaringan petani dan pekebun organik yang disebut Tilth. Mereka telah memulai suatu pengembangan proyek semanggi. Anggota-anggota mereka yang beada di Oregon, Washington, Idaho, dan British Columbia menanam berbagai jenis semanggi di ladang-ladang jelai dan jagung, kebun apel, dan ladang sayuran .. semuanya akan mengambil manfaat dari pengalaman mereka dengan semanggi. Apakah Anda mengira bahwa percobaan seperti itu berguna?

Semak liar berbunga 'trefoil'.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


Azolla microphylla. We call it locally as 'ganggang'.
Source:Pertanian Alami - Natural Farming


FUKUOKA: Ya, tentu, itu bagus ... tetapi sebenarnya hasilnya sudah ada dan siap pakai, sudah ada di hadapan kita! Saya telah melakukan percobaan seperti itu 25 tahun yang lalu, dan sekarang orang bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya, cukup jika mereka mau melihat hasilnya. Mereka bisa menghemat banyak waktu dan tenaga, cukup hanya dengan mengambil jalan singkat, yaitu percaya (pada temuan saya.)

PLOWBOY: Sementara orang melihat adanya kandungan keruhanian, atau mendekati mistik dari teori Anda tentang pertanian. Apakah Anda merasa bahwa Anda menerima suatu pencerahan dan petunjuk dari sumber kekuatan ilahi?

FUKUOKA: Meskipun pertanian alami —sejak pertanian ini dapat mengajarkan masyarakat untuk mendalami pemahaman yang mendalam tentang alam— bisa membawa orang menemukan pencerahan ruhani, pertanian ini bukanlah spesifik praktik keruhanian. Pertanian alami bagaimana pun hanyalah kegiatan bertani, tidak lebih. Tak ada prasyarat bahwa Anda haruslah seseorang yang memiliki orientasi keruhanian sebelum mempraktikkan metode saya ini. Siapa saja yang memahami konsep ini dengan pikiran yang jelas dan terbuka akan dapat segera memulainya dengan baik. Kenyataannya, orang yang paling cepat dapat melakukan pertanian alami ini adalah orang yang tidak memiliki hambatan pikiran yang biasanya diidap oleh orang-orang dewasa karena telah memegang hasrat, kepercayaan filsafat tertentu, atau agama .. mereka adalah orang-orang yang memiliki pikiran dan hati seperti anak kecil. Orang cukup memahami apa itu alam .. alam yang sesungguhnya, dan bukan alam yang kita percayai bahwa kita ketahui!

Salah satu jenis semak lupine.
Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY: Dapatkah Anda menjelaskan lebih spesifik tentang sikap apa yang diperlukan (untuk bertani secara alami)?

FUKUOKA: Banyak orang beranggapan bahwa, ketika kita bertani, alam dengan sendirinya membantu usaha-usaha kita untuk menghasilkan makanan. Cara berpikir ini sepenuhnya terlalu bersudut pandang memusatkan pada kepentingan manusia .. Sebaliknya, kita seharusnya menyadari bahwa kita menerima apa yang kita makan itu sebagai hasil dari apa yang diputuskan oleh alam untuk kita. Seorang petani tidaklah menumbuhkan sesuatu dalam pengertian bahwa dia menciptakannya atas kekuatannya sendiri. Semua hal yang sifatnya manusiawi hanyalah sebagian kecil dari seluruh proses bagaimana alam itu menyatakan dirinya. Petani hanyalah menyumbangkan sedikit pengaruh terhadap proses itu ... lebih daripada sekedar dia berada di sana dan memberikan bagian kecil sumbangannya itu.

Acuan
Rodale Institute



BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-13

Mengenang Masanobu Fukuoka (11)

"Rumput" Semanggi. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY: Jadi Anda berpendapat bahwa mungkin nanti suatu ketika pertanian alami diterapkan di Amerika Utara?

FUKUOKA: Tentu, tentu! Jika Anda berbicara tentang alam, tak penting apakah Anda mengacu ke Amerika Utara atau Afrika atau Indonesia atau Cina .. Alam bagaimana pun tetap alam. Pada kenyataannya pertanian industrial modern sekarang sedang diterapkan nyaris di mana-mana di seluruh dunia. Begitulah juga pertanian alami dapat diterapkan nyaris di mana-mana.

Saya hanyalah seorang petani desa yang sudah mengunjungi bagian lain dari dunia yang sama ini. Dengan penelitian saya tentang sebatang jerami itu, saya telah sampai pada suatu kesimpulan penting tentang bagaimana masyarakat dapat berelasi dengan alam dan hidup dengan alam secara harmonis ... di mana pun mereka berada.

FUKUOKA: Benar bahwa setiap tempat agak berbeda dari yang lain. Di sini, di Massachusetts kita berada sangat jauh dari Lautan Teduh dan bahkan lebih jauh dari rumah saya di pulau Shikoku ... sehingga seakan-akan pengalaman dan pengetahuan yang telah saya kumpulkan tidak akan dapat diterapkan di sini. Tetapi, penelitian yang saya lakukan di lahan saya yang kecil itu pada akhirnya membawa saya pada suatu metode praktis dan teruji untuk rotasi tanaman pangan. Jadi saya menganjurkan untuk para pemula untuk mulai menerapkan teknik yang telah saya kembangkan, tak peduli mereka ada di mana ... bahkan di sini di belahan pantai Atlantik.

White Clover. Source:Pertanian Alami - Natural Farming


Seseorang yang melakukannya mungkin akan menemui beberapa masalah pada tahun pertama, dan hasilnya mungkin tak akan sama dengan yang saya dapatkan. Tetapi nanti akan jelas untuknya mengapa hal-hal tertentu tak dapat berfungsi. Itu bisa disebabkan karena barangkali tanaman tertentu ditanam terlalu terlambat, atau mungkin karena menanam varietas yang salah untuk iklim dan lahan jenis tertentu. Pada tahun kedua setelah memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip saya, dia akan mengerti dengan jelas apa yang perlu dilakukan terhadap lahannya. Saya mengatakan kepada orang yang memulai pertanian alami untuk belajar dari telaah dan penelitian saya dan menggunakannya seperti apa adanya ... Inilah cara yang paling baik untuk mulai. Jika Anda tiba-tiba mulai menerapkan cara-cara Anda sendiri dan mulai mencari-cari ciri-ciri “alam” yang sesungguhnya untuk daerah Anda, akan dibutuhkan 20 atau 30 tahun, seperti yang telah terjadi dengan diri saya di Jepang. Sebaliknya, langkah pertama untuk mencoba pertanian alami adalah membuang faham-faham Anda sendiri ... kemudian Anda dapat belajar sambil langsung melakukannya!

PLOWBOY: Apakah Anda sedang menganjurkan kami untuk membuang semua penalaran logis?

FUKUOKA: Ya!

PLOWBOY: Tapi Fukuoka-san, bukankah Anda sendiri melakukan banyak sekali percobaan dan penelitian dalam proses mengembangkan konsep pertanian alami? Anda menggunakan akal budi ... tapi sekarang Anda mengatakan pada kami untuk membuang semua pengetahuan kami?

FUKUOKA: Persis! Buanglah gagasan-gagasan Anda sendiri itu untuk sementara waktu dan biarkan hasil dari penelitian saya menjadi benih dari gagasan-gagasan baru dan cara-cara berpikir baru. Banyak orang mungkin tergoda untuk berpendapat, “Hmm .. iklim yang ada di tempat saya sangat berbeda dari iklim di daerahnya. Maka sebagai ganti semak semanggi putih, saya akan mencoba yang ini sebagai tanaman tutupan tanah.” Penalaran ini dapat jadi membuat Anda keluar dari jalur fokus dan akan menjerumuskan Anda masuk ke jalan-jalan gelap! Semak semanggi diperlukan untuk membuat supaya gulma-gulma mulai tumbuh lagi dan memenuhi lahan.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-12

Mengenang Masanobu Fukuoka (10)

FUKUOKA : Saya sungguh-sungguh tersentak melihat keadaan buruk California. Sejak Spanyol membuka pemeliharaan sapi dan domba, bersamaan dengan padang rumput tahunan seperti foxtail dan wild oats (lihat gambar/foto), rumput-rumput asli dibinasakan semuanya. Tambahan pula, air tanah sudah terlalu banyak disedot untuk pertanian, dan bendungan-bendungan besar serta proyek-proyek irigasi telah memotong sirkulasi alamiah dari air di lapisan permukaan tanah. Hutan-hutan telah banyak sekali ditebang dan secara serampangan. Hal ini menyebabkan erosi tanah dan kerusakan-kerusakan aliran sungai dan populasi ikan. Akibat dari semua ini, tanah-tanah menjadi semakin kering. Ini sangat menyedihkan ... semuanya karena campur tangan manusia, padang gurun sedang terus meluas di seluruh negara bagian. Dan .. tak akan ada orang yang mengaku salah.

Rumput foxtail. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming
Rumput wild oats. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY : Apakah Anda berpendapat, jika teknik pertanian alami diterapkan dapat mengubah proses-proses yang selama ini terjadi dan membuat California menjadi hijau lagi?

FUKUOKA : Ya, akan dibutuhkan waktu beberapa tahun sampai masyarakat bisa belajar bagaimana menyesuaikan dan membiasakan diri dengan rotasi gulma atau tanaman-tanaman tutupan tanah, tetapi saya kira tanah akan cepat terpulihkan jika para petani sungguh-sungguh mencoba melakukannya. Dan seandainya itu dilakukan, California dapat benar-benar menjadi suatu wilayah yang sungguh-sungguh alamiah dan sangat menarik .. di mana kegiatan bertani akan menjadi kegiatan yang menggembirakan, seperti semestinya. Tetapi jika pertanian modern terus berlanjut seperti sekarang ini, maka selesailah sudah. Situasi pertanian tanaman pangan mungkin tampak bagus di permukaan seperti sekarang, tetapi itu hanya suatu ilusi yang didasarkan pada ketersediaan bahan bakar minyak bumi. Semua jenis gandum, jagung, dan tanaman-tanaman pangan lain yang sekarang ditanam di unit-unit perusahaan pertanian besar di Amerika mungkin memang bisa hidup dan bertumbuh, tapi semua itu bukan produk dari alam yang sesungguhnya atau pertanian yang sebenarnya. Semuanya direkayasa daripada ditumbuhkan. Bumi tidaklah menghasilkan barang-barang seperti itu ... tapi dihasilkan oleh minyak bumi!

PLOWBOY : Bukankah Anda mengatakan bahwa kekurangan minyak bumi adalah suatu perkembangan yang sifatnya positif?

FUKUOKA : Tentu saja. Saya yakin bahwa semakin cepat persediaan minyak bumi kita mengering, itu akan lebih baik. Sebab kemudian kita tak akan punya pilihan lain daripada pulang kepada pertanian alami!

PLOWBOY : Tetapi bukankah pertanian “agribiz” itu sekarang sudah meliputi ratusan atau bahkan ribuan akre luasan wilayah yang telah dibudidayakan? Bagaimana mungkin orang bisa mengubahnya menjadi pertanian alami?

FUKUOKA : Pertama-tama, tak boleh ada perluasan yang besar-besaran. Tapi sayangnya, dalam sistem pertanian modern Amerika, [yang terjadi adalah] hanya sedikit orang saja yang memproduksi makanan untuk berjuta-juta manusia yang tinggal di kota. Di Jepang, luasan rata-rata pemilikan ladang lebih sempit daripada di Amerika Serikat ... tetapi panen per akre jauh lebih besar. Saya bisa melakukan seluruh pekerjaan di lahan-lahan saya dengan peralatan tangan, tanpa mesin-mesin berkekuatan jenis apa pun.

Tetapi saya menduga semua mega-pertanian di negara Anda akan membutuhkan suatu bentuk mekanisasi, setidaknya untuk keperluan memanen. Meskipun begitu, di masa depan karena semakin banyak orang bergerak kembali ke arah desa dan mulai menanam tanaman-tanaman pangan untuk diri sendiri di atas tanah yang kecil, akan kurang terjadi suatu ketergantungan pada mesin-mesin dan bahan bakar minyak bumi ... dan karenanya, teknik-teknik pertanian alami dapat mulai diterapkan.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-10

Mengenang Masanobu Fukuoka (9)


Caption video: Fukuoka-san sedang membuat bola benih.


Tampaknya, pengakuan secara umum terhadap adanya bahaya dalam waktu yang panjang dari pertanian dengan bahan-bahan kimia telah mendorong munculnya minat baru terhadap metode pertanian alternatif. Banyak orang mengamati metode saya dan mulai berpendapat apa yang semula mereka pandang primitif dan terbelakang sekarang menjadi ilmu pengetahuan modern yang jauh sangat maju!

PLOWBOY : Anda menerapkan sautu cara menanam tanaman pangan yang hanya membutuhkan sedikit biaya dan tenaga kerja, yang tidak membutuhkan mesin-mesin berat, bahan bakar fosil, atau bahan-bahan kimia yang diproses ... tetapi toh mencapai hasil panen yang sebanding dengan mereka yang menerapkan metode-metode ilmiah “modern”. Ini seperti mimpi yang sungguh-sungguh terwujud. Pasti sudah ada banyak orang menerapkannya di mana-mana!

FUKUOKA : Tidak juga ... itu karena metode saya sungguh-sungguh tampak seperti sebuah mimpi bagi mereka. Pada kenyataannya, saya berpendapat pertanian alami ini sesungguhnya suatu konsep yang sangat menakutkan sebagian orang! Metode ini menuntut suatu sikap revolusioner. Tak sikap ini tak mungkin terjadi perubahan iklim masyarakat dan peradaban kita seumumnya.

PLOWBOY : Apa yang diperlukan, kalau begitu, untuk meyakinkan orang-orang semacam itu agar mereka mau mencobanya?

FUKUOKA: Akan sulit bagi para petani secara individual maupun di tingkat keluarga untuk memulai metode ini. Pertanian alami menuntut banyak pekerjaan pada masa awalnya —sampai lahan dikembalikan ke keseimbangannya. Dan Anda tidak akan dapat mengerjakannya sendiri kecuali Anda punya banyak waktu khusus untuk ini.

Perubahan dapat diselenggarakan dengan lebih mudah pada tingkat desa atau kota kecil, tetapi saya kira cara yang terbaik untuk memulai 'revolusi sebatang jerami' ini, begitulah saya menyebutnya, sesungguhnya pada skala yang besar ... melalui suatu jenis usaha bersama. Pemerintah, koperasi-koperasi pertanian, para petani dan para konsumen—itu artinya semua pihak— harus memutuskan bahwa inilah arah pertanian yang hendak kita terapkan. Tentu, jika kita tidak mendapatkan suatu kesepakatan, kemungkinan untuk mewujudkan perubahan yang berarti dalam metode pertanian jauh dari kenyataan.

Ada yang lebih penting lagi, yaitu kita harus mengubah pemahaman masyarakat tentang alam. Di Amerika, terutama, keadaan di halaman-halaman sudah sering menjadi tidak alami sama sekali. Misalnya lihatlah halaman universitas ini. Anda lihat ada taman yang indah, lembut dan enak dipandang mata, di sana-sini ditanam berbagai tanaman. Daun-daun itu sungguh-sungguh cantik, tetapi pohon-pohon dan rumput-rumput itu bukanlah asli dari lingkungan sini. Semua tanaman itu dibawa ke sini oleh manusia demi keuntungan manusia. Tamanan-tamanan asli sudah dikubur atau dibasmi ... dan, sebaliknya, semua rumput tak asli dan eksotik ini disuapi dengan makanan. Mengembalikan lanskap buatan ini ke aslinya akan bermanfaat bagi manusia dan semua bintang dan segala tanaman yang hidup di bumi. Tetapi, tidak semua orang menghargai pandangan ini ... Akan ada lalat, nyamuk dan serangga-serangga lain yang tidak disukai manusia, dan beberapa orang akan mengatakan, “Betapa tak enaknya. menjengkelkan!”

PLOWBOY: Beberapa minggu yang lalu Anda memulai perhelatan ke Amerika di California. Apakah Anda juga melihat ada “alam buatan” di sana?

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-09

Mengenang Masanobu Fukuoka (8)

Ketenangan hidup dekat dengan alam.
Fukuoka dan bola benih di tangannya.
Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


Di masa depan, saya berharap lahan-lahan padi, jelai dan bulir-buliran itu akan terus menjadi lebih baik dan terus meningkat hasilnya. Bagaimana pun, saya toh menanam tanaman-tanaman pangan yang jenisnya sama dengan yang ditanam di desa, ya .. bahkan sama dengan yang ditanam di seluruh Jepang. Tetapi sebagai hasil dari mempraktikkan pertanian alami, sekarang saya telah “mengembangkan” beberapa varietas baru, hanya dengan cara membiarkan tanaman-tanaman itu bertumbuh di lahan. Dengan benih-benih varietas asli, saya kira ladang saya memiliki potensi untuk mencapai produktivitas paling tinggi di Jepang ... dan kemungkinan di dunia, sejak negara saya memimpin tingkat rata-rata produktivitas padi yang paling tinggi di seluruh planet! Jika pertanian alami diterapkan secara tetap, tak akan ada alasan mengapa kemampuan berproduksi dari setiap petak lahan tak dapat mencapai lebih tinggi daripada tingkat budidaya berbasis ‘bahan-bahan kimia” ... dan pada akhirnya —yang secara teoretis mungkin dicapai— akan mendekati capaian panen yang tertinggi, karena banyaknya jumlah energi matahari yang dapat ditampung oleh suatu lahan.

PLOWBOY : Saya mengandaikan bahwa —dengan angka capaian produksi yang sedemikian bagus— Anda telah dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan seluruh keluarga dengan bertani secara alamiah.

FUKUOKA : Saya belum mendapatkan banyak uang dari pertanian ini, tetapi karena biaya yang saya keluarkan begitu rendah sehingga saya tak pernah mungkin terperosok ke dalam bahaya jadi bangkrut. Ada satu hal, setelah saya mulai bertani secara alami, kemudian beredar kabar bahwa jeruk-jeruk dari kebun saya adalah yang paling besar dan paling manis di seluruh desa. Buah-buah itu menghasilkan pendapatan yang paling besar. Dan, setelah usaha pertanian saya meningkat dan tanah terpulihkan, berbagai hal menjadi lebih mudah bagi kami. Ya, saya telah mampu menyelenggarakan suatu kehidupan —meskipun sederhana— berdasar praktik pertanian alami.

PLOWBOY : Apakah pertanian ‘mainstream’ dengan kemapanan itu tertarik pada gagasan Anda?

FUKUOKA : Saya mengusulkan suatu perencanaan pertanian dengan cara pembenihan secara berkesinambungan antara bulir-buliran musim dingin dan padi di berbagai jurnal pertanian 25 tahun yang lalu. Sejak saat itu, metode itu sering muncul dalam media cetak, dan saya mengajukannya ke tengah-tengah masyarakat lewat program-program radio dan televisi ... tetapi tak seorang pun menaruh perhatian.

Selama sekitar 15 tahun terakhir, tampaknya sikap masyarakat terhadap pertanian alami telah mulai berubah. Para ilmuwan penelitian pertanian menilai tinggi teknik "tak mengolah tanah" (yang saya kembangkan). Mungkin Anda dapat juga mengatakan pertanian alami berkembang menjadi kontroversi! Para wartawan, profesor, petani, peneliti di bidang teknik, dan para mahasiswa berduyun-duyun datang mengunjungi ladang saya dan tinggal di gubuk saya di atas bukit.

Dengan menyelami gaya hidup alami dan memperlihatkan kebergunaannya .. saya merasa saya sedang memberikan pelayanan kepada kemanusiaan ... Tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil panen, tetapi budidaya dan penyempurnaan terhadap kemanusiaan.

PLOWBOY : Mengapa tiba-tiba muncul begitu banyak ketertarikan pada teknik bertani yang Anda kembangkan?

FUKUOKA : Saya kira itu karena banyak orang sudah berada sangat jauh dari kedekatan dengan alam. Semua di dunia modern ini telah menjadi begitu berisik dan terlalu rumit, dan orang ingin kembali ke kehidupan yang sederhana dan tenang ... semacam kehidupan yang saya hayati sebagai seorang petani biasa. Anda tahu kan, semakin jauh manusia terpisah dari alam, mereka semakin terlempar jauh dari pusat suatu realitas yang tak berubah dan tak bergerak. Pada saat yang sama dampak sentripetal mencuat, dan menimbulkan suatu hasrat untuk kembali ke alam —pusat yang sesungguhnya— dan itu terjadi pada saat manusia sedang menjauhinya. Saya yakin bahwa pertanian alami bersumber dari pusat kehidupan yang tak berubah, tak bergerak.

BERSAMBUNG

Read More...

2009-02-08

Mengenang Masanobu Fukuoka (7)

Untuk menanam sayuran, saya cukup sedikit membuka bagian lahan di mana terdapat gulma atau rumput-rumputan dan di situ saya meletakkan benih-benih. Tak perlu menutupnya dengan lapisan tanah .. Saya hanya mengembalikan rerumputan yang terpotong itu untuk menutupi benih sebagai mulsa alami. Biasanya rumput-rumput yang muncul lagi harus dipotong lagi dua atau tiga kali setelahnya untuk memberikan dorongan awal agar benih-benih itu mulai berkecambah, tetapi kadang-kadang hanya perlu satu kali saja. Sayuran yang ditanam dengan cara ini akan jadi lebih kuat daripada yang dianggap orang. Pada kenyataannya, hasil yang Anda peroleh meningkat jika ada berbagai rerumputan yang tumbuh dengan subur .. tetapi agar memang berhasil, Anda harus benar-benar kenal dengan siklus tahunan dari berbagai gulma dan rerumputan setempat, dan Anda harus mempelajari jenis-jenis sayuran yang paling cocok dengan mereka.

Padi yang ditanam secara alami tak sedikit jumlah anakannya.
Malah bisa lebih banyak ketika tanah semakin dipulihkan kondisinya.
Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


Fukuoka dan padi yang tengah menguning. Dalam perkembangannya,
hasil panen mencapai satu ton untuk 1.000 meter persegi, satu kilogram per satu meter persegi.
Sepuluh benih per satu meter persegi. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming


PLOWBOY : Apakah Anda pernah menemui suatu masalah yang sungguh-sungguh serius yang terkait dengan penyakit atau hama serangga setelah puluhan tahun mempraktikkan pertanian alami?

FUKUOKA : Sejak saya mengembalikan lahan itu ke kondisi alamiah, saya tak bisa mengatakan bahwa saya pernah mengalami suatu masalah yang sungguh-sungguh sulit berhadapan dengan serangga atau penyakit. Bahkan ketika tampaknya ada sesuatu yang keliru dan tanaman-tanaman pangan itu tampak akan segera hancur, alam tampak selalu memberikan suatu bentuk kemudahan kepada saya, pada akhirnya!

Tentu, saya melakukan kesalahan-kesalahan ... seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang petani. Namun, saya tak pernah sungguh-sungguh menganggapnya sebagai suatu kesalahan! Kembali ke permulaan, misalnya, ketika 70 persen luasan suatu lahan sudah jadi tak subur dan tak produktif dan 20 sampai 30 persen masih sangat produktif, saya memandang hasil panen saya yang terbatas toh sebagai suatu keberhasilan. Saya perhitungkan jika hanya sebagian kecil dari suatu lahan dapat menghasilkan, saya dapat mengatakan bahwa untuk sisa lahan selebihnya saya sudah berhasil membuatnya jadi produktif. Tetangga-tetangga saya tidak akan pernah puas dengan lahan seperti itu ... tetapi saya memandang “kesalahan” yang saya lakukan sebagai suatu petunjuk atau pelajaran. Satu di antara banyak penemuan yang saya lakukan pada tahun-tahun awal itu adalah bahwa supaya mencapai keberhasilan dalam bertani secara alami, Anda harus mampu mengendalikan harapan-harapan Anda sendiri. Harapan akan hasil yang muncul dalam pikiran itu seringkali tidak tepat atau tidak realistis ... dan dapat membawa Anda untuk mengira bahwa Anda telah membuat suatu kesalahan jika harapan itu tak terpenuhi.

PLOWBOY : Bagaimana dengan rumput-rumput liar dan gulma yang tumbuh persis di antara tanaman-tanaman pangan Anda itu? Apakah rerumputan itu tidak akan menjadi pada akhirnya tak bisa dikendalikan sama sekali?

FUKUOKA : Sebagai ganti menggantungkan diri pada herbisida atau budidaya dengan mesin-mesin untuk mengendalikan gulma, saya telah hampir selalu menggunakan tanaman-tanaman legum dan tumbuhan tutupan tanah yang lain untuk membatasi penyebaran tumbuhan-tumbuhan yang kurang membantu. Saya juga meletakkan jerami di atas lahan sebagai mulsa yang akan menekan pertumbuhan gulma dan akan membuat tanah mampu menahan kelembaban sehingga mau melembagakan benih-benih selama musim gugur yang kering.

PLOWBOY : Rasanya yang Anda jelaskan ini seperti suatu metode bertani yang membutuhkan porsi tenaga kerja sangat rendah dan sangat ideal. Tetapi bagaimana dengan hasil panen dari tanaman-tanaman pangan Anda? Benarkah hasilnya lebih baik daripada metode pertanian konvensional?

FUKUOKA : Pada permulaannya harapan-harapan dan keinginan saya tidaklah banyak ... dan nyatanya hasilnya memang tidak hebat juga! Tetapi setelah kondisi tanah menjadi mapan dalam perjalanan waktu dan lahan-lahan itu kembali ke keadaan alamiahnya, hasil tanaman saya terus bertambah secara tetap. Saya tak pernah mengalami suatu perubahan yang sangat mencolok, tetapi pada akhirnya saya temukan bahwa saya dapat menanam padi tanpa membajak atau menggenangi lahan selama musim panas, dan masih tetap menghasilkan sebanyak petani-petani lain yang menggunakan mesin-mesin dan bahan-bahan kimia ... bahkan kadang-kadang lebih banyak. Produksi saya sekarang sudah mapan, sekitar 1.300 pon (~590kg), atau 22 karung, untuk setiap seperempat akre (~1.000 meter persegi), baik untuk buliran-buliran musim dingin maupun untuk padi. Ini mendekati capaian yang tertinggi di Jepang!

BERSAMBUNG ke Mengenang Masanobu Fukuoka (8)

Read More...