Tampilkan postingan dengan label bantuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bantuan. Tampilkan semua postingan

2010-03-25

Dianto gets research grant fellowship to 'fuel the world'

We are very happy to hear that our beloved teacher of our teachers, named Dianto Bachriadi --who do not know him yet? please google him out-- is announced this month to be the recipient of a generous grant for his new, on-going, important academic research, entitled "Fuelling the World with Alternative Progress and Impacts of the Development of Agrofuel Industries of the Rural Communities in SE Asia" from the Asian Public Intelectuals program funded by the Nippon Foundation.

Marvelous, is not it?


You can also see in the state radio RRI website that along with Dianto there are other five fellows awarded.

Dianto has been 'ordained' by an international organization for rural poor of Brothers of the Human Being (Frères des Hommes) as the founder of the Rolling Stones political party in Indonesia. Read the story here. And now he is 'ordained' by senior researcher Taufik Abdullah as 'public intellectual'. Are you not happy, kang Gèpèng? The latest is his nickname.

He wrote different books, useful for you to realise the continuing injustice in Indonesia, like Land Grabbing in Tapos and Cimacan cases in W. Java, in which former president Soeharto unilaterally took over farmers' land for his own political interests ..

And his image is taken from Frères des Homme' website ..

Read More...

2009-09-15

Bantuan Anda Masih Sangat Diperlukan

Kunkun Herawanto, pendamping petani dari desa dan kecamatan Langkap Lancar, Ciamis, menyatakan masih sangat membutuhkan bantuan Anda sekalian untuk meringankan beban dampak dari bencana alam gempa bumi yang menimpa kawasan Jawa Barat, terutama di kabupaten Ciamis.

Sejauh ini mereka baru mendapatkan sedikit bantuan tenda untuk bernaung terutama dari hujan yang juga turun di kawasan Ciamis. Masih terdapat sejumlah sampai lebih dari 200 keluarga yang sementara ini tak menentu keadaan tempat tinggalnya.

Rumah mereka pada umumnya rusak berat karena gempa itu. Akibatnya mereka sama sekali tidak bisa tinggal sampai saat ini. Untuk memperbaiki terlebih dahulu sampai dapat tinggal kembali di dalam rumah diperlukan sangat banyak biaya yang sampai sekarang mereka tak memilikinya. Karenanya, bantuan Anda sangat diperlukan dalam hal ini.

Mengenai persoalan bahan makanan, mereka masih memiliki sedikit persediaan. Sudah ada, meskipun terlalu sedikit, bantuan berupa beberapa bungkus kardus mi instan. Tetapi jika nanti musim tanam tiba, mereka tak siap juga untuk menanam, maka kelaparan sudah mengancam di depan nasib mereka.

Untuk menghubungi Kunkun Herawanto, mohon dilihat nomor HP-nya pada posting sebelumnya.

Read More...

2009-09-06

Urgent aids requested for earthquake victims in W. Java

Please contact, if you want to deliver your aids, helps, relieves, to Mr. Kunkun Herawanto, from Langkaplancar sub-district in Ciamis district. His mobile: 0813-2394 5610.

The impact of that major earthquake in West Java has caused many members of farmer families to forcefully stay out of their houses. Many houses are in ruin, nearly fully damaged, many only half standing. As a result, the dwellers can no longer stay at home. They stay at large in the neighborhood and in dire needs of external supports from you, such as plastic tents, food stuffs, and medicines. These things are in urgent needs now.

Who would help us among you? We are waiting for your helps. Again, this is very urgent.

One among those coordinators who is ready and reliable to accept your help is Mr. Kunkun Herawanto from Langkaplancar sub-district in Ciamis district of W. Java. Please refer your aids to him at his mobile phone number of 0813-2394 5610.

Langkaplancar sub-district consists of more than 10 villages. Based on data and observation gathered officially, four villages are severely hit by the strong earthquake. As many as 15 houses are completely damaged. Their dwellers can no longer stay at their houses. Those who are affected reach about over 1,000 persons, now wandering in the neighborhood.

The four villages of Langkaplancar subdistrict are Karangkamiri, Cimanggu, Jadikarya and Bojong villages.

We are waiting for further information from other subdistricts like Jadimulya, Sukamulya, Bangunkarya, from which we know many members of our farmer association.

Many of the affected people have made on their own efforts such as small huts (saung) for temporary shelters. Yet recent days, it is also raining. Thing get worse then that they definitely need for additional tents for sheltering from rain and for more people to keep the nights in the open air.

Please, consider to lend your aids ..

Read More...

Bantuan mohon disampaikan pada Kang Kunkun, kecamatan Langkaplancar, Ciamis - HP: 0813-2394 5610

Dampak dari gempa bumi di Jawa Barat mengakibatkan banyak keluarga petani tidak bisa tinggal lagi di rumah. Banyak rumah rubuh, nyaris rubuh, setengah rubuh, dan akbiatnya tak bisa ditinggali lagi. Pokoknya jadi berbahaya. Mereka tinggal di luar dan membutuhkan dukungan teman-teman sekalian. Mereka terutama membutuhkan barang-barang pendukung seperti tenda, bahan makanan dan obat-obatan.

Siapa yang membantu? Kami tunggu uluran tangan teman-teman sekalian. Ini urgen sekali.

Dalam keadaan darurat ini, salah satu yang siap menerima bantuan adalah Kang Kunkun Herawanto dari kecamatan Langkaplancar, Ciamis. Mohon disampaikan kepadanya dengan menghubunginya di nomer handphone ini: 0813-2394 5610.

Kecamatan Langkaplancar terdiri dari lebih dari 10 desa. Berdasarkan pendataan dan pengamatan yang dilakukan Kang Kunkun, terdapat empat desa yang paling parah menanggung kerusakan akibat gempa. Sejumlah 156 rumah (tangga) dikategorikannya sebagai rusak total atau rusak berat, sehingga sungguh-sungguh para penghuni semula tak bisa lagi tinggal di rumah yang rusak itu. Mereka tinggal di luar. Jumlah jiwa yang terkena dampak ini mencapai 1.000 orang lebih, baru khusus untuk kecamatan ini.

Empat desa itu adalah desa Karangkamiri, desa Cimanggu, desa Jadikarya dan desa Bojong, semuanya di kecamatan Langkaplancar.

Masih kita tunggu kabar dari kecamatan-kecamatan lain yang belum selesai mendata dampak gempa, seperti dari Jadimulya, Sukamulya, Bangunkarya.

Di antara para korban gempa itu ada yang sudah membuat saung kecil-kecilan, sekedar untuk berteduh. Belakangan hari ini, hujan turun juga di kawasan Ciamis selatan. Akibatnya mereka kerepotan jika hanya berteduh di bawah saung yang tak memadai. Karenanya mereka membutuhkan tenda.

Sementara itu tenda-tenda yang biasanya disewakan sudah tak tersedia lagi. Habis terpakai. Karenanya, mereka membutuhkan tenda-tenda darurat itu.

Karena mereka akan harus tinggal tidak sebentar sebelum akhirnya mereka bisa kembali ke rumah (yang nantinya sudah diperbaiki), maka mereka sesungguhnya perlu jaminan kesehatan. Tambahan bahan makanan merupakan bentuk bantuan yang sangat dibutuhkan, kecuali tentu saja obat-obatan.

Sekali lagi mohon bantuan teman-teman sekalian.

Read More...

Mohon bantuan bagi para korban gempa

Gempa kuat itu termasuk merusak banyak rumah kami di kawasan tiga kabupaten Tasikmalaya, Garut dan Ciamis. Sudah kami daftar kerusakan dan korban-korban yang menderita akibat gempa. Ratusan sampai sekitar seribu lebih rumah kami rusak. Banyak yang harus kami perbaiki terlebih dahulu jika kami hendak kembali tinggal di rumah. Desa Cigalontang di Tasikmalaya adalah salah satu desa warga petani Serikat Petani Pasundan yang paling parah mengalami dampak gempa bumi ini.

Guru kami, Boy Fidro, di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat adalah salah satu yang sampai sekarang belum dapat tinggal di rumah. Rumahnya rusak berat. Pak Boy sendiri sampai terluka. Gempa terjadi beberapa puluh detik, tetapi pada putar gerakan bumi yang kedua, begitu sejauh dirasakannya, pak Boy buru-buru masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang penting. Tetapi pada saat keluar lagi, goyangan bumi terjadi lagi dan menyebabkan salah satu komponen rumahnya runtuh dan sebagian mengenai dirinya.

Berikut ini adalah berita-berita terakhir tentang gempa, dampak dan upaya penanganannya.

Read More...

2009-01-26

Perkiraan hasil panen 7,9 ton gabah per hektar?

Kabar baik lagi dari desa. Padi alami di sawah yang mulai ditanam dengan metode intensif telah mulai menumbuhkan rata-rata 50 s.d. 60 malai setelah berusia 60 hari. Seandainya separuh malainya saja nanti benar-benar menghasilkan sesuai perhitungan standar, maka kita bisa yakin bahwa para petani reklaiming sesungguhnya menyimpan modalitas kuat mampu segera menyelesaikan masalah dasar produksi minimal dari budidaya padi. Dan karenanya, tentunya, juga mampu menggarap masalah ketahanan atau bahkan kedaulatan pangan.

Ini sebuah pernyataan. Tentu, tapi sayang, kami belum bisa memperlihatkan fotonya. Yang di sebelah ini baru foto padi percobaan dalam plastik. Dan, panen padi masih kita tunggu sampai satu setengah bulan lagi. Kabar ini berasal dari dan pernyataan ini kiranya disampaikan oleh pak Oman dan bu Wati dari dusun Bulaksitu, desa Banjaranyar, kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Keduanya adalah tokoh petani Serikat Petani Pasundan (SPP).

Pernyataan ini juga didasarkan pada percobaan kecil lain yang telah kami lakukan di depan rumah pakOman dan buWati. Padi yang kami tanam, satu lubang satu tanaman, di dalam plastik kresek seukuran diameter kira-kira 30 cm, tanpa kompos atau pupuk tambahan apa pun. Barangkali ini sebab mengapa jumlah malai hanya 14. Untungnya tanah di lahan pak Oman sudah cukup tingkat keasamannya, sudah mendekati netral. Malah ketika ditambahkan kapur, penampilan tanaman jadi kurang bagus. Tinggi tanaman sampai 120 cm. Yang terakhir ini sudah di luar kebiasaan pemandangan di antara para petani SPP.

Dari percobaan itu, didapatkan gabah per malai sebanyak 320 biji bernas. Ini juga suatu hal yang sangat mengherankan setidaknya bagi kami petani SPP. Kami tanyakan lagi, apakah memang benar begitu. Apakah semua malai sudah diperiksa dan dihitung bulir-bulirnya? Kami ulang ulang lagi pertanyaan itu. Pak Oman dan bu Wati lagi jua mengatakan ‘sudah’. Mengapa kami tanyakan lagi, sebab ini rasanya di luar kebiasaan. Setidaknya menurut catatan yang kami dapatkan dari si pencuat metode intensif ini, yaitu Henry Laulanié. Sebab, jika benar, ini artinya nanti bisa kami peroleh capaian panen lebih dari 3,5 ton gabah per 100 bata. Ini rasanya tak mungkin. Sepuluh kali lipat dari capaian konvensional kami? Mustahil.

Biasanya hasil panen padi di desa Banjaranyar baru mencapai 3,5 ton per hektar. Sedangkan, ceritera akangKunkun dari Langkap Lancar petani SPP baru mendapatkan 4,9 kwintal per 100 bata atau mencapai rasio 0,25 saja. Wah rendah sekali kan ..

Seperti telah kami ceriterakan dalam posting sebelumnya, nyaris sudah dua bulan lalu, penanaman padi secara intensif sudah mulai dicoba di antara para petani SPP di Ciamis, Jawa Barat. Keputusan ini juga termasuk luar biasa karena pada akhirnya hanya dua orang petani yang bersedia mencoba. Setidaknya kedua keluarga petani ini telah berani membulatkan tekad untuk keluar dari kebiasaan kovensional dalam menanam padi, sekalipun banyak sekali rintangan dan keraguan-keraguannya.

Berikut ini kutipan dari tulisan de Laulanié yang sudah diterjemahkan oleh Norman Uphoff yang memopulerkan metode baru itu ke seluruh dunia.

We propose starting with 25 x 25 cm spacing (16 plants per m2) up to 33 x 33 cm (9 plants per m2). In these two cases, if we have an average of 100 seeds per panicle, and if transplantation has been done with the closer spacing (25 x 25), there are 25 panicles per stem, which makes 25 x 16 = 400 panicles, or 40,000 seeds per m2. If 1,000 seeds typically weigh 25g, then 1 m2 provides 25 x 40 = 1,000g. This would give a yield of 1 kg per m2, which in turn makes 10 tons per hectare. For more widely spaced transplanting (33 x 33), 45 panicles per plant are required [rather than 25] to get the same number of panicles per 1 m2 (45 x 9 = 405), which results in 40,000 grains. Yield is then the same as for the narrower transplantation described above. [Note: with good plant, soil and water management, the number of grains per panicle can average 200 or even more.]

Kami masih perlu menimbang lagi, berapa berat rata-rata per 1.000 bulir gabah dari hasil panen ini. Pengandaian itu benar jika setidaknya hasil perhitungannya adalah bahwa seribu bulir berberat sampai 25 gram, seperti dikatakan Laulanié. Itu berat ‘tipikal’, katanya. Artinya, barangkali adalah ‘tabiat dasar’ dari perilaku tanaman padi.

Sebagai suatu pernyataan yang berstatus ‘dugaan’, kami sendiri lebih condong menyatakan prediksi capaian panen petani SPP Banjaranyar dapat mencapai antara satu sampai 1,1 ton per 100 bata atau 7,9 ton gabah per hektar. Hitungan standar deLaulanié per tanaman padi, minimum rata-rata 25 malai produktif, dengan hasil panen minimum 100 bulir bernas.

Tentu, kita berterimakasih kepada mas Tanto atau Eddy Suhermanto, kawakan petani padi organik dari Sleman, Yogyakarta, yang telah membagikan benih padi Pandawangi yang terpilih ini. Hatur thankyou, mas. Bagaimana kami balas budi baikmu..*


Acuan berguna:

Read More...

2009-01-24

Adakah yang bisa dipegang petani dari kata-kata indah Obama?

Bagi mereka yang hendak menggenggam kekuasaan melalui korupsi dan kekejian dan membungkam orang yang tidak setuju pada kebijakan mereka, yakinlah bahwa kalian berada pada sisi yang keliru, tapi kami akan mengulurkan tangan jika kalian tidak lagi mengepalkan tinju.

Bagi rakyat negara-negara miskin, kami berjanji akan bekerja bersama kalian untuk membuat ladang kalian subur dan membuat air bersih mengalir, untuk memberi makan tubuh yang kelaparan, dan memenuhi kebutuhan mental.

Dan kepada negara-negara seperti negara kita yang relatif menikmati kemakmuran, kita tidak bisa lagi bersikap tidak peduli pada kesengsaraan di luar perbatasan kita, dan kita tidak bisa menghabiskan sumber-sumber dunia tanpa mempedulikan dampaknya. Karena dunia sudah berubah dan kita harus berubah dengannya.

Itu kata-kata presiden Amerika Serikat yang baru. Orang hitam, lagi. Korupsi, ketidakadilan, kekejian, penindasan dan penekanan pada kaum miskin, apalagi di pedesaan seperti di wilayah kami, pada kenyataannya terus-menerus terjadi. Sejauh mana janji kerjasamanya menjadi manfaat bagi petani.. Yang kami perlukan sangatlah sederhana .. Mudah-mudahan kata-kata bagus dan indah seperti angin surga itu tak perlu kami ragukan telah menjadi suatu kenyataan yang sangat jauh dari kenyataan ..

Coba perhatikan lagi yang telah kami tekan dengan huruf berwarna merah .. "ladang subur, air bersih mengalir, tak ada kelaparan, jasmani dan ruhani .." Apakah ini tak terlalu indah untuk lebih baik dilupakan ..

Rasanya para petani harus lebih banyak belajar untuk tidak berharap apa pun, kecuali pada keringat dan kerja keras. Jangan sampai kita dininabobokan ..

Acuan:
Teks pidato pelantikan presiden AS Barack H Obama dari Antara.co.id

Read More...

2009-01-17

2009: Siapa mau beli kapulaga kering dari kami?

Teman-teman sekalian, Selamat Tahun Baru 2009! Sukses selalu! Ada kabar baru dari Ciamis, Jawa Barat.

Baru-baru ini beberapa orang petani dari Serikat Petani Pasundan (SPP) dari wilayah kabupaten Ciamis sudah mulai berinisiatif untuk lebih jauh melibatkan diri dan mendukung budidaya kapulaga. Malah menurut keterangan Kang Kunkun, salah seorang pemuka petani, SPP mendorong terbentuknya Asosiasi Petani Kapulaga Ciamis pada bulan Juni 2008. Anggotanya sudah mencapai 3.000 orang. Suatu langkah berarti, bukan? Entah apa pun nanti hasilnya, yang penting sekarang kita sudah mulai mencanangkan inisiatif.

Memang tampaknya tantangannya tak ringan juga. Pertama-tama adalah soal bibit. Masih belum banyak petani anggota SPP yang menanamnya. Sementara itu, siapa pun berniat membudidayakannya tentu akan harus mulai menanamnya. Nah, dari mana bibitnya. Akan harus ada "peng-awal", atau suatu "benih" yang menjadi pemulanya di masing-masing lahan petani, bukan? Harga per bibit tanaman sekarang sudah mencapai Rp1.500.

Lumayan mahal juga kan kalau diperhitungkan sebagai target jangka agak panjang (bukankah setiap orang wajib memiliki cita-cita?) setiap petani akan perlu mengelolanya sampai, misalnya, sebanyak umumnya luasan lahan yang mampu dikelola? Seluas 200 bata (atau 200 x 14 meter = 2800 meter persegi) adalah yang biasa diusahakan dan ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani.

Menurut pengalaman para petani, satu bibit selayaknya dipersiapkan untuk keluasan sampai satu meter persegi. Dalam waktu tak sangat lama, katanya sampai sekitar satu tahun saja, tanaman kapulaga sudah mulai memenuhi lahan di sekitarnya. Kapulaga akan menjadi rumpun, seperti tanaman empon-empon yang lain.

Menurut keterangan Kang Kunkun yang sekarang bertugas menjadi pengurus Unit Pengembangan Ekonomi SPP Ciamis, tapi juga di bagian Sektretariat SPP Ciamis, sekarang kiranya sudah dapat disiapkan 10 ton kapulaga kering setiap bulan. Tingkat kekeringan sampai 30 persen. Dalam waktu-waktu dekat yang akan datang ini, jika upaya pengadaan bibit menghasilkan manfaat, lahan kapulaga akan segera melebar secara bertahap. Artinya, kuantitas panen dapat meningkat.

Harga di Jakarta di tingkat mini supermarket di Ambassador, Casablanca sudah mencapai Rp5.400 per 60 gram dalam bentuk kapulaga kering, tak digiling (alias ~ Rp90.000/1kg). Malah di salah satu supermarket yang biasa didatangi para pendatang ekspat di kawasan Warung Buncit mencapai Rp5.100 per 30 gram (~ Rp170.000/1kg), juga dalam bentuk kering, tak digiling. Di situ juga ditawarkan dalam bentuk sudah digiling dalam kemasan 60 gram seharga Rp49.000.

Nah, siapa yang bersedia membantu memberikan afirmasi kepada para petani SPP? Berapa harga kapulaga kami, silakan negosiasi dan hubungi email blog ini: masadepanpetani@gmail.com. Atau hubungi Savitri W di nomor HP: 0816-168 9409; kantor: 021-8304153. Savitri sekarang bertugas di lembaga pendukung pengembangan pemasaran produk petani SPP, yaitu The Institute for Ecosoc Rights, Jakarta; alamat: Jl. Tebet Timur Dalam VI C No. 17, Jakarta 12820.

Buah atau biji-biji kapulaga ini dijamin sudah disortir dengan tingkat kecacatan yang terkontrol. Dapat dipastikan kapulaga hasil bumi SPP ini sesungguhnya berkategori "alami" kalau tidak dapat dikatakan (disertifikasikan sebagai) "organik". Pada hematnya pupuk harganya mahal dan pasokan tak teratur, maka lebih baik membuat kompos sendiri dengan memanfaatkan pupuk kandang secara optimal. Kita pastikan setidaknya kapulaga ini akan menyumbangkan tambahan mutu kesehatan tubuh yang memakannya.**

Read More...

2008-12-13

Suatu Langkah Maju: Menanam Padi secara Intensif

Awal musim hujan ini dua orang petani Serikat Petani Pasundan (SPP) di Ciamis mengambil langkah yang sangat penting artinya untuk setidaknya diri mereka sendiri tapi harapannya juga untuk sesama anggota serikat tani dan warga-warga desa yang lain. Dua kepala rumah tangga itu, pak Oman dan kang Tholib dari dusun Bulaksitu, desa Banjaranyar, Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat, secara merdeka telah memutuskan mencoba menanam padi dengan metode intensif. Ini sungguh-sungguh kemajuan.

Dalam foto pak Oman tampak sedang membawa bibit padi di atas kepalanya. Sedang kang Tholib sedang menggaris lahan sawah dengan caplak jarak tanam.

Mereka menanam varietas padi Pandanwangi, yang didapatkan dari Mas Eddy Suhermanto, petani organik kawakan dari Sleman, Yogyakarta. Pak Oman menerapkan jarak tanam 28 x 28 sentimeter. Satu titik satu tanaman. Sangat berbeda dengan metode konvensional yang sebelumnya mereka terapkan.

Metode intensif dalam menanam padi ini telah dikenal oleh banyak petani di berbagai penjuru dunia sebagai metode yang memungkinkan peningkatan hasil panen. Bisa sampai dua kali lipat, begitu kata si penemunya sendiri Henri Laulanie, S.J.

Selama ini, karena keterbatasan pengalaman mereka dalam bertani, hasil panen padi rata-rata hanya mencapai 3,5 ton per hektar. Pada umumnya petani SPP memiliki lahan sawah seluas 200 bata (1 bata ~ 14 meter persegi). Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga sendiri. Belum lagi memikirkan peningkatan hidup yang lain, seperti pendidikan anak-anak, peningkatan produksi hasil bumi, apalagi untuk kemajuan serikat petani.

Tapi, mengapa hanya dua kepala rumah tangga saja? Padahal metode ini sangat potensial meningkat hasil panen? Dan kepada mereka juga sudah dijelaskan secara gamblang, baik lewat cara-cara lisan, audiovisual, percobaan mini menanam padi dalam pot, dst.? Mengambil resiko, itu tampaknya yang paling berat. Kalau tidak berhasil, bagaimana? Padahal tananam padi itu adalah gantungan hidup mereka.

Atau, karena mereka belum “melihat sendiri” contoh berhasil yang telah dicapai sesama petani. Tapi, dugaan ini kiranya tak benar. Di desa tetangga tak jauh dari Banjaranyar, yaitu desa Kawasen, masih di kecamatan Banjarsari, kami temukan pak Endin, yang telah berhasil mencapai panen sampai 1.200 kg gabah per 100 bata, alias sejajar dengan lebih dari 8,5 ton per hektar, pada musim tanam pertama setelah dia menerapkan metode intensif ini.

Para petani di Bulaksitu ternyata juga mengetahui hal ini, tapi mereka toh tak tergerak atau tertarik untuk mencari tahu lebih jauh, atau lalu kemudian mencobanya sendiri. Atau, misalnya, kalau masih ragu-ragu juga, cukuplah mencoba dalam pot-pot atau karung goni atau dalam bentuk percobaan mini di atas tanah seluas misalnya satu meter persegi (16 atau 9 tanaman padi)?

Semua hal ini tak terjadi begitu saja. Tidak bisa terjadi begitu saja.

Dari perkembangan tahun-tahun berikutnya, pak Endin dan kelompoknya —beranggotakan sekitar 25 orang— ternyata mengambil pilihan tidak meneruskan penanaman padi metode intensif-organik. Mereka tidak lagi memasukkan pupuk sebanyak yang diharapkan. Tentu hasilnya turun, karena proses pemulihan tanah belum tuntas. Memang, masih perlu pengamatan lebih lanjut, sejauh mana tingkat kesuburan tanahnya. Tapi, sebelumnya, mengapa mereka menerapkan metode ini, tampak jelas setelah dibantu oleh pemerintah setempat. Mereka mendapatkan bantuan 25 ekor sapi dan 50 ekor kambing sebagai modal utama pembuatan pupuk.

Namun, penjualan gabah hasil panennya ternyata jeblok. Pada tahun 2003 pak Endin menjual gabahnya seharga Rp3.000 per kilogram ke pasar setempat atau ke juragan yang datang. Pak Endin merasa tidak dihargai sesuai dengan penambahan tenaga kerja dan peningkatan mutu padi atau berasnya. Bantuan pemerintah masih terbatas pada sisi hulu budidaya padi, tapi sisi hilir atau intervensi pemasaran sama sekali tak ada. Nasib pak Endin dan kelompok kembali jadi menggantung. Itu sebabnya, mereka tak lagi meneruskan penanaman padi intensif-organik.

Kalau begitu, dapat dimengerti mengapa pak Oman dan kang Tholib begitu lambat memulai penanaman motode baru ini.

Malah sesungguhnya kang Tholib menerapkan metode ini masih terbatas hanya untuk seluas 75 bata lahan sawahnya. Sisanya masih dengan metode konvensional. Satu titik ada yang ditanamkan sebanyak tujuh tanaman padi. Padi-padi itu jelas masih akan merana. Apa jawab kang Tholib ketika ditanya mengapa tidak sekalian padi di lahan sawah sisanya diintensifkan? “Ah, malas,” katanya singkat, tanpa penjelasan apa pun yang lain. Ia tak tersenyum, tak bergeming. Singkat dan jelas, “Malas.” Titik.

Pesannya jelas, di sini. Pengelolaan dari hulu sampai hilir diharapkan lebih akan menjamin keberlanjutan peningkatan kesejahteraan. Jika setengah-setengah, maka hasilnya juga setengah-setengah.**

Read More...

2007-06-16

Pak Kuham dan Balok-balok Kayu Para Orangtua Murid












Tampak pada foto ini Pak Kuham, seorang relawan dari desa di sekitar SMP Plus Assururon. Namanya desa Nagrog, yang mengordinasikan bantuan balok-balok kayu. Pak Kuham sangat sadar pentingnya sekolah dan pendidikan untuk anak-anak. Maka ia meluangkan waktunya untuk mengurus sumbangan-sumbangan kayu dari para orangtua murid.

Para orangtua tidak ditarik sepeser uang pun oleh pihak penyelenggara sekolah istimewa ini, jusstru karena menyadari keterbatasan-keterbatasan sumber-sumber yang ada di pedesaan. Pada gilirannya para orangtua murid yang umumnya para petani miskin itu dengan kerelaan hati malah menyumbangkan balok-balok kayu yang harganya sangat mahal. Mereka bersepakat untuk menyumbangkan dua batang kayu balok untuk mendukung pendirian kelas belajar bagi anak-anak mereka yang belajar di sekolah ini.

Di antara kayu yang disumbangkan adalah balok kayu putih, yang beraroma segar itu. Kayu putih adalah kayu istimewa yang kuat dan anti-rayap.

Read More...

Kaos Cantik untuk Para Sahabat Sekolah ..



Rancangan grafis untuk kaos-kaos ini diperuntukkan bagi para Sahabat Sekolah Assururon. Cantik. Mendidik. Membawa Pesan-pesan Kehidupan.

Yang berminat untuk mendapatkannya, dapat menghubungi Boy Fidro di HP: 0818987067 pada hari-hari kerja. Dengan mendapatkan kaos cantik ini, para Sahabat membantu perkembangan dan kemajuan nasib para anak desa yang sangat miskin dan terpencil seperti SMP Plus Assururon di Garut, SMP Plus Pasawahan di Ciamis, SMP Plus Darul Hikmah di Tasikmalaya.

BURUAN! JANGAN SAMPAI KEHABISAN.

Read More...