Teman-teman sekalian, dalam pertemuan petani di Garut tentang tata produksi baru-baru ini kami mendengar kabar dari kang Dedi Wiharja dari desa Pasawahan, Banjarsari, Ciamis bahwa ternyata di desanya dapat dibuat sumur gali. Dia sendiri ternyata juga sudah memiliki sumur gali dengan diameter lubang mendekati satu meter.
Wah ini kabar baru yang menarik. Mengapa? Karena selama ini di sekolah kami belum ada sumur gali sehingga pada musim kemarau kami kesulitan mendapatkan air.
Lebih menarik lagi adalah bahwa kang Dedi mengatakan sumurnya itu tetap mengandung air di dasar selama musim kering.
Ini kesempatan baru agar nanti kami dapat mengelola budidaya tanaman selama musim kering.
Kang Dedi sendiri begitu antusias ketika mencari tahu tentang cara-cara membuat pompa tali yang sangat meringan beban menaikkan air. Karena selama ini air sumur hanya untuk keperluan rumah tangga. Dan cara menaikkan airnya pun masih dengan cara tradisional dengan menggunakan kèrèkan dengan tali bekas ban mobil ..
Kebetulan teman kami dari Yogyakarta sudah berhasil membuat pompa tali dengan bahan-bahan setempat. Kalau rusak bisa diperbaiki sendiri. Sangat efisien karena sembari memutar roda, air sumur terus mengalir. Ringan diputar, juga untuk anak-anak.
Siapa mau mencoba ...
2010-03-20
Pompa Tali Ringan Juga untuk Anak-anak
2009-09-06
Mohon bantuan bagi para korban gempa
Gempa kuat itu termasuk merusak banyak rumah kami di kawasan tiga kabupaten Tasikmalaya, Garut dan Ciamis. Sudah kami daftar kerusakan dan korban-korban yang menderita akibat gempa. Ratusan sampai sekitar seribu lebih rumah kami rusak. Banyak yang harus kami perbaiki terlebih dahulu jika kami hendak kembali tinggal di rumah. Desa Cigalontang di Tasikmalaya adalah salah satu desa warga petani Serikat Petani Pasundan yang paling parah mengalami dampak gempa bumi ini.
Guru kami, Boy Fidro, di Pamengpeuk, Garut, Jawa Barat adalah salah satu yang sampai sekarang belum dapat tinggal di rumah. Rumahnya rusak berat. Pak Boy sendiri sampai terluka. Gempa terjadi beberapa puluh detik, tetapi pada putar gerakan bumi yang kedua, begitu sejauh dirasakannya, pak Boy buru-buru masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang penting. Tetapi pada saat keluar lagi, goyangan bumi terjadi lagi dan menyebabkan salah satu komponen rumahnya runtuh dan sebagian mengenai dirinya.
Berikut ini adalah berita-berita terakhir tentang gempa, dampak dan upaya penanganannya.
2008-04-10
A closer look to our school
View Larger Map
We are quite grateful to find that wikimapia and google map both include our location in that marvelous digital map. You will not, of course, get lost when you come to visit our school. Much would sooner be changed particularly the landscape.
Now we have started to create a new contour-wise terracering in order to keep the environment even better preserved. Hope it would finish sooner than later.
However, you will still have to take a much damaged access street/road to reach our location. The government has yet to finish as they complain to have no public budget to repair the road to quite comparatively remote areas like Pasawahan village.
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
4/10/2008
0
komentar
Kategori in English, pertanian, sekolah, wikimapia
2007-06-09
Update pendirian klas baru Assururon
PEMBANGUNAN klas baru untuk SMP Plus As-Sururon sampai 6 Juni 2007 sudah berjalan sembilan hari. Mereka menargetkan sebelum tahun ajaran baru gedung ini sudah berdiri dan bisa segera dipakai untuk menampung murid-murid baru. Keadaan sebelumnya bisa teman-teman lihat di posting Solidaritas Kebersamaan ini.
Sementara, tenaga kerja semuanya merupakan uluran tangan dari orangtua dan masyarakat desa setempat. Ada bisa melihat sebagian dari mereka tampak dalam foto di samping ini. Semua yang bekerja untuk membangun gedung ini melakukannya dengan sukarela. Mereka memberikan waktu untuk bekerja membangun dan menyediakan bahan-bahan yang tersedia di desa. Di antaranya adalah kayu-kayu yang dibutuhkan untuk membentuk gedung "rumah panggung" ini.
Para pendiri lembaga pendidikan ini berpendapat bahwa arsitektur rumah panggung dan bahan-bahan kayu akan mengefisienkan pemanfaatan tanah yang sangat mahal harganya. Di bagian bawah dari gedung ini, seperti klas-klas lain yang telah dibangun, akan menjadi kolam ikan: suatu kebiasaan yang umum dimiliki oleh masyarakat Jawa Barat -- rumah di mana kolam ikan menjadi bagian.
Namun pendiri Assururon bersikap lebih tegas lagi karena kolam ikan itu tidak berada di belakang rumah, namun persis di bawah rumah. Sementara bahan-bahan kayu akan membuat iklim di dalam rumah menjadi tetap hangat. Suhu hangat lebih cocok untuk desa Sarimukti yang berada di ketinggian 1.500 meter di atas lain yang dingin itu. Anak-anak menjadi lebih kerasan belajar di dalam klas.
Namun, sayangnya, tanah di mana didirikan klas baru ini sebenarnya adalah tanah yang selama ini digunakan oleh anak-anak untuk belajar praktik pertanian. Para siswa kini kehilangan lahan latihan. Memang tak ada pilihan lain, karena harga tanah sangat tinggi, maka tempat praktik pertanian ini terpaksa dikorbankan. Kepemilikan tanah yang begitu sempit untuk Assururon sampai sekarang belum terpecahkan.
Banyak pihak telah membantu sehingga pendirian klas baru ini mungkin dilaksanakan. Namun, tampaknya untuk memenuhi keperluan dan kebutuhan latihan kegiatan pertanian sampai sekarang belum terjamin. Kemungkinan yang dilihat untuk menyelesaikan masalah ini adalah memohon bantuan dan dukungan dari segenap warga masyarakat untuk menyumbangkan sebagian dari keperluan hidupnya. Suatu bentuk luasn tanah yang mencukupi kiranya sangat dibutuhkan oleh para siswi-siswa untuk tempat latihan tersebut.
2006-04-09
DI MANAKAH DESA PASAWAHAN?

JIKA teman-teman sekalian datang entah dari arah utara (Ciamis, Tasikmalaya, Bandung) atau dari arah selatan (Pangandaran dan Jawa Tengah), teman-teman akan sampai di pertigaan Cikokol. Pertigaan ini berada tak jauh dari ibukota kecamatan Banjarsari, Ciamis. Atau Dari Cikokol teman-teman bisa naik angkutan desa menuju ke desa Bulak Situ. Turunlah di situ. Dari Bulak Situ teman-teman bisa naik ojeg atau kadang-kadang juga ada angkutan desa menuju ke desa Pasawahan. Di desa ini semua warganya sudah tahu di mana letak SMP Plus Pasawahan, karena satu-satu sekolah menengah di desa itu. Tak sukar kan? SELAMAT DATANG!**
2006-04-03
KENAPA SAYA SEKOLAH JAUH-JAUH KE PASAWAHAN?
Susilawati, 14 th, siswi klas 2 SMP Plus Pasawahan
“Saya berasal dari desa Purbahayu, Ciamis. Jarak dari desa saya ke desa Pasawahan kurang lebih 20 kilometer. Saya pergi ke Pasawahan karena ingin sekali sekolah. Kenapa saya sekolah jauh-jauh ke sini? Karena orangtua saya tidak mampu untuk menyekolahkan saya ke sekolah negeri yang dekat. Nah, berhubung tempat tinggal saya jauh, syukurlah ada saudara di sini, yaitu pak Wawan (Edi Baktiawan), yang mendorong saya tinggal di rumahnya bersama dengan teman-teman saya.”
2006-03-23
INILAH BEBERAPA ORANG GURU MASA DEPAN PETANI PASAWAHAN



Banyak di antara para pendidik dan pengajar di SMP Plus Pasawahan adalah sarjana-sarjana pendidikan dari Universitas Galuh Ciamis. Klik "external link" pada judul posting ini.
SAEFUL MILLAH [urutan foto di tengah], lahir di Banjar, Jawa Barat, 14 Nov 1981. Usianya sudah lebih dari 25 tahun tapi masih perjaka ... Ayah dan ibunya adalah guru, tapi Pak Epul, begitu dia dipanggil murid-muridnya, semula tak bercita-cita jadi guru, meskipun gelar sarjananya adalah sarjana pendidikan jurusan biologi. Anak muda ini, 2001, waktu itu masih mahasiswa di Universitas Galuh, Ciamis, justru tertarik menjadi anggota Serikat Petani Pasundan (SPP). Oleh SPP, 2003, kemudian ia ditugaskan mengajar di SD dan SMP “Assururon” di desa Sarimukti, Garut, yang sudah satu tahun berjalan. Tahun berikutnya muncul kebutuhan di wilayah kerja SPP di kabupaten Ciamis untuk juga mendirikan sekolah anak-anak petani. Begitu menyelesaikan kuliahnya, 2004, Pak Eful tanpa ragu lagi langsung melibatkan dirinya sepenuhnya untuk memulai pembentukan sebuah “SMP Plus” di desa Pasawahan, Banjarsari, Ciamis. “Saya mau ikut menyumbangkan diri mendidik anak-anak petani menjadi para pemimpin desa yang peka terhadap lingkungan sosial. Itulah mimpi saya sejak sekolah ini dibangun,” kata pak Eful mantap. Siapa mau mengikuti teladan anak muda yang bercita-cita besar ini?**

