2010-03-29

Berapa sesungguhnya hasil panen padi cara alami ala Fukuoka?

Banyak orang meragukan metode bertanam padi secara alami seperti dipraktikkan oleh Masanobu Fukuoka, seperti telah kami angkat dalam posting kami sebelumnya atas pertanyaan dari seorang pembaca blog ini, yang pada hemat kami mewakili banyak pendapat masyarakat seumumnya.

Masa sih "tanpa bekerja apa-apa", dapat dihasilkan panen padi yang diharapkan? Ya itulah memang pokok utama metode dari Fukuoka. Pertama, tidak membajak. Kedua, tidak membuat kompos. Ketiga, tidak menyiangi. Dan keempat, tentunya, tidak menggunakan pestisida.

Berikut ini adalah kata-kata jujur dari Fukuoka sendiri seperti dapat teman-teman baca dari buku terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia "Revolusi Sebatang Jerami" (1991, Obor) halaman 46-47.

"Pada tahun-tahun terakhir ini saya telah mencoba sebuah varietas lama padi lulut dari daerah selatan. Setiap benih, ditabur pada musim gugur, menghasilkan rata-rata 12 batang dengan kira-kira 250 bulir tiap malai. Dengan varietas ini saya kira pada suatu hari saya akan dapat memperoleh suatu panenan yang mendekati yang paling tinggi yang dapat diperoleh secara teoretis dari energi matahari yang mencapai ladang. Di beberapa areal ladang-ladang saya, panenan 27,5 gantang (1.650 pon [atau: 748,42 kilogram]) tiap seperempat acre-nya [~1011,5 meter persegi] telah dapat dicapai dengan varietas ini. ... [Dan] saya telah menanam padi dengan cara ini lebih dari dua puluh tahun. Hasilnya terus meningkat dan tanahnya menjadi lebih subur setiap tahunnya."


Jika dikonversi dalam satuan hektar, capaian yang diperoleh oleh Fukuoka adalah 7,3 ton gabah per hektar .. Target nasional kita "bangsa" Indonesia seingat kami baru sampai 5,5 ton per hektar. Seorang petani yang giat dengan menyiapkan kompos di Indonesia dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektar ..

Pada hemat hitungan kami, dengan capaian tujuh ton per hektar, apalagi jika tanpa banyak menghabiskan tenaga kerja dan biayanya karena dikelola secara alami, seperti halnya Tuhan menciptakan .., maka perencanaan usaha tani sudah dapat sampai mendukung jatah makan teman-teman kita yang tinggal di kota .. Sementara itu di desa, para petani sudah dapat menjamin kedaulatan pangan, sudah dapat mendidik anak-anak desa, sudah merdeka ..

Tapi semua ini memerlukan perjuangan pada awalnya .. Dan perjuangan ini menurut almarhum Fukuoka tidaklah memakan waktu yang lama .. Tak sebanding dengan dampak dan kerusakan lingkungan dan anti-kesuburan tanah yang ditimbulkan oleh karena keinginan manusia yang berlebihan untuk mendapatkan keuntungan dan keuntungan dan keuntungan, tapi pada akhirnya malah kerugian yang diterima ..

Untuk konversi satuan berat, luas, dll. mohon klik berikut ini: onlineconversion.com
Lihat juga: One Straw Revolution

2 komentar:

Saung Tani mengatakan...

Metode seperti ini memerlukan waktu yang cukup panjang agar dapat diaplikasikan kepada masyarakat tani yang telah terbiasa dengan metode ala Revolusi Hijau yang padat modal dan teknologi. Akan tetapi apabila metode ini memang betul-betul memberikan hasil yang signifikan dalam sistem usaha tani kita, saya yakin sistem ini dapat diterapkan secara mssal.
Salam sukses selalu.

kesehatan ibu dan anak mengatakan...

Mohom maaf, kalau yang dimaksud dengan menanam alami itu apa ya..? dan yang dimaksud menyebarkan benih setelah musim gugur itu bagaimana? apa hanya ditanam setelah musim gugur/setahun sekali? dan terakhir, apa ditanam hanya dengan disebarkan saja atau ditanam satu-satu seperti sekarang?