2010-04-07

Hidup di Desa Akan Berarti sepanjang Masa

Oleh Rani Anggraeni

    Di sebuah desa yang bernama desa Sukajaya. Desa ini tanahnya subur dan indah dan mayoritas masyarakatnya sebagai petani penggarap lahan. Pada suatu hari seorang ibu petani mencari kayu bakar.
Tapi tiba-tiba ia melihat dua orang polisi yang sedang melakukan pemeriksaan lahan tanah. Di atas tanah tersebut akan dibangun sebuah gedung. Dan dalam areal lahan yang sangat luas akan ditanam kelapa sawit.
    Saat itu pula ibu itu langsung lari ketakutan sambil membawa kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Tapi polisi itu melihatnya dan berkata,
    ”Hei, jangan lari!”
Dan ibu itu pun berhenti dengan rasa takut dan badannya gemetar.
    “Bu, jangan mengambil kayu bakar di sini. Ini hutan milik negara!” katanya dengan nada keras.
    ”Ta.. tap…tapi say…ya..anu Pak..anu Pak!’’ kata ibu itu penuh ketakutan sambil bersimpuh di hadapan petugas tersebut.
    “Tidak ada tapi-tapian, apa kamu tidak baca tulisan di tepi hutan itu hah?” Bentaknya.
    “Maaf pak, saya anu.., saya buta hurup pak!” jawab ibu itu.
    “Lagi pula sejak kapan ada aturan itu?” tanya si ibu sambil mencoba mengusir ketakutannya.
    ”Sejak dulu pun kami selalu selalu mengambil kayu bakar di sini. Lagi pula kami sudah lama menggarap lahan ini,“ lanjutnya.
    “Sudah saya bilang dari tadi, ini hutan milik negara!” jawabnya.
    “Tapi pak, sejak dulu kata leluhur saya tanah ini…”
    ”Jangan melawan!” bentak polisi itu. “Kalau kamu melawan, kamu akan dihukum! Sekarang silahkan cepat pergi dari sini!”

    Dengan penuh ketakutan ia pun pulang dengan tergesa-gesa.
    Sampai di rumah ia menceritakan pengalamannya kepada tetangganya. Dan kejadian itu tersebar menjadi perbincangan warga di sekitar hutan itu. Sebenarnya warga sekitar pun sudah resah dengan adanya kejadian–kejadian yang dialami oleh warga, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Di rumah Pak Sarya, suami ibu yang beberapa hari yang lalu mengalami kejadian di hutan itu, terlihat perbincangan serius dengan beberapa warga sekitar.
    “Kita jadi heran, mengapa petugas polisi itu melarang menggarap dan mengambil kayu bakar di hutan itu,” kata Pak Sarya keheranan.
    “Yang kita tahu lahan yang kita garap itu merupakan hak kita warisan dari para leluhur kita. Tapi sekarang jadi berubah!” lanjut Pak Sarya.
    “Betul pak, sekarang kita dilarang cari kayu bakar bahkan untuk nyabit rumput saja kita dilarang,” tambah Pak Karim.
    “Iya Pak, kemarin saja si Paimin hampir saja ditembak oleh petugas,” timpal si Bejo sambil mengambil ubi rebus.
    “Ah kamu jangan ngarang Bejo!” tukas Pak Sarya.
    “Alaah kamu mah sok bikin gosip baru, Bejo, jangan ngabodor atuh! Teu lucu deuleu…” sambung Ki Barna ikut nimbrung.
    “Weuleuh-weuleuh, kapan saya teh ngabohong Ki ?” jawabnya meyakinkan.
    “Mana mungkin Bejo bohong, sanajan can pake kopeh haji, saya mah tara ngabohong kakapeungan, sumpah tah daek burut salelembur!” tambahnya sembari menepuk dadanya dan di mulutnya masih penuh dengan ubi rebus Bu Sarya.
    “Makanya kalau jadi orang kudu jujur, Bejo, jangan suka bikin cerita yang enggak-enggak. Jadinya orang lain nggak percaya sama omongan kita!” kata Bu Sarya dari dapur sambil menyiapkan kopi.
    “Iya, bener, Bu, Si Bejo mah suka ngarang,“ tambah Sarju yang baru saja datang.
    “Udah..udah! Banyak omong tidak bakal menyelesaikan persoalan,“ sela Pak Sarya. “Yang kita harapkan adalah bagaimana kita bisa keluar dari kemelut ini tanpa ada korban,“ lanjutnya.
    “Kita laporkan saja kejadian ini sama pemerintah!” usul Pak Karim.
    “Itu sama saja bohong. Polisi itu adalah petugas negara. Kalau mereka sudah melarang kita itu berarti pemerintah pun sudah mengetahui, atau mungkin mereka sudah menyetujuinya,“ tegas Pak Sarya.
    “Posisi kita dalam posisi yang sulit. Secara hukum kita tidak mungkin menang," lanjutnya kebingungan.
    “Lho kok jadi bingung? Kita kan masih punya harga diri, keyakinan dan hak. Apalagi yang kita harapkan? Lalu apa artinya persaudaraan dan persatuan kita? Kalau kita bersatu kita bisa melakukan banyak hal!” tegas Bu Sarya bersemangat.
    “Setuju-lah, pokoknya kita harus melakukan sesuatu!” sambut yang lainnya.
Malam itu semua orang desa Sukajaya terlarut dalam mimpi yang mencekam tentang hutan mereka yang terancam tidak bisa digarap lagi oleh warga masyarakat.

    Selang dua hari berikutnya pohon pun mulai ditebang dengan menggunakan alat-alat berat. Beberapa ruas jalan masuk ke wilayah itu dijaga ketat oleh aparat keamanan. Warga sekitar hanya bisa melihat dari kejauhan. Di sudut desa terlihat banyak warga berkumpul. Di sana ada Pak Sarya yang sedang berdiri di antara kerumunan warga yang berkumpul.
    “Sekarang pemerintah telah menebang semua pohon dengan menggunakan alat-alat berat. Dan sekarang kita dilarang untuk mengambil kayu bakar dan menggarap lahan di hutan itu. Lantas apakah kita akan diam saja melihat tontonan konyol ini?” tegas Pak Sarya.
    “Apakah kalian keberatan dengan tindakan pemerintah itu?” tanyanya lagi.
    “Kami semua merasa keberatan, Pak! Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa!” jawab mereka.
    “Siapa bilang kita tidak bisa berbuat apa-apa?’ tukas Bu Sarya sambil berdiri menatap satu persatu warga yang berkumpul. “Kita punya kawan, kita bersaudara. Dan sekarang kita sedang ditindas oleh pemerintah. Kita sudah dirampas hak kita. Hutan ini bukan milik mereka. Merekalah yang telah merampas hak kita. Betul tidak?” tanyanya. Warga pun menjawab dengan serempak, “Betul, lebih baik kita lawan mereka! Ayoo kita lawan!” teriak mereka sambil mengacungkan kepalan tangannya.
    “Tapi kita jangan gegabah, karena pemerintah itu licik. Mereka mempunyai banyak anak buah. Jadi kita harus waspada. Kita harus terus menggarap lahan tersebut walaupun polisi ada di mana-mana. Karena kalau kita tidak menggarap lahan itu, kita mau makan darimana?” tegas Pak Sarya disambut dengan teriakan setuju warga sekitar.

    Pada hari berikutnya, pohon-pohon sudah banyak yang ditebang. Tanaman warga yang hampir tiba masa panen pun banyak yang dibabat oleh petugas. Sementara di lain pihak sebagian warga banyak yang melakukan kegiatan bekerja di ladang dan di sawah mereka, walaupun mereka tahu hal itu dilarang.
    Di sebidang ladang dekat sungai, petani beserta keluarganya sedang menggarap padi huma mereka yang sudah hampir menguning. Mungkin beberapa minggu lagi ia akan memanennya.
    Tapi secara tiba-tiba, datang lima orang polisi dengan senjata lengkap ke gubuk petani yang sudah merupakan rumah tinggalnya. Dua orang polisi datang menghampiri petani itu dan yang lainnya menodongkan senjata ke arah petani seraya mengepung gubuk tersebut.
    Hal itu tentu saja membuat petani dan keluarganya ketakutan. Dua anaknya menangis dan mendekap erat dipangkuan ibunya. Ia berkata sambil marah marah,
    “Saya kan sudah kasih peringatan. Jangan menggarap di sini! Apa kalian tuli?” tanyanya dengan kasar. Dengan penuh ketakutan petani itu mencoba menepis rasa takutnya dan menjawab dengan tenang.
    “Saya tahu pak, tapi…”
    “Tapi apa?” tukas polisi. Petani itu pun mengambil napas dalam-dalam lalu ia menjawab, “Sebenarnya hutan ini adalah hutan kami, Pak, bertahun-tahun kami hidup di sini. Ini adalah nyawa kami, tumpuan hidup istri dan anak-anak kami, Pak. Kalau kami tidak menggarap di sini, kami mau makan dari mana, Pak ..” jawabnya memelas.
    “Heh, saya tidak perlu omong kosong apa lagi. Sudah jelas kamu adalah para penjarah hutan, perusak hutan! Masih saja kamu ngaku-ngaku hak kamu. Sekarang jawab, mau pergi atau tidak? Kalau tidak, maka kamu akan berhadapan dengan hukum. Kamu akan dipenjara!” jawabnya dengan lantang.
    “Tidak, kami tidak akan pergi! Ini hak kami dan bukan milik siapa pun termasuk pemerintah!” kata petani itu dengan penuh keberanian. Kali ini dia tak ada rasa takut lagi.
    “Kamu melawan saya?” Dan plak … dug. Dua buah tinju polisi tepat di dada petani itu. Ia terhuyung ke belakang. Dia jatuh tepat di depan polisi yang memegang senjata, lalu… Dak! Tendangan sepatu bot mengenai kepala. Darah keluar dari kepala dan hidungnya.
    “Bapaa…!” Istri dan anaknya menjerit. Tapi tak membuat polisi itu menghentikan aksinya. Lalu dengan nada mengancam ia menodongkan pistol ke kepala petani itu sambil berkata,
    “Sudah saya bilang, jangan melawan saya!” ancamnya.
    “Sekarang katakan mau pergi atau tidak?” tambahnya sambil tetap mengarahkan ujung pistolnya di atas keningnya. Dan dengan nada bergetar penuh keberanian petanipun menjawab dengan tegas,
    “Saya tidak akan pergi!! Kalau bapak mau tembak saya, ayo! Ayo tembak! Dan saya bersumpah bahwa saya tidak takut sedikit pun atas ancaman bapak!!” jawabnya lantang.
  “Apa? Kamu melawan saya?” Lalu… Dor..! Sebuah tembakan meletus membuat pak petani terkulai lemas bersimbah darah dan tewas seketika diiringi oleh jeritan istri dan anaknya …
    “Baapaaaa…..! Jangan tinggalkan kami, Pa…” jerit istri petani begitu memilukan. Sambil berurai air mata ibu petani itu bangkit dan menatap wajah para polisi itu dengan penuh amarah.
Lalu ia berkata dengan geramnya, “Kalian polisi busuk! Biadab! Beraninya sama orang lemah seperti kami! Kalian harus mampus!”
    Perempuan itu menggeram. Tangan kanannya mengambil cangkul yang tergeletak di dekatnya. Lalu setengah berlari ia memegang cangkul itu seraya mengayunkannya ke arah polisi itu, dan .. dor .. Tembakan polisi tepat di dadanya dan seketika itu juga ia rebah bersimbah darah tidak jauh dari suaminya.
    “Tidaaaak ..! Ibuu ..!!” jerit kedua anak petani. Melihat kondisi itu ke lima polisi itu pun pergi meninggalkan dua nyawa melayang dan duka bagi dua anak petani yang ditinggalkan oleh orang tuanya.

    Menyadari hal yang telah terjadi, kedua anak petani itu pun berlari menyusuri jalan kebun menuju perkampungan penduduk desa. Lalu dengan tersedu ia melaporkan kejadian itu kepada Pak Sarya dan warga yang lainnya yang sudah berkumpul. Kini warga sudah semuanya menyadari petaka yang terjadi. Dan mereka telah sadar akan resiko yang dihadapinya.
    “Kini kita harus berhati-hati, tapi kita harus menghentikan mereka!” geram Pak Sarya dan juga diikuti oleh yang lainnya. “Polisi telah mengetahui apa yang kita lakukan. Jadi lebih baik kita datang bersama-sama untuk menghentikan semua ini !” seru yang lainnya.
    “Kita akan berjihad melawan ketidakadilan pemerintah. Kita akan berjuang demi hak dan kebenaran yang hakiki dengan mempertaruhkan jiwa raga kita. Siapa pun yang ikut, harus mengikuti perintah pemuka lapangan kita. Kita tunjuk Pak Sarya yang menjadi pimpinan kita. Setuju?” kata Pak Kyai Abdul Majid.
    “Setuju!” sambut yang lainnya.
    “Sore hari ini, kita harus berangkat ke lokasi. Tapi ingat! Tidak ada satu orang pun yang membawa senjata tajam. Kita ke sana bukan untuk berperang, tapi kita akan melawan ketidakadilan. Dan kita tidak akan kembali sebelum tanah ini kita kuasai kembali!” tegas Pak Sarya, diikuti oleh gelegar gema takbir jihad warga masyarakat.
    Pada sore itu pun mereka berangkat berduyun-duyun ke lokasi tersebut. Tentu saja hal itu membuat petugas keamanan berusaha memblokir jalan masuk yang menuju ke sana. Mereka tidak membawa senjata, tapi semuanya membawa tekad baja. Semuanya berbaris rapat sambil terus mengumandangkan takbir.
    “Allahu Akbar….Allohu Akbar…..Allohu Akbar..! Hidup petani! Usir para penjajah!”
Sore itu walaupun mereka dihadang dengan senjata lengkap namun mereka tidak bergeming sedikit pun.
    “Usir perusak hutan! Usir polisi pembunuh petani tak berdosa..!” teriak mereka penuh semangat.
Langit mendung, warga masih bertahan sampai hari esoknya. Bahkan semakin lama warga yang bergabung semakin bertambah. Hampir semua penduduk desa bergerak menuju lokasi penebangan dari berbagai penjuru. Tua, muda, laki-laki perempuan datang ke lokasi tesebut.
    Mereka bergerak maju sedikit demi sedikit. Tidak ada yang membawa senjata ataupun membalas perlawanan para petugas. Walaupun terkadang mereka meletupkan tembakan-tembakan peringatan, tapi mereka balas dengan takbir.
    Keadaan ini lama-kelamaan membuat para petugas keamanan sakit kepala. Sampai akhirnya datang tim lobby dari pihak perusahaan untuk melakukan perundingan dari berbagai pihak. Ada dari pemerintah kabupaten, anggota dewan, kepolisian dan dari kantor dinas tertentu. Mereka datang ke lokasi tersebut.
Beberapa saat kemudian satu orang yang mengaku anggota dewan rakya itu angkat bicara di hadapan para petani yang semua geram itu.
    “Hasilnya untuk sementara kegiatan penebangan tersebut dapat dihentikan sampai masa yang belum ditentukan,” katanya dengan nada dingin. Dikatakan bahwa polisi yang menembak warga “akan ditindaklanjuti di pengadilan”. Ditambahkannya, warga masyarakat diperbolehkan melakukan kegiatan seperti biasanya lagi.
    Hal ini disambut suka cita warga desa Sukajaya dengan penuh harapan mereka dapat lagi memperbaiki taraf perekonomian. Tetapi mereka telah kehilangan dua warga desa jadi tumbal keserakahan para pejabat perusahaan dan kongkalikong mereka.
    Petani suami dan istri itu adalah para pejuang. Mereka adalah pahlawan. Mereka adalah syahid.
    Sore itu langit masih mendung, semendung duka derita warga yang kehilangan pahlawan mereka. (30 Januari 2005)

1 komentar:

tric06 mengatakan...

bagus ceritanya..
(http://tric06.student.ipb.ac.id/)