Such question on the title of this post comes from someone who responded to our previous post titled 'Mengenang Masanobu Fukuoka'.
Who among you all would offer an answer? In this forum you are very welcome.
The question is so brief that also seems very clear signal of doubt that hopefully does not suggest rejection of natural farming. A skeptical attitude of course is very useful to encourage us to find the true answer or even try it yourself first before deciding to reject it.
If the background of this question is to urge people to seek mere profits from agricultural activities, of course, the one who pose such question would be disappointed. Today we are so overwhelmed by the lust for profit. Even if they have the heart or even they have that blunt heart, let's say, even if we are aware that agricultural production activities will damage soil structure and fertility they will keep going against our mother nature.
We do not know where this world will end ..
2010-03-24
Could natural farming Fukuoka style be applied in Indonesia?
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
3/24/2010
0
komentar
Kategori in English, keberanian, pertanian, pertanian alami
2010-03-20
Pompa Tali Ringan Juga untuk Anak-anak
Teman-teman sekalian, dalam pertemuan petani di Garut tentang tata produksi baru-baru ini kami mendengar kabar dari kang Dedi Wiharja dari desa Pasawahan, Banjarsari, Ciamis bahwa ternyata di desanya dapat dibuat sumur gali. Dia sendiri ternyata juga sudah memiliki sumur gali dengan diameter lubang mendekati satu meter.
Wah ini kabar baru yang menarik. Mengapa? Karena selama ini di sekolah kami belum ada sumur gali sehingga pada musim kemarau kami kesulitan mendapatkan air.
Lebih menarik lagi adalah bahwa kang Dedi mengatakan sumurnya itu tetap mengandung air di dasar selama musim kering.
Ini kesempatan baru agar nanti kami dapat mengelola budidaya tanaman selama musim kering.
Kang Dedi sendiri begitu antusias ketika mencari tahu tentang cara-cara membuat pompa tali yang sangat meringan beban menaikkan air. Karena selama ini air sumur hanya untuk keperluan rumah tangga. Dan cara menaikkan airnya pun masih dengan cara tradisional dengan menggunakan kèrèkan dengan tali bekas ban mobil ..
Kebetulan teman kami dari Yogyakarta sudah berhasil membuat pompa tali dengan bahan-bahan setempat. Kalau rusak bisa diperbaiki sendiri. Sangat efisien karena sembari memutar roda, air sumur terus mengalir. Ringan diputar, juga untuk anak-anak.
Siapa mau mencoba ...
2010-03-17
Anak-anak dan pompa tali
Teman-teman, menyambung posting sebelumnya, berikut ini ada dua video clips dari youtube yang melukiskan anak-anak kecil pun dapat dan kuat menggerakkan pompa tali dengan memutar pedal roda penarik tali ..
Memang pompa tali ini benar-benar meringankan pekerjaan rumah kita dan pekerjaan kebun kita .. Tak peduli siapa pun sampai asal kiranya anak-anak mulai menunjukkan keinginan untuk menggerakkan tangan dan kaki. Mungkin sampai ke anak-anak berusia 10 tahun ..
Video clip kedua berasal dari Senegal, Afrika Selatan, seorang anak perempuan sedang memutar dengan kencang pompa tali untuk menimba air ..
Video clip yang pertama dari Belanda melukiskan anak-anak kecil, kelihatannya usianya kurang dari 10 tahun, sedang memutar pompa tali karena dia ingin melihat bunga yang ada di samping pompa itu berkembang .. Lucu juga kan .. Pembuat pompa itu dikatakan bekerja untuk Akvo, sebuah lembaga masyarakat yang banyak mendorong masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah air ..
Siapa yang berani untuk mencoba membuat pompa yang sangat bermanfaat ini ..
Video dari Belanda
Link mengunjungi Akvo ..
2010-03-04
Selamat untuk Pak Akom dari Karawang ..
![]() |
Lihat kan di belakang kang Akom pada foto di atas kelihatan sebagian sawah dan tanaman padinya .. |
2009-06-10
Produksi etilen di dalam tanah (2)
Pertanyaannya sekarang: Bagaimana oksida besi itu memicu terbentuknya etilen dalam tanah? Bentuk zat besi ini bereaksi dengan suatu ‘prekursor’ dari etilen yang sudah terdapat di dalam tanah. Dalam hal ini terjadi suatu reaksi yang kemudian menghasilkan terlepaskannya etilen. Penelitian kami membuktikan bahwa prekursor ini berasal dari tanaman itu sendiri; dan yang lebih penting adalah bahwa prekursor ini hanya (mampu) berakumulasi sampai ke suatu jumlah yang banyak [melulu] pada daun-daun yang telah jadi tua dari tanaman tersebut. Ketika daun-daun tua ini jatuh ke tanah dan membusuk, jumlah prekursor itu di dalam tanah jadi meningkat. Kemudian, jika keadaannya cocok untuk terjadinya mobilisasi oksida besi, etilen kemudian diproduksi atau dihasilkan.
Kami juga telah membuktikan bahwa berbagai spesies tanaman memiliki kuantitas yang berbeda dalam banyaknya jumlah prekursor yang kemudian terakumulasi ketika daun-daunnya menua. Hal ini penting diketahui supaya kita bisa memilih jenis spesies tanaman yang tepat digunakan sebagai tanaman-tanaman penutup tanah untuk meningkatkan kemampu tanah-tanah pertanian memproduksi etilen. Beberapa spesies tanaman yang menghasilkan konsentrasi tinggi untuk jumlah prekursornya adalah padi, phalaris, bunga krisan, avokat, bullrush, pinus radiata. Yang rendah hasil prekursornya adalah Dolichos, paspalum, lucerne dan bracken fern (pakis).
Jika kita lihat lagi, tidaklah terlalu mengherankan bahwa prekursor etilen hanya dapat berakumulasi pada daun-daun tua yang mati. Dalam dunia alamiah dari tanaman, daun-daun tua yang mati itu adalah, jika dikumpulkan, berupa gundukan daun kering yang berasal dan jatuh dari pohon ke atas tanah. Begitu pula kita tahu bahwa dalam kebiasaan pertanian kebanyakan daun-daun tua itu dirontokkan dan disingkirkan dari lahan ketika panen atau dengan cara memangkas atau dengan cara membakar sisa-sisa panen. Itulah sebabnya mengapa kemudian tanah-tanah pertanian biasanya jadi miskin dengan prekursor ini.
Benang merahnya, sekarang kita bisa mengidenfikasi bagaimana caranya agar keadaan tanah memenuhi persyaratan agar dapat memproduksi etilen, yaitu (1) pertama-tama harus ada kegiatan mikrobial aerobik yang intensif, setidak-tidaknya pada bagian perakaran, untuk mamastikan terbentuknya suatu bentuk mikrositus anaerobik yang tidak ada zat-asamnya; (2) keadaan pada bagian mikrositus haruslah cukup tereduksi [kekurangan zat-asam] agar dapat memobilisir oksida besi yang akan memicu produksi etilen; (3) konsentrasi nitrogen-nitrat dalam tanah harus dijaga agar hanya sejumlah sedikit, agar kandung zat besi ferrous dapat diangkut; (4) harus terdapat suatu cadangan prekursor etilene yang jumlah yang memadai.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
6/10/2009
1 komentar
Kategori gerakan-sosial, pertanian, pertanian alami
2009-06-05
Produksi etilen di dalam tanah (1)
Penelitian kami memperlihatkan bahwa etilen (ethylene), suatu senyawa sederhana berbentuk gas, dihasilkan di 'daerah' mikrositus anaerobik tersebut. Lebih dari itu, etilen ini berfungsi mengatur kegiatan mikro-organisme tanah, dan sedemikian rupa mempengaruhi rasio kecepatan pembusukan bahan-bahan organik, daur nutrisi tanaman dan timbulnya penyakit tanaman. Konsentrasi etilen dalam atmosfer tanah jarang dapat mencapai satu sampai dua bagian per satu juta satuan. Etilen tidak bertindak dengan cara membunuh mikroorganisme tanah, tetapi dengan cara menidakaktifkannya secara sementara – ketika konsentrasi etilen menurun dalam satuan gelungnya. Mikroba-mikroba kemudian mulai aktif bergiat.
Etilen tanah dihasilkan dalam bentuk yang kita sebut sebagai “SIKLUS ZAT ASAM DAN ETILEN' (oxigen-ethylene cycle). Pada awalnya, mikroorganisme tanah menjadi banyak dalam bentuk zat-zat yang dikeluarkan dari akar-akar tanaman dan kegiatan itu mengakibatkan berkurangnya kandungan zat asam dari dalam tanah pada bagian-bagian mikrositus. Etilen kemudian diproduksikan dalam mikrositus-mikrositus itu dan dikeluarkan, sambil menonaktifkan kegiatan tanpa membunuh mikroorganisme tanah. Ketika semua ini terjadi keperluan zat asam berkurang sehingga zat asam itu dihembuskan kembali ke bagian mikrositus. Hal ini menghentikan atau sangat menurunkan produksi etilen, yang memampukan mikroorganisme tanah memulai kegiatannya. Adalah sangat baik dan bermanfaat bagi tanaman jika produksi etilen ini dipastikan terjadi sehingga perlu ditemukan cara-cara agar siklus ini bisa terulang secara terus-menerus.
Dalam keadaan tanah yang tak terganggu —seperti karena pembajakan— selayaknya yang terjadi di tengah hutan dan di kawasan padang rumput, etilen dapat secara terus-menerus dideteksi keberadaannya di dalam atmosfer tanah. Ini adalah suatu tanda bahwa perputaran zatasam-etilen terus terjadi secara efisien. Sebaliknya, pada kebanyakan tanah pertanian, konsentrasi etilen sangat sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. 'Perputaran zatasam-etilen' ini hanya dapat berlangsung jika etilen memainkan peranan penting dalam mengatur kegiatan mikroba di dalam tanah. Sudah sangat kita fahami dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di dalam suatu ekosistem yang tak terganggu di mana terjadi suatu proses pembusukan secara seimbang dan lambat, daur nutrisi tanaman yang efisien dan penyakit tanaman yang ada di dalam tanah menjadi tidak penting sama sekali untuk diperhatikan. Ketika ekosistem ini terganggu karena penggunaan hutan untuk pertanian, situasinya jadi sangat berubah. Terjadi suatu kemerosotan yang mencemaskan dalam jumlah bahan-bahan organik tanah, sehingga keadaan kurang pangan pada tanaman menjadi sangat biasa dan penyakit tanaman meningkat drastis. Kita kemudian mencoba mengatasi masalah-masalah ini dengan menambahkan pupuk-pupuk tak-organik dan penggunaan pestisida kimiawi, yang ternyata jadi sangat menaikkan biaya produksi. Bukankah pada umumnya yang terjadi dalam kenyataan adalah bahwa semakin lama kita membudayakan tanah, akan semakin banyak input yang diperlukan untuk mempertahankan hasil panen.
Kami berpendapat bahwa keadaan ini dapat dibalik atau dikembalikan ke keadaan semula, setidaknya sebagian, jika kita dapat menciptakan keadaan yang sesuai dan diperlukan untuk memproduksi etilen di dalam bentuk keadaan tanah yang tak terganggu. Kita sekarang tahu bahwa salah satu sebab utama mengapa tanah-tanah pertanian yang terus diganggu atau dibajak itu gagal memproduksi etilen adalah karena teknik-teknik yang kita kembangkan ternyata menimbulkan perubahan bentuk nitrogen di dalam tanah. Di dalam tanah-tanah yang tak diganggu, seperti di bawah hutan atau padang rumput, pada umumnya semua nitrogen yang ada berada dalam bentuk ammonium ditambah sedikit unsur mikro nitrogen-nitrat. Jika ekosistem ini diganggu karena kepentingan pertanian, pada akhirnya nitrogen tanah tampil dalam bentuk nitrat. Perubahan ini terjadi karena gangguan yang terkait dengan operasi pertanian itu merangsang kegiatan suatu kelompok tertentu dari bakteri yang mengubah nitrogen ammonium menjadi nitrogen-nitrat. Tanaman dan mikro-organisme dapat menggunakan kedua bentuk nitrogen itu, tetapi penelitian kami jelas membuktikan bahwa produksi etilen di dalam tanah jadi terhambat ketika jumlah bentuk nitrat itu melebihi suatu jumlah satuan mikro (trace amount). Nitrogen ammonium tidak memiliki suatu efek menghambat terhadap produksi etilen.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
6/05/2009
0
komentar
Kategori gerakan-sosial, pertanian, pertanian alami
2009-06-03
Interaksi mikroba dalam tanah dan pertumbuhan tanaman yang sehat
Oleh Robyn Francis
Pendiri dari Djanbung Garden Permaculture Education
Interaksi mikroba dalam tanah memegang peranan kunci dalam mengendalikan penyakit tanaman secara biologis, pembusukan bahan-bahan organik, dan daur bahan-bahan makanan pokok untuk tanaman. Jika kita memahami mekanisme ini dengan baik, maka kita dapat menemukan suatu metode yang lebih efisien untuk menanam tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman kebun.
Tetapi, sebelum kita membahas interaksi ini, pentinglah kita tegaskan kedudukan khas dari tanaman dalam ekosistem mana pun. Tanaman adalah satu-satu organisme hidup yang mampu secara langsung menggunakan tenaga matahari dan dalam proses ini tanaman mengubah tenaga matahari itu menjadi bentuk-bentuk (tenaga) lain yang bermanfaat untuk makhluk-makhluk hidup. Pigmen hijau atau klorofil yang terdapat pada daun tanaman menangkap tenaga cahaya matahari dan kemudian terjadi suatu interaksi di dalam daun dengan bantuan gas karbon dioksida yang terdapat dalam atmosfer yang menghasilkan senyawa-senyawa karbon yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk hidup yang lain, termasuk manusia, binatang, serangga dan jutaan mikro-organisme ketika makhluk-makhluk itu memakan tanaman atau sisa-sisa tanaman.
Meskipun tanaman memiliki kemampuan khas menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi yang diperlukan untuk tumbuh, untuk bermetabolisme dan menghasilkan bunga serta buah, tanaman juga memerlukan materi-materi lain yang tidak dapat dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Misalnya, tanaman memerlukan berbagai anasir, termasuk nitrogen, fosfor, belerang, kalsium, magnesium, potassium dan anasir mikro lainnya. Tanah adalah ‘tempat penampungan’ dari semua anasir itu, tetapi untuk mendapatkan pasokan yang memadai, tanaman harus mengubah lingkungannya di sekitar perakarannya agar dapat memobilisirnya. Cara yang paling penting yang dilakukan oleh tanaman untuk mencapai kemampuannya ini adalah dengan merangsang kegiatan mikroorganisme di dalam tanah yang berada di sekitar akar-akar dan kemudian mikroba-mikroba itu meningkatkan pengangkutan sari-sari makanan. Tanaman merangsang kegiatan mikroba dalam tanah dengan memberikan tenaga kimiawi dalam bentuk cairan akar dan kotoran-kotoran yang dikeluarkan dari perakaran. Sayangnya, dalam banyak metode konvensional yang diterapkan dalam pertanian, hubungan-hubungan ini dirusak sehingga timbul masalah tak lancarnya pengangkutan sari-sari makanan ke dalam tubuh tanaman dan menimbulkan penyakit tanaman.
Penelitian muta’akhir menunjukkan bahwa selama suatu tanaman hidup dan berkembang sebanyak 25 persen tenaga kimia yang dihasilkan dari daun-daun dalam bentuk senyawa-senyawa karbon ternyata hilang masuk ke dalam tanah di sekitar perakaran. Materi ini hilang entah dalam bentuk cairan akar atau sel-sel tanaman yang layu lalu mati. Tanaman telah bersusah payah menangkap tenaga matahari dan mengubahnya menjadi tenaga kimiawi, tetapi kemudian seperempat tenaga itu hilang ke dalam tanah! Apakah bukan suatu kesia-siaan? Bagaimana memahami hal semacam ini? Salah satu pandangan menyatakan bahwa tak ada di dalam alam ini suatu ciptaan yang sepenuhnya sempurna, karenanya dapat dikatakan bahwa akar-akar tanaman itu bocor dan kebocoran itu tak terelakkan. Saya tak setuju dengan pemahaman ini. Sebab, jika suatu sistem makhluk hidup itu ternyata ‘bocor’ sampai memboroskan seperempat tenaga yang dihasilkan, maka masalahnya tentu terletak pada tingkat bagaimana tenaga itu dihasilkan atau diproduksikan. Tentunya ada suatu hal yang salah pada tingkat produksi. Padahal yang sesungguhnya terjadi tidaklah demikian. Konsekuensinya, tak dapat dikatakan lain bahwa tenaga (yang hilang) itu mestinya (telah) dimanfaatkan secara langsung oleh makhluk-makhluk lain yang ada di sekitar perakaran, yaitu mikroorganisme. Jika tidak, mestinya evolusi sudah akan menghasilkan suatu seleksi tanaman menuju ke jenis-jenis tanaman yang lebih mampu bertahan dalam keadaan kekurangan tenaga.
Bagaimana masalah hilangnya tenaga kimiawi tanaman ini dapat difahami? Bagaimana tanaman ternyata masih dapat mendapatkan manfaat dari situasi kehilangan tenaga ini? Yang paling penting dipegang di sini adalah bahwa senyawa-senyawa itu menjadi sumber energi bagi mikroorganisme yang banyak terdapat di sekitar daerah perakaran (rhizosphere). Mikroorganisme ini berkembang biak secara cepat sehingga menghabiskan banyak zat asam di dalam tanah dalam ukuran yang sangat banyak yang berada di sekitar rhizosphere. Di situ terbentuklah suatu mikro-situs anaerobik yang tak lagi mengandung zat asam. Terbentuknya mikrositus anaerobik ini memegang peranan penting sehingga tanaman dapat menjadi sehat dan kuat.
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
6/03/2009
0
komentar
Kategori gerakan-sosial, pertanian, pertanian alami
2009-06-01
Pendapat Pakar Tanah Alan Smith
Teman-teman, sebelum sajian tulisan dari Robyn Francis tentang "Tanah yang Hidup", Jurnal Permakultur Internasional mengetengahkan pendapat quot unquot dari ilmuwan tanah bernama Alan Smith dari Universitas New South Wales, Australia. Ia menjabat sebagai ilmuwan peneliti utama di Fakultas Pertanian di univesitas tersebut.
Smith berangkat dari pertanyaan seseorang yang tak mengerti mengapa lahan pertanian tak perlu dibajak supaya tanaman jadi subur. Praktik tak membajak itu sendiri telah dilakukan oleh petani-peneliti lain sebelumnya seperti Fukuoka-san dari Jepang yang tersohor itu. Tapi Fukuoka-san kurang menjelaskannya dengan gamblang dari sisi ilmu tanah, sehingga masih banyak orang yang mempertanyakan, bagaimana mempertanggungjawabkan praktik tak membajak lahan tersebut ..
Saya mengerti mengapa Anda bingung ketika mencoba menafsirkan pendapat dan sanggahan terhadap pertanyaan ‘perlukah tanah di atas lahan setiap kali dibalik, dicangkul, atau dibajak agar udara masuk ke dalamnya.’ Saya bukanlah orang yang percaya pada pentingnya pengudaraan pada tanah, setidaknya untuk keadaan di Australia. Ada satu hal yang harus kita khawatirkan, yaitu apa yang biasanya kita lakukan pada permulaan sebelum menanam, seperti membalik, membajak tanah, memberi pupuk, dsb. yang memang memberikan apa yang kita inginkan sehingga tanaman tampak tumbuh tapi sesungguhnya perlakuan ini membawa berbagai masalah dalam jangka panjang. Selama ini kita percaya bahwa tanah perlu dibalik dan dibajak dan berbagai perlakuan lain untuk memberikan oksigen pada tanah tersebut.
Memang tak diragukan bahwa membajak tanah memberikan dampak pengudaraan pada tanah tersebut dan menghasilkan adanya kontak langsung antara tanah yang bermineral itu dengan berbagai residu organik yang terkandung di dalamnya. Perlakuan ini merangsang kegiatan mikroba dan nutrisi tanah yang selama itu tertahan di dalam kandungan organik kemudian dengan cepat dibebaskan dari dalam cengkeraman tanah. Namun, jika tanaman tidak segera ditanam di tanah itu dan karenanya bisa segera menyerap sari-sari nutrisi yang terbongkar, sari-sari nutrisi itu akan segera terlarut menyerupai lindi yang tak bisa lagi diserap oleh tanaman. Ketika dan setelah memberikan udara pada tanah tentunya dan biasanya membuat tanaman-tanaman yang ada pada tanah itu terbongkar, terbalik, terbenam, sehingga tidak ada lagi tanaman-tanaman. Padahal justru persis saat itulah sesungguhnya nutrisi itu selayaknya diserap oleh tanaman. Nutrisi itu tersia-siakan.
Jika praktik ini terjadi dari satu musim ke musim yang lain secara terus-menerus, maka jelaslah ada yang sesungguhnya terjadi: hilangnya dan tersia-siakannya nutrisi tanah untuk tanaman. ‘Teori pengudaraan tanah’ ini sungguh-sungguh terjadi dan berkembang di belahan bumi bagian utara. Di sana musim dingin yang panjang tak memungkinkan terjadinya pembusukan residu-residu organik di dalam tanah. Selama musim semi memang dapat diperoleh manfaat dengan merangsang rasio proses pembusukan sehingga tanaman dapat memperolah nutrisi selama masa pertumbuhan yang relatif sangat singkat. Di Australia, keadaannya pada umumnya mendukung apa yang dibutuhkan tanaman selama musim dingin setidaknya untuk proses pembusukan bahan organik. Jadi, keadaan kami memang berbeda. Perlu pula dipertimbangkan apa masalah-masalah yang muncul ketika ‘pengudaraan’ itu dilakukan di lahan-lahan di daerah tropis, di mana keadaan cuaca jauh lebih mendukung proses pembusukan bahan organik. Ya, kita semua menyadari bahwa keadaan-keadaan semacam mendukung timbulnya bencana.
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
6/01/2009
2
komentar
Kategori guru, pertanian, pertanian alami
2009-05-31
Ijin dari Robyn Francis
Thanks for contacting me about the article. Yes, i am happy to give permission for publishing this on your blog. I only request that my website www.permaculture.com.au be noted along with my name in the credits.
All the best
regards
Robyn Francis
Begitulah, teman-teman, surat yang kami terima baru-baru ini dari Robyn Francis, si pegiat dan pakar pertanian-tetap atau permakultur kepada kita semua pada pembaca blog ini. Perempuan hebat ini memberikan ijin kepada kita untuk menerbitkan saduran tulisannya yang banyak dikenal orang di seluruh dunia itu, bertajuk "The Living Soil", tentang mengapa lahan pertanian sesungguhnya mampu menyuburkan dirinya sendiri, sehingga berkurang kepentingan kita untuk membajak, membalik lahan.
Gambar dirinya di atas kami ambil dari fukuokafarmingol.info. Link ini juga memuat tulisan Robyn dalam bentuk aslinya dalam bahasa Inggris. Selamat membaca.
Tulisan itu dalam versi saduran Indonesia sebentar lagi akan kita unggah di blog ini. Tunggu sedikit lagi ya ..
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
5/31/2009
0
komentar
Kategori guru, pertanian, pertanian alami
2009-05-27
Good evening, dear friends
By ANUNG
at Tengaran subdistrict, Semarang district
Good evening, dear friends, particularly to this blog’s readers and thanks to the administrator of the sekolahpetani.blogspot.com for reporting our activity.
Since five years ago I have been busy with collecting books, articles, etc. that relate to agricultural potentials. I found then great potentials in the commodity of organic rice. My interest increased to the peak when lack of synthetic fertilizers took place last year of 2008. A reliable information source says that average productivity of rice yield nationally only reaches as low as 4.7 tons per hectare.
I was also informed at the event of the third year of the national rice week in Sukamandi of W. Java in July 2008 about farming technique that helps improve rice productivity. There was introduced the system of rice intensification, apart from “IPAT-BO” (the intensification of aerobic-controlled organic rice cultivation) or other modes of intensification that render yield potential over 10 tons per hectare.
Upon returning from the event, we were stronger motivated to cultivate rice, apart from further emphasis that we were told about the promise of better quality of the rice. Our team agreed to try in Cikampek, Karawang and Subang, along the northern coast of W. Java. Meanwhile I myself organized teamwork in Banten.
Charged with conviction, I offered organic fertilizers to a couple of friends, named Fauzi and Mansyur. We were very convinced that rice plants would be better grown as compared to habits of local growers.
Here are some notes about the yield. In Cikampek, they grow IR64 variety with tillers reaching 120, resulting in 15 tons per hectare. In Subang, they grow gogo rice, i.e. rice variety usually grown in arid areas, resulting in 30 tillers. It happens that the rice plants endure drought about two weeks because they was no rain. However, after rain falls they only spray it with organic (liquid) fertilizers. In Karawang, the amount of rice seeds reaches 243 per panicle, much higher as compared to neighboring paddy that comes up with 127 seeds per panicle. The total yield is 8 tons per hectare.
In Serang district of Banten province, our trial shows a karung bag weighs up to 80 kg, compared to previous weight of 50 kg per bag. We manage to cook and try it. The rice is smooth and mellow. In the suburb of Cilegon town of Banten, rice paddy was prevented from birds’ attacks that savor rice seeds because the panicles are so drooping down for the seed weight. The fleet then attack neighboring paddy. The grower’s name was Tasbani who now already moves back to his home village in Indramayu for his success in Cilegon. In South Banten, petai trees yield much better that they are now paid at three million rupiah (USD 290) per tree as compared to earlier half million rupiah (USD 48) per tree because they apply organic fertilizer.
Those are some stories that we indeed are capable of improving quality and quantity of the yield, yet in small scale though. I do thank to my friend in Yogyakarta who helps us make the organic fertilizers that we do no longer need any synthetic ones. We are convinced that using any organic fertilizers would help us to have better rice yields.
May there be more growers who are willing to apply organic fertilizers on their farms. Let’s support the people who produce their own fertilizers that their yield be improved and spread all over agricultural lands of the country. The more organic farms, the bigger opportunities for the country to supply organic foods as part of organic commodities export opportunities. In the future we would have healthy foods that render our generation brighter facing harder challenges ahead.
Warm greeting of going organic 2010
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
5/27/2009
0
komentar
Kategori gerakan-sosial, gotong-royong, in English, pertanian, pertanian organik
2009-05-26
Perlukah kita membajak sawah?
Apakah bukan suatu hal yang mengejutkan bahwa sekarang perlu dipertanyakan, mengapa sawah perlu dibajak, dibalik tanahnya, lalu perlu diratakan terlebih dahulu, sebelum ditanami bibit padi? Bukankah semua ini sudah selalu menjadi kebiasaan para petani di mana pun, tak terkecuali di negeri kita Indonesia? Nyaris sudah merupakan suatu kemestian bahwa petani perlu membajak sawahnya terlebih dahulu sebelum menanam padi. Apa jadinya jika sawah tak dibajak?
Tapi itulah yang terjadi dan lama telah dicoba dan dipraktikkan. Barangkali bukan terutama oleh para petani, tapi orang-orang yang terus mencari kedalaman pemahaman hubungan dirinya dengan alam, seperti Masanobu Fukuoka yang kemudian mewariskan hasil pergulatannya kepada banyak sekali pengagum dan penentangnya.
Fukuoka-san jelas-jelas menegaskan bahwa untuk menerapkan pertanian alami, tanah atau lahan nyaris dilarangnya untuk dibajak. Jika dibajak, lahan justru akan sangat terganggu, katanya. Tapi, apa sesungguhnya dasar-dasarnya? Apa alasannya? Mengapa lahan tak perlu dibajak atau bahkan ‘didhangir’ jika kita pinjam istilah bahasa Jawa?
Dalam posting berikut dapat teman-teman baca tulisan dari Robyn Francis berjudul 'Tanah yang Hidup'. Ia berusaha menjelaskan pengandaian yang ada di belakang pergulatan Fukuoka-san, yaitu bahwa tanah memiliki kapasitas untuk menyuburkan dirinya sendiri. Tapi, apa syaratnya? Inilah yang kiranya dijelaskan oleh Robyn, seorang pegiat pertanian permanen atau dalam istilah kita sementara ini barangkali dapat kita pinjam kata Sunda ‘tetanèn’.
Francis berasal dari Australia. Ia bekerja sebagai perintis, pegiat, perancang, pendidik dan presenter untuk konsep dan praktik permakultur-tetanèn. Ia juga menjadi tutor utama pada Erda Institute, sebuah lembaga yang bekerja untuk memajukan pertanian-permanen itu. Ia telah bekerja selama 25 tahun di lembaga itu dalam mengembangkan permakultur-tetanèn di berbagai negara termasuk Indonesia. Tahun 1987 Robyn mendirikan Permaculture International Ltd (PIL) dan merancang serta membangun Kebun Djanbung sebagai sebuah pusat pengembangan yang terkemuka dalam permakultur-tetanèn. Di negerinya pusat ini juga diakui menjadi lembaga acuan nasional karena telah mengembangkan pelatihan-pelatihan permakultur-tetanèn dengan akreditasi bertaraf internasional.
Tunggu segera saja saat unggahnya ya ..
Links
Erda Institute
Djanbung Garden
Permaculture International Ltd
2009-02-14
Mengenang Masanobu Fukuoka (12)
PLOWBOY: Tetapi bukankah terdapat banyak jenis semak semanggi yang dapat digunakan? Bukankah begitu?
FUKUOKA: Nah, ya kan? Itulah hal yang persis saya maksudkan. Akal budimu mulai bicara! Jangan banyak bertanya. Jika saya usulkan “semanggi putih”, gunakahlah semanggi putih itu. Jika saya usulkan ‘semanggi merah’, maka gunakan ‘semanggi merah’. Selama bertahun-tahun saya telah mencoba menerapkan semak-semak seperti vetch, alfalfa, lupine, trefoil dan berbagai jenis semanggi ... dan akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa untuk mendukung rotasi penanaman tanpa mengolah tanah untuk tanaman-tanaman bulir-buliran dan sayuran, dikombinasikan berbagai tanaman tutupan tanah di kebun, semanggi putih adalah yang tanaman yang terbaik.
![]() |
| Alfalfa, sebagai salah satu anggota keluarga legum, banyak kita temukan 'saudara-saudara'-nya di Indonesia. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
![]() |
| Semak 'vetch'. Kenalkah Anda pada jenis tanaman ini? Apa jenis tanaman yang sekeluarga dengan vetch ini yang dapat kita temukan di Indonesia? Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
Temuan-temuan saya ini telah diverifikasikan oleh para peneliti lain juga. Ketika saya mengunjungi Pusat Penelitian dari Kebun Organik Rodale di Pennsylvania belum lama ini, orang-orang di sana memperlihatkan pada saya percobaan-percobaan yang telah mereka lakukan selama beberapa tahun dalam merotasikan berbagai tanaman bulir-buliran dan tanaman pangan lain diselingi oleh rerumputan semanggi putih dan tanaman-tanaman tutupan tanah yang lain. Dan lahan yang paling berhasil adalah yang ditanami dengan semanggi putih!
PLOWBOY: Di negara-negara bagian Amerika Serikat yang berada di belahan barat laut terdapat suatu jaringan petani dan pekebun organik yang disebut Tilth. Mereka telah memulai suatu pengembangan proyek semanggi. Anggota-anggota mereka yang beada di Oregon, Washington, Idaho, dan British Columbia menanam berbagai jenis semanggi di ladang-ladang jelai dan jagung, kebun apel, dan ladang sayuran .. semuanya akan mengambil manfaat dari pengalaman mereka dengan semanggi. Apakah Anda mengira bahwa percobaan seperti itu berguna?
![]() |
| Semak liar berbunga 'trefoil'. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
![]() |
| Azolla microphylla. We call it locally as 'ganggang'. Source:Pertanian Alami - Natural Farming |
FUKUOKA: Ya, tentu, itu bagus ... tetapi sebenarnya hasilnya sudah ada dan siap pakai, sudah ada di hadapan kita! Saya telah melakukan percobaan seperti itu 25 tahun yang lalu, dan sekarang orang bisa mengambil manfaat dari pengalaman saya, cukup jika mereka mau melihat hasilnya. Mereka bisa menghemat banyak waktu dan tenaga, cukup hanya dengan mengambil jalan singkat, yaitu percaya (pada temuan saya.)
PLOWBOY: Sementara orang melihat adanya kandungan keruhanian, atau mendekati mistik dari teori Anda tentang pertanian. Apakah Anda merasa bahwa Anda menerima suatu pencerahan dan petunjuk dari sumber kekuatan ilahi?
FUKUOKA: Meskipun pertanian alami —sejak pertanian ini dapat mengajarkan masyarakat untuk mendalami pemahaman yang mendalam tentang alam— bisa membawa orang menemukan pencerahan ruhani, pertanian ini bukanlah spesifik praktik keruhanian. Pertanian alami bagaimana pun hanyalah kegiatan bertani, tidak lebih. Tak ada prasyarat bahwa Anda haruslah seseorang yang memiliki orientasi keruhanian sebelum mempraktikkan metode saya ini. Siapa saja yang memahami konsep ini dengan pikiran yang jelas dan terbuka akan dapat segera memulainya dengan baik. Kenyataannya, orang yang paling cepat dapat melakukan pertanian alami ini adalah orang yang tidak memiliki hambatan pikiran yang biasanya diidap oleh orang-orang dewasa karena telah memegang hasrat, kepercayaan filsafat tertentu, atau agama .. mereka adalah orang-orang yang memiliki pikiran dan hati seperti anak kecil. Orang cukup memahami apa itu alam .. alam yang sesungguhnya, dan bukan alam yang kita percayai bahwa kita ketahui!
![]() |
| Salah satu jenis semak lupine. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
PLOWBOY: Dapatkah Anda menjelaskan lebih spesifik tentang sikap apa yang diperlukan (untuk bertani secara alami)?
FUKUOKA: Banyak orang beranggapan bahwa, ketika kita bertani, alam dengan sendirinya membantu usaha-usaha kita untuk menghasilkan makanan. Cara berpikir ini sepenuhnya terlalu bersudut pandang memusatkan pada kepentingan manusia .. Sebaliknya, kita seharusnya menyadari bahwa kita menerima apa yang kita makan itu sebagai hasil dari apa yang diputuskan oleh alam untuk kita. Seorang petani tidaklah menumbuhkan sesuatu dalam pengertian bahwa dia menciptakannya atas kekuatannya sendiri. Semua hal yang sifatnya manusiawi hanyalah sebagian kecil dari seluruh proses bagaimana alam itu menyatakan dirinya. Petani hanyalah menyumbangkan sedikit pengaruh terhadap proses itu ... lebih daripada sekedar dia berada di sana dan memberikan bagian kecil sumbangannya itu.
Acuan
Rodale Institute
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/14/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-13
Mengenang Masanobu Fukuoka (11)
![]() |
| "Rumput" Semanggi. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
PLOWBOY: Jadi Anda berpendapat bahwa mungkin nanti suatu ketika pertanian alami diterapkan di Amerika Utara?
FUKUOKA: Tentu, tentu! Jika Anda berbicara tentang alam, tak penting apakah Anda mengacu ke Amerika Utara atau Afrika atau Indonesia atau Cina .. Alam bagaimana pun tetap alam. Pada kenyataannya pertanian industrial modern sekarang sedang diterapkan nyaris di mana-mana di seluruh dunia. Begitulah juga pertanian alami dapat diterapkan nyaris di mana-mana.
Saya hanyalah seorang petani desa yang sudah mengunjungi bagian lain dari dunia yang sama ini. Dengan penelitian saya tentang sebatang jerami itu, saya telah sampai pada suatu kesimpulan penting tentang bagaimana masyarakat dapat berelasi dengan alam dan hidup dengan alam secara harmonis ... di mana pun mereka berada.
FUKUOKA: Benar bahwa setiap tempat agak berbeda dari yang lain. Di sini, di Massachusetts kita berada sangat jauh dari Lautan Teduh dan bahkan lebih jauh dari rumah saya di pulau Shikoku ... sehingga seakan-akan pengalaman dan pengetahuan yang telah saya kumpulkan tidak akan dapat diterapkan di sini. Tetapi, penelitian yang saya lakukan di lahan saya yang kecil itu pada akhirnya membawa saya pada suatu metode praktis dan teruji untuk rotasi tanaman pangan. Jadi saya menganjurkan untuk para pemula untuk mulai menerapkan teknik yang telah saya kembangkan, tak peduli mereka ada di mana ... bahkan di sini di belahan pantai Atlantik.
![]() |
| White Clover. Source:Pertanian Alami - Natural Farming |
Seseorang yang melakukannya mungkin akan menemui beberapa masalah pada tahun pertama, dan hasilnya mungkin tak akan sama dengan yang saya dapatkan. Tetapi nanti akan jelas untuknya mengapa hal-hal tertentu tak dapat berfungsi. Itu bisa disebabkan karena barangkali tanaman tertentu ditanam terlalu terlambat, atau mungkin karena menanam varietas yang salah untuk iklim dan lahan jenis tertentu. Pada tahun kedua setelah memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip saya, dia akan mengerti dengan jelas apa yang perlu dilakukan terhadap lahannya. Saya mengatakan kepada orang yang memulai pertanian alami untuk belajar dari telaah dan penelitian saya dan menggunakannya seperti apa adanya ... Inilah cara yang paling baik untuk mulai. Jika Anda tiba-tiba mulai menerapkan cara-cara Anda sendiri dan mulai mencari-cari ciri-ciri “alam” yang sesungguhnya untuk daerah Anda, akan dibutuhkan 20 atau 30 tahun, seperti yang telah terjadi dengan diri saya di Jepang. Sebaliknya, langkah pertama untuk mencoba pertanian alami adalah membuang faham-faham Anda sendiri ... kemudian Anda dapat belajar sambil langsung melakukannya!
PLOWBOY: Apakah Anda sedang menganjurkan kami untuk membuang semua penalaran logis?
FUKUOKA: Ya!
PLOWBOY: Tapi Fukuoka-san, bukankah Anda sendiri melakukan banyak sekali percobaan dan penelitian dalam proses mengembangkan konsep pertanian alami? Anda menggunakan akal budi ... tapi sekarang Anda mengatakan pada kami untuk membuang semua pengetahuan kami?
FUKUOKA: Persis! Buanglah gagasan-gagasan Anda sendiri itu untuk sementara waktu dan biarkan hasil dari penelitian saya menjadi benih dari gagasan-gagasan baru dan cara-cara berpikir baru. Banyak orang mungkin tergoda untuk berpendapat, “Hmm .. iklim yang ada di tempat saya sangat berbeda dari iklim di daerahnya. Maka sebagai ganti semak semanggi putih, saya akan mencoba yang ini sebagai tanaman tutupan tanah.” Penalaran ini dapat jadi membuat Anda keluar dari jalur fokus dan akan menjerumuskan Anda masuk ke jalan-jalan gelap! Semak semanggi diperlukan untuk membuat supaya gulma-gulma mulai tumbuh lagi dan memenuhi lahan.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/13/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-12
Mengenang Masanobu Fukuoka (10)
FUKUOKA : Saya sungguh-sungguh tersentak melihat keadaan buruk California. Sejak Spanyol membuka pemeliharaan sapi dan domba, bersamaan dengan padang rumput tahunan seperti foxtail dan wild oats (lihat gambar/foto), rumput-rumput asli dibinasakan semuanya. Tambahan pula, air tanah sudah terlalu banyak disedot untuk pertanian, dan bendungan-bendungan besar serta proyek-proyek irigasi telah memotong sirkulasi alamiah dari air di lapisan permukaan tanah. Hutan-hutan telah banyak sekali ditebang dan secara serampangan. Hal ini menyebabkan erosi tanah dan kerusakan-kerusakan aliran sungai dan populasi ikan. Akibat dari semua ini, tanah-tanah menjadi semakin kering. Ini sangat menyedihkan ... semuanya karena campur tangan manusia, padang gurun sedang terus meluas di seluruh negara bagian. Dan .. tak akan ada orang yang mengaku salah.
![]() |
| Rumput foxtail. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
![]() |
| Rumput wild oats. Sumber:Pertanian Alami - Natural Farming |
PLOWBOY : Apakah Anda berpendapat, jika teknik pertanian alami diterapkan dapat mengubah proses-proses yang selama ini terjadi dan membuat California menjadi hijau lagi?
FUKUOKA : Ya, akan dibutuhkan waktu beberapa tahun sampai masyarakat bisa belajar bagaimana menyesuaikan dan membiasakan diri dengan rotasi gulma atau tanaman-tanaman tutupan tanah, tetapi saya kira tanah akan cepat terpulihkan jika para petani sungguh-sungguh mencoba melakukannya. Dan seandainya itu dilakukan, California dapat benar-benar menjadi suatu wilayah yang sungguh-sungguh alamiah dan sangat menarik .. di mana kegiatan bertani akan menjadi kegiatan yang menggembirakan, seperti semestinya. Tetapi jika pertanian modern terus berlanjut seperti sekarang ini, maka selesailah sudah. Situasi pertanian tanaman pangan mungkin tampak bagus di permukaan seperti sekarang, tetapi itu hanya suatu ilusi yang didasarkan pada ketersediaan bahan bakar minyak bumi. Semua jenis gandum, jagung, dan tanaman-tanaman pangan lain yang sekarang ditanam di unit-unit perusahaan pertanian besar di Amerika mungkin memang bisa hidup dan bertumbuh, tapi semua itu bukan produk dari alam yang sesungguhnya atau pertanian yang sebenarnya. Semuanya direkayasa daripada ditumbuhkan. Bumi tidaklah menghasilkan barang-barang seperti itu ... tapi dihasilkan oleh minyak bumi!
PLOWBOY : Bukankah Anda mengatakan bahwa kekurangan minyak bumi adalah suatu perkembangan yang sifatnya positif?
FUKUOKA : Tentu saja. Saya yakin bahwa semakin cepat persediaan minyak bumi kita mengering, itu akan lebih baik. Sebab kemudian kita tak akan punya pilihan lain daripada pulang kepada pertanian alami!
PLOWBOY : Tetapi bukankah pertanian “agribiz” itu sekarang sudah meliputi ratusan atau bahkan ribuan akre luasan wilayah yang telah dibudidayakan? Bagaimana mungkin orang bisa mengubahnya menjadi pertanian alami?
FUKUOKA : Pertama-tama, tak boleh ada perluasan yang besar-besaran. Tapi sayangnya, dalam sistem pertanian modern Amerika, [yang terjadi adalah] hanya sedikit orang saja yang memproduksi makanan untuk berjuta-juta manusia yang tinggal di kota. Di Jepang, luasan rata-rata pemilikan ladang lebih sempit daripada di Amerika Serikat ... tetapi panen per akre jauh lebih besar. Saya bisa melakukan seluruh pekerjaan di lahan-lahan saya dengan peralatan tangan, tanpa mesin-mesin berkekuatan jenis apa pun.
Tetapi saya menduga semua mega-pertanian di negara Anda akan membutuhkan suatu bentuk mekanisasi, setidaknya untuk keperluan memanen. Meskipun begitu, di masa depan karena semakin banyak orang bergerak kembali ke arah desa dan mulai menanam tanaman-tanaman pangan untuk diri sendiri di atas tanah yang kecil, akan kurang terjadi suatu ketergantungan pada mesin-mesin dan bahan bakar minyak bumi ... dan karenanya, teknik-teknik pertanian alami dapat mulai diterapkan.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/12/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, pertanian, pertanian alami
2009-02-10
Mengenang Masanobu Fukuoka (9)
Caption video: Fukuoka-san sedang membuat bola benih.
Tampaknya, pengakuan secara umum terhadap adanya bahaya dalam waktu yang panjang dari pertanian dengan bahan-bahan kimia telah mendorong munculnya minat baru terhadap metode pertanian alternatif. Banyak orang mengamati metode saya dan mulai berpendapat apa yang semula mereka pandang primitif dan terbelakang sekarang menjadi ilmu pengetahuan modern yang jauh sangat maju!
PLOWBOY : Anda menerapkan sautu cara menanam tanaman pangan yang hanya membutuhkan sedikit biaya dan tenaga kerja, yang tidak membutuhkan mesin-mesin berat, bahan bakar fosil, atau bahan-bahan kimia yang diproses ... tetapi toh mencapai hasil panen yang sebanding dengan mereka yang menerapkan metode-metode ilmiah “modern”. Ini seperti mimpi yang sungguh-sungguh terwujud. Pasti sudah ada banyak orang menerapkannya di mana-mana!
FUKUOKA : Tidak juga ... itu karena metode saya sungguh-sungguh tampak seperti sebuah mimpi bagi mereka. Pada kenyataannya, saya berpendapat pertanian alami ini sesungguhnya suatu konsep yang sangat menakutkan sebagian orang! Metode ini menuntut suatu sikap revolusioner. Tak sikap ini tak mungkin terjadi perubahan iklim masyarakat dan peradaban kita seumumnya.
PLOWBOY : Apa yang diperlukan, kalau begitu, untuk meyakinkan orang-orang semacam itu agar mereka mau mencobanya?
FUKUOKA: Akan sulit bagi para petani secara individual maupun di tingkat keluarga untuk memulai metode ini. Pertanian alami menuntut banyak pekerjaan pada masa awalnya —sampai lahan dikembalikan ke keseimbangannya. Dan Anda tidak akan dapat mengerjakannya sendiri kecuali Anda punya banyak waktu khusus untuk ini.
Perubahan dapat diselenggarakan dengan lebih mudah pada tingkat desa atau kota kecil, tetapi saya kira cara yang terbaik untuk memulai 'revolusi sebatang jerami' ini, begitulah saya menyebutnya, sesungguhnya pada skala yang besar ... melalui suatu jenis usaha bersama. Pemerintah, koperasi-koperasi pertanian, para petani dan para konsumen—itu artinya semua pihak— harus memutuskan bahwa inilah arah pertanian yang hendak kita terapkan. Tentu, jika kita tidak mendapatkan suatu kesepakatan, kemungkinan untuk mewujudkan perubahan yang berarti dalam metode pertanian jauh dari kenyataan.
Ada yang lebih penting lagi, yaitu kita harus mengubah pemahaman masyarakat tentang alam. Di Amerika, terutama, keadaan di halaman-halaman sudah sering menjadi tidak alami sama sekali. Misalnya lihatlah halaman universitas ini. Anda lihat ada taman yang indah, lembut dan enak dipandang mata, di sana-sini ditanam berbagai tanaman. Daun-daun itu sungguh-sungguh cantik, tetapi pohon-pohon dan rumput-rumput itu bukanlah asli dari lingkungan sini. Semua tanaman itu dibawa ke sini oleh manusia demi keuntungan manusia. Tamanan-tamanan asli sudah dikubur atau dibasmi ... dan, sebaliknya, semua rumput tak asli dan eksotik ini disuapi dengan makanan. Mengembalikan lanskap buatan ini ke aslinya akan bermanfaat bagi manusia dan semua bintang dan segala tanaman yang hidup di bumi. Tetapi, tidak semua orang menghargai pandangan ini ... Akan ada lalat, nyamuk dan serangga-serangga lain yang tidak disukai manusia, dan beberapa orang akan mengatakan, “Betapa tak enaknya. menjengkelkan!”
PLOWBOY: Beberapa minggu yang lalu Anda memulai perhelatan ke Amerika di California. Apakah Anda juga melihat ada “alam buatan” di sana?
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/10/2009
1 komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-09
Mengenang Masanobu Fukuoka (8)
![]() |
| Ketenangan hidup dekat dengan alam. Fukuoka dan bola benih di tangannya. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming |
Di masa depan, saya berharap lahan-lahan padi, jelai dan bulir-buliran itu akan terus menjadi lebih baik dan terus meningkat hasilnya. Bagaimana pun, saya toh menanam tanaman-tanaman pangan yang jenisnya sama dengan yang ditanam di desa, ya .. bahkan sama dengan yang ditanam di seluruh Jepang. Tetapi sebagai hasil dari mempraktikkan pertanian alami, sekarang saya telah “mengembangkan” beberapa varietas baru, hanya dengan cara membiarkan tanaman-tanaman itu bertumbuh di lahan. Dengan benih-benih varietas asli, saya kira ladang saya memiliki potensi untuk mencapai produktivitas paling tinggi di Jepang ... dan kemungkinan di dunia, sejak negara saya memimpin tingkat rata-rata produktivitas padi yang paling tinggi di seluruh planet! Jika pertanian alami diterapkan secara tetap, tak akan ada alasan mengapa kemampuan berproduksi dari setiap petak lahan tak dapat mencapai lebih tinggi daripada tingkat budidaya berbasis ‘bahan-bahan kimia” ... dan pada akhirnya —yang secara teoretis mungkin dicapai— akan mendekati capaian panen yang tertinggi, karena banyaknya jumlah energi matahari yang dapat ditampung oleh suatu lahan.
PLOWBOY : Saya mengandaikan bahwa —dengan angka capaian produksi yang sedemikian bagus— Anda telah dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan seluruh keluarga dengan bertani secara alamiah.
FUKUOKA : Saya belum mendapatkan banyak uang dari pertanian ini, tetapi karena biaya yang saya keluarkan begitu rendah sehingga saya tak pernah mungkin terperosok ke dalam bahaya jadi bangkrut. Ada satu hal, setelah saya mulai bertani secara alami, kemudian beredar kabar bahwa jeruk-jeruk dari kebun saya adalah yang paling besar dan paling manis di seluruh desa. Buah-buah itu menghasilkan pendapatan yang paling besar. Dan, setelah usaha pertanian saya meningkat dan tanah terpulihkan, berbagai hal menjadi lebih mudah bagi kami. Ya, saya telah mampu menyelenggarakan suatu kehidupan —meskipun sederhana— berdasar praktik pertanian alami.
PLOWBOY : Apakah pertanian ‘mainstream’ dengan kemapanan itu tertarik pada gagasan Anda?
FUKUOKA : Saya mengusulkan suatu perencanaan pertanian dengan cara pembenihan secara berkesinambungan antara bulir-buliran musim dingin dan padi di berbagai jurnal pertanian 25 tahun yang lalu. Sejak saat itu, metode itu sering muncul dalam media cetak, dan saya mengajukannya ke tengah-tengah masyarakat lewat program-program radio dan televisi ... tetapi tak seorang pun menaruh perhatian.
Selama sekitar 15 tahun terakhir, tampaknya sikap masyarakat terhadap pertanian alami telah mulai berubah. Para ilmuwan penelitian pertanian menilai tinggi teknik "tak mengolah tanah" (yang saya kembangkan). Mungkin Anda dapat juga mengatakan pertanian alami berkembang menjadi kontroversi! Para wartawan, profesor, petani, peneliti di bidang teknik, dan para mahasiswa berduyun-duyun datang mengunjungi ladang saya dan tinggal di gubuk saya di atas bukit.
Dengan menyelami gaya hidup alami dan memperlihatkan kebergunaannya .. saya merasa saya sedang memberikan pelayanan kepada kemanusiaan ... Tujuan akhir dari pertanian alami bukanlah meningkatkan hasil panen, tetapi budidaya dan penyempurnaan terhadap kemanusiaan.
PLOWBOY : Mengapa tiba-tiba muncul begitu banyak ketertarikan pada teknik bertani yang Anda kembangkan?
FUKUOKA : Saya kira itu karena banyak orang sudah berada sangat jauh dari kedekatan dengan alam. Semua di dunia modern ini telah menjadi begitu berisik dan terlalu rumit, dan orang ingin kembali ke kehidupan yang sederhana dan tenang ... semacam kehidupan yang saya hayati sebagai seorang petani biasa. Anda tahu kan, semakin jauh manusia terpisah dari alam, mereka semakin terlempar jauh dari pusat suatu realitas yang tak berubah dan tak bergerak. Pada saat yang sama dampak sentripetal mencuat, dan menimbulkan suatu hasrat untuk kembali ke alam —pusat yang sesungguhnya— dan itu terjadi pada saat manusia sedang menjauhinya. Saya yakin bahwa pertanian alami bersumber dari pusat kehidupan yang tak berubah, tak bergerak.
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/09/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-08
Mengenang Masanobu Fukuoka (7)
Untuk menanam sayuran, saya cukup sedikit membuka bagian lahan di mana terdapat gulma atau rumput-rumputan dan di situ saya meletakkan benih-benih. Tak perlu menutupnya dengan lapisan tanah .. Saya hanya mengembalikan rerumputan yang terpotong itu untuk menutupi benih sebagai mulsa alami. Biasanya rumput-rumput yang muncul lagi harus dipotong lagi dua atau tiga kali setelahnya untuk memberikan dorongan awal agar benih-benih itu mulai berkecambah, tetapi kadang-kadang hanya perlu satu kali saja. Sayuran yang ditanam dengan cara ini akan jadi lebih kuat daripada yang dianggap orang. Pada kenyataannya, hasil yang Anda peroleh meningkat jika ada berbagai rerumputan yang tumbuh dengan subur .. tetapi agar memang berhasil, Anda harus benar-benar kenal dengan siklus tahunan dari berbagai gulma dan rerumputan setempat, dan Anda harus mempelajari jenis-jenis sayuran yang paling cocok dengan mereka.
![]() |
| Padi yang ditanam secara alami tak sedikit jumlah anakannya. Malah bisa lebih banyak ketika tanah semakin dipulihkan kondisinya. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming |
![]() |
| Fukuoka dan padi yang tengah menguning. Dalam perkembangannya, hasil panen mencapai satu ton untuk 1.000 meter persegi, satu kilogram per satu meter persegi. Sepuluh benih per satu meter persegi. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming |
PLOWBOY : Apakah Anda pernah menemui suatu masalah yang sungguh-sungguh serius yang terkait dengan penyakit atau hama serangga setelah puluhan tahun mempraktikkan pertanian alami?
FUKUOKA : Sejak saya mengembalikan lahan itu ke kondisi alamiah, saya tak bisa mengatakan bahwa saya pernah mengalami suatu masalah yang sungguh-sungguh sulit berhadapan dengan serangga atau penyakit. Bahkan ketika tampaknya ada sesuatu yang keliru dan tanaman-tanaman pangan itu tampak akan segera hancur, alam tampak selalu memberikan suatu bentuk kemudahan kepada saya, pada akhirnya!
Tentu, saya melakukan kesalahan-kesalahan ... seperti halnya yang dilakukan oleh setiap orang petani. Namun, saya tak pernah sungguh-sungguh menganggapnya sebagai suatu kesalahan! Kembali ke permulaan, misalnya, ketika 70 persen luasan suatu lahan sudah jadi tak subur dan tak produktif dan 20 sampai 30 persen masih sangat produktif, saya memandang hasil panen saya yang terbatas toh sebagai suatu keberhasilan. Saya perhitungkan jika hanya sebagian kecil dari suatu lahan dapat menghasilkan, saya dapat mengatakan bahwa untuk sisa lahan selebihnya saya sudah berhasil membuatnya jadi produktif. Tetangga-tetangga saya tidak akan pernah puas dengan lahan seperti itu ... tetapi saya memandang “kesalahan” yang saya lakukan sebagai suatu petunjuk atau pelajaran. Satu di antara banyak penemuan yang saya lakukan pada tahun-tahun awal itu adalah bahwa supaya mencapai keberhasilan dalam bertani secara alami, Anda harus mampu mengendalikan harapan-harapan Anda sendiri. Harapan akan hasil yang muncul dalam pikiran itu seringkali tidak tepat atau tidak realistis ... dan dapat membawa Anda untuk mengira bahwa Anda telah membuat suatu kesalahan jika harapan itu tak terpenuhi.
PLOWBOY : Bagaimana dengan rumput-rumput liar dan gulma yang tumbuh persis di antara tanaman-tanaman pangan Anda itu? Apakah rerumputan itu tidak akan menjadi pada akhirnya tak bisa dikendalikan sama sekali?
FUKUOKA : Sebagai ganti menggantungkan diri pada herbisida atau budidaya dengan mesin-mesin untuk mengendalikan gulma, saya telah hampir selalu menggunakan tanaman-tanaman legum dan tumbuhan tutupan tanah yang lain untuk membatasi penyebaran tumbuhan-tumbuhan yang kurang membantu. Saya juga meletakkan jerami di atas lahan sebagai mulsa yang akan menekan pertumbuhan gulma dan akan membuat tanah mampu menahan kelembaban sehingga mau melembagakan benih-benih selama musim gugur yang kering.
PLOWBOY : Rasanya yang Anda jelaskan ini seperti suatu metode bertani yang membutuhkan porsi tenaga kerja sangat rendah dan sangat ideal. Tetapi bagaimana dengan hasil panen dari tanaman-tanaman pangan Anda? Benarkah hasilnya lebih baik daripada metode pertanian konvensional?
FUKUOKA : Pada permulaannya harapan-harapan dan keinginan saya tidaklah banyak ... dan nyatanya hasilnya memang tidak hebat juga! Tetapi setelah kondisi tanah menjadi mapan dalam perjalanan waktu dan lahan-lahan itu kembali ke keadaan alamiahnya, hasil tanaman saya terus bertambah secara tetap. Saya tak pernah mengalami suatu perubahan yang sangat mencolok, tetapi pada akhirnya saya temukan bahwa saya dapat menanam padi tanpa membajak atau menggenangi lahan selama musim panas, dan masih tetap menghasilkan sebanyak petani-petani lain yang menggunakan mesin-mesin dan bahan-bahan kimia ... bahkan kadang-kadang lebih banyak. Produksi saya sekarang sudah mapan, sekitar 1.300 pon (~590kg), atau 22 karung, untuk setiap seperempat akre (~1.000 meter persegi), baik untuk buliran-buliran musim dingin maupun untuk padi. Ini mendekati capaian yang tertinggi di Jepang!
BERSAMBUNG ke Mengenang Masanobu Fukuoka (8)
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/08/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-07
Mengenang Masanobu Fukuoka (6)
Sejauh proses penanaman berlangsung, secara gampang saja saya menyebarkan benih-benih gandum hitam dan jelai di atas lahan-lahan terpisah selama musim gugur ... Sementara itu padi pada saat itu masih tegak berdiri. Beberapa minggu kemudian saya menanen padi, dan kemudian saya sebarkan jeraminya kembali di atas lahan sebagai mulsa. Dua jenis tanaman bulir-buliran yang tumbuh di musim dingin biasanya dipanen sekitar tanggal 20 Mei .. tetapi sekitar dua minggu sebelum tanaman-tanaman itu sudah sepenuhnya jadi tua atau matang, saya menyebarkan benih padi persis di atas tanaman-tanaman tadi. Setelah gandum hitam dan jelai dipanen dan dipotong, saya sebarkan jeraminya kembali di atas lahan untuk melindungi benih-benih padi. Saya juga menanam tumbuhan semanggi dan rumput-rumputan di atas ladang yang sama. Tanaman-tanaman legum disebar di antara tanaman padi pada hari-hari awal musim gugur. Saya tak perlu merasa khawatir dengan adanya gulma .. rumput-rumputan itu cepat sekali tumbuh kembali!
![]() |
| From Pertanian Alami - Natural Farming |
Di atas lahan seluas satu seperempat akre seperti milik saya itu, satu atau dua orang dapat melakukan semua pekerjaan menanam padi dan bulir-buliran musim dingin hanya dalam beberapa hari saja, tanpa perlu menggenangi sawah selama seluruh musim ... tanpa menggunakan kompos, pupuk kimia, herbisida atau semua bahan kimia yang lain ... dan tanpa membajak satu sentimeter pun terhadap lahan itu! Rasanya tak ada cara yang lebih sederhana lagi untuk menanam bulir-buliran.
Sedang untuk jeruk, saya menanam beberapa varietas di sisi berbukit di dekat rumah saya. Seperti telah saya katakan, saya mengawali pertanian alami setelah perang hanya dengan satu petak tanah saja, tetapi secara bertahap saya mendapatkan luasan lahan tambahan dengan mengambil alih petak-petak lain yang berbatasan berupa lahan-lahan tidur dan kemudian menggarapnya dengan tangan saya sendiri. Pertama-tama saya harus mengondisikan kembali tanah liat merah dengan cara menanam tumbuhan semanggi sebagai tanaman penutup dan membiarkan rumput-rumputan tumbuh lagi. Saya juga menanam beberapa sayuran —seperti tanaman bit daikon Jepang— dan membiarkan predator-predator alamiah memakan hama berupa macam-macam serangga. Sebagai dampak dari tebalnya rerumputan dan tumbuhan semanggi, lapis permukaan dari lahan kebun telah berkembang menjadi gembur selama 30 tahun terakhir, warnanya hitam dan banyak cacing tanahnya dan berbagai kandungan organik. Di kebun saya itu sekarang sudah ada pinus dan pohon sedar, beberapa pohon buah pir, sejenis pohon buah kesemak, buah lokuat, kersen Jepang, dan berbagai varietas tanaman asli yang tumbuh di antara pohon-pohon jeruk. Saya juga punya pohon akasia yang memiliki kemampuan menangkap nitrogen, yang membantu memperkaya tanah di kedalaman bumi. Jadi dengan cara menanam pohon-pohon yang tinggi untuk menahan terpaan angin, lalu tananam-tananam jeruk di bagian bawahnya, dan hijau-hijauan serasah penutup tanah, saya temukan suatu cara pemeliharaan lahan secara mudah dan membiarkan kebun itu mengelola dirinya sendiri!
PLOWBOY : Bukankah Anda juga menanam sayur-sayuran di kebun dapur hidup?
FUKUOKA : Sebenarnya, saya menanam sayuran dengan cara setengah liar di antara rumput-rumputan di seluruh bagian bukit. Di kebun saya sendiri saya menanam burdok, kubis, wortel, sawi mustard, kacang-kacangan, lobak, dan banyak macam herbal dan sayuran lain. Tujuan dari metode budidaya ini adalah menumbuhkan tanaman-tanaman pangan sealamiah mungkin di atas tanah yang jika tidak akan jadi tak terurus. Jika Anda mencoba berkebun dengan menerapkan teknik-teknik peningkatan hasil, upaya Anda itu akan sering berakhir dengan kegagalan sebagai akibat dari kejangkitan hama atau penyakit. Tetapi jika berbagai jenis rerumputan herbal atau tanaman pangan lain dicampurkan dan ditumbuhkan di antara vegetasi alamiah, kerusakan karena hama akan jadi rendah. Anda tidak akan perlu menggunakan semprotan atau bahkan mengambil kutu-kutu itu dengan tangan.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/07/2009
2
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-06
Mengenang Masanobu Fukuoka (5)
![]() |
| Caption: Tanaman buah-buahan berdampingan dengan sayuran. Jangan sampai ada lahan yang terbuka dan tak terpakai. Kecuali untuk menjaga kelembaban tanah, sayuran dan rumput-rumputan menjamin ketersediaan kandungan sari makanan untuk tanah dan tanaman serta mengendalikan penyakit dan hama. Sumber: Pertanian Alami - Natural Farming |
Setelah mengamati proses alami itu, saya berpendapat bahwa rutinitas memindahkan bibit padi ke lahan atau menggenangi sawah adalah kegiatan yang sama sekali tidak alami. Saya juga berpendapat bahwa praktik-praktik yang selama ini sudah jadi kebiasaan seperti memberikan pupuk di sawah dengan kompos yang telah disiapkan terlebih dahulu, membajak sawah, dan menyiangi sampai bersih adalah kegiatan yang sama sekali tidak perlu. Semua penelitian saya sejak saat itu mengarah kepada prinsip tidak melakukan ini atau itu. Praktik pertanian yang telah saya jalani selama 30 tahun ini mengajarkan pada saya bahwa lebih baik jika para petani itu tidak melakukan apa-apa sama sekali!
Orang sering berpikir, dengan kesombongan dan kebodohan mereka, bahwa alam membutuhkan bantuan mereka agar bisa berkembang. Padahal, yah, yang benar adalah bahwa alam sesungguhnya (dapat) melakukan semuanya itu jauh lebih baik tanpa “bantuan” dari manusia! Jika lahan sudah jadi sehat dan mampu bekerja sendiri, pertanian alami —atau “tanpa campur tangan manusia”— menjadi suatu kemungkinan yang nyata. Namun, seperti tampak jelas dari percobaan di kebun jeruk saya, kondisi (kesuburan) semacam itu tidak akan bisa tercapai begitu saja. Di Jepang and negeri-negeri pertanian yang lain, lahan-lahan itu telah dibajak-bajak dengan mesin-mesin selama berpuluh-puluh dekade .. dan sebelumnya juga sudah diputarbalik oleh sapi, kerbau dan kuda. Di lahan-lahan seperti itu, Anda tidak akan mencapai hasil yang bagus pada permulaannya, jika Anda begitu saja menghentikan kegiatan bertani dan kemudian tak melakukan apa-apa saja sekali (do-nothing agriculture). Lahan tanah haruslah pertama-tama diberi kemungkinan untuk memulihkan dirinya sendiri. Kesuburan kemudian dapat dipertahankan dengan cara menutup permukaan lahan dengan berbagai bahan organik dan (terutama) jerami yang semuanya akan membusuk ke dalam lahan.
PLOWBOY : Untuk orang-orang yang mungkin tak akrab dengan buku Anda, Revolusi Sebatang Jerami, bisakah Anda meringkas praktik-praktik dasar yang Anda kembangkan dalam sistem penanam secara alami untuk menumbuhkan bulir-buliran, sayuran dan jeruk.
FUKUOKA : Pertama-tama, saya menerapkan empat prinsip pokok. Pertama, JANGAN MEMBAJAK ... maksudnya, jangan membalik atau membongkar tanah. Sebaliknya, saya membiarkan bumi membudidayakan dirinya sendiri dengan cara membiarkan masuknya akar-akar tumbuhan ke dalam tanah dan dengan cara membiarkan kegiatan menggali yang dilakukan oleh mikroorganisme, cacing tanah, dan semua binatang kecil dalam tanah.
Prinsip kedua adalah JANGAN MENGGUNAKAN PUPUK KIMIA ATAU PUN KOMPOS YANG DISIAPKAN TERLEBIH DAHULU. Saya temukan bahwa Anda sebenarnya dapat menghabiskan sari-sari makanan tumbuhan dari dalam tanah dengan cara menggunakan kompos secara sembarangan! Biarkan saja, bumi menjaga kesuburannya sendiri, sesuai dengan siklus keteraturan antara tumbuhan dan kehidupan binatang, (antara flora dan fauna).
Petunjuk ketiga adalah JANGAN MENYIANGI, baik dengan cara melakukan budidaya tanaman tertentu atau dengan pembasmi rumput-rumputan. Gulma memiliki bagian peranan penting dalam membangun kesuburan tanah dan menjaga keseimbangan komunitas biologis .. Maka saya melakukan praktik mengendalikan —daripada memusnahkan— gulma di ladang saya. Jerami sebagai tutupan tanah, atau tumbuhan semanggi ditanam berselang-seling dengan tanaman pangan, dan penggenangan secara sementara semuanya memberikan kemungkinan pengendalian gulma secara efektif di ladang saya.
Prinsip terakhir dari pertanian alami adalah JANGAN MENGGUNAKAN PESTISIDA. Seperti telah saya tekankan sebelumnya, alam berada dalam keseimbangan sempurna jika sama sekali kita biarkan. Tentu, serangga-serangga dan penyakit-penyakit yang merugikan akan selalu ada, tetapi umumnya tidak sampai ke suatu tingkat seperti yang terjadi jika diterapkan bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan untuk mengendalikan hama. Satu-satunya pendekatan yang paling masuk akal dan berpegang pada semangat kepedulian (sensible) terhadap pengendalian hama dan penyakit, saya kira adalah dengan cara menanam tanaman-tanaman pangan yang kuat di suatu lingkungan yang sehat.
BERSAMBUNG
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/06/2009
0
komentar
Kategori ekonomi, gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami
2009-02-05
Mengenang Masanobu Fukuoka (4)

PLOWBOY: Dan apakah Anda terus bertani sejak saat itu?
FUKUOKA: Ya, nyaris terus-menerus. Selama Perang Dunia Kedua saya dikirim untuk bekerja di Pusat Percobaan Pertanian di Kochi, di mana saya terpaksa terperosok lagi ke dalam pelatihan-pelatihan ilmiah. Tetapi setelah perang berakhir, saya senang sekali bisa kembali ke gunung dan kembali hidup jadi petani.
PLOWBOY: Mulai berapa luas lahan yang Anda garap?
FUKUOKA : Setelah perang diselenggarakan pembaruan agraria secara masif di Jepang —yang disebut dengan Nochi-kaiho. Pemilik tanah seperti ayah saya harus melepaskan kepemilikan tanahnya. Ayah saya meninggal tak lama kemudian, dan saya diwarisi sepetak kecil sawah sekitar seperempat akre ukurannya (kira-kira 1.000 meter persegi).
dibayangkan oleh Fukuoka ..
Lokasi taman National Olympic Park ini disebutnya
dalam salah satu wawancara dengannya.
Bukankah kita juga punya banyak hutan hujan tropis?
Tapi siapa yang sungguh bisa dipercaya menjaganya?
Bisakah kita juga menanam padi di lingkungan semacam itu?
Bukankah konflik rakyat dan BKSDA sporadis terjadi di mana-mana?
PLOWBOY : Apakah Anda langsung mulai mempraktikkan pertanian alami?
FUKUOKA : Saya telah mulai melakukan eksperimen di beberapa kebun jeruk mandarin ayah saya bahkan sebelum perang. Saya yakin bahwa —supaya alam bekerja sesuai dengan keinginannya— pohon-pohon seharusnya tumbuh sepenuhnya tanpa campur tangan saya, maka saya tidak menyemprotkan apa-apa atau memangkasnya atau memberinya pupuk ... Saya tidak melakukan apa-apa. Dan, tentunya, sebagian besar dari kebun itu lalu rusak karena dimakan serangga atau kena penyakit.
Masalahnya, Anda tahu kan, adalah bahwa karena saya tidak mempraktikkan pertanian alami, tapi yang saya praktikkan barangkali adalah apa yang bisa disebut dengan “bertani secara malas”. Saya sama sekali tak terlibat. Saya biarkan seluruh pekerjaan kepada alam dan sekaligus berharap bahwa semuanya akan jadi baik pada akhirnya. Tetapi saya keliru. Pohon-pohon muda itu sebenarnya telah sebelumnya dijinakkan, ditanam, dipangkas dan diurus oleh manusia. Pohon-pohon itu telah menjadi budak-budak manusia, sehingga mereka tidak dapat survive ketika dukungan buatan tiba-tiba tidak lagi diberikan oleh petani.
PLOWBOY : Jadi jika hendak bertani secara alami, itu tak berarti bahwa petani tidak melakukan apa-apa? (do-nothing technique)
FUKUOKA : Tentu bukan, pertanian alami melibatkan suatu proses yang mengarahkan pikiran Anda mendekat dan segaris dengan haluan alamiah dari fungsi-fungsi lingkungan. Tetapi Anda harus hati-hati: Metode ini tidak berarti bahwa kita tiba-tiba membuang begitu saja pengetahuan ilmiah tentang hortikultur yang telah kita miliki. Tindakan itu adalah pembiaran tanpa tanggung jawab sama sekali, karena melalaikan siklus ketergantungan yang telah dipaksakan oleh manusia terhadap ekosistem yang telah berubah. Jika seorang petani membiarkan lahannya atau lahan yang telah ‘dijinakkan’-nya itu secara tidak bertanggung jawab dengan begitu saja menyerahkannya kepada alam, maka kekeliruan dan kehancuran tak akan dapat dihindarkan.
Cara yang benar dalam bertani secara alami menuntut seseorang untuk mengetahui apa itu yang disebut dengan ‘alam yang asali’ atau belum diubah atau disentuh manusia, sehingga dia dapat memahami dengan nalurinya apa yang perlu dilakukan —dan apa yang wajib dilakukan—, bagaimana caranya bekerja dalam keselarasan bersama dengan proses-prosesnya.
PLOWBOY : Sikap itu tentunya menyangkal pendasaran dari pertanian modern yang bekerja dengan cara “memanipulasi dan mengendalikan”. Bagaimana Anda dapat berubah dari praktik pertanian tradisional menuju suatu konsep pertanian yang sama sekali tak biasa?
FUKUOKA : Sewaktu masih muda, saya telah melihat semua petani di desa menanam padi dengan cara memindahkan benih dari tempat persemaian ke sawah yang telah digenangi air .. tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa itu bukanlah cara bagaimana padi itu tumbuh dari kodrat dirinya sendiri! Maka saya kesampingkan pengetahuan saya tentang metode pertanian tradisional dan langsung saja saya lihat siklus alamiah dari tumbuhan padi. Dalam kondisi liar, padi menua pada musim panas. Selama musim gugur daun-daunnya rontok, dan tumbuhan padi merunduk untuk menjatuhkan benih-benihnya ke bumi. Setelah salju meleleh selama musim semi, benih-benih itu mulai melembaga, dan siklusnya berputar lagi. Dengan kata lain, bijih padi jatuh di tanah yang tidak dibajak, melembaga, dan tumbuh dengan dayanya sendiri.
Sumber foto: grandcanyon.free.fr
BERSAMBUNG
Posting sebelumnya: Mengenang Masanobu Fukuoka (3)
Diunggah oleh
Sekolah Petani
pada
2/05/2009
0
komentar
Kategori gerakan-sosial, keberanian, pertanian, pertanian alami

















